![Inu Kencana Syafei dosen IPDN [Pembaruan/Adi Marsiela]](12inuadi.gif)
Siapa yang tidak mengenal nama Inu Kencana Syafei? Wajah dosen Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, ini mendominasi tayangan berita di televisi terkait kasus tewasnya praja Cliff Muntu.
Besarnya perhatian media terhadap Inu, tidak lain disebabkan keberaniannya mengungkapkan tindakan kekerasan yang terjadi di IPDN sejak tahun 1993 hingga Cliff meninggal. "Ancaman terbesar kematian, tapi tidak apa-apa," ungkap suami Indah Prasetya ini ketika ditanya hal apa yang mungkin dihadapinya dari tindakannya berbicara kepada media.
Pria kelahiran Papua, 55 tahun silam ini mengungkapkan keberaniannya tersebut didasari fakta yang ada. Dia juga mengaku hanya takut akan Tuhan, apabila kebenaran yang seharusnya diungkapkan malah ditutupi. "Saya tidak takut sama siapa pun, kecuali Tuhan. Itu modal saya dalam hidup," papar dia.
Modal lain dalam mengungkapkan berbagai kasus itu, tambahnya, didapat dari dukungan istri dan anak-anaknya. Inu mengatakan, istri dan tiga anaknya sudah pasrah bila harus menjadi janda dan anak yatim. "Apa boleh buat. Saya bilang agar mereka banyak-banyak doa saja. Anak saya malah bilang agar saya terus mengejar kebenaran".
Dalam kesehariannya, Inu yang sudah menjalani profesi sebagai pegawai negeri sipil selama 27 tahun ini juga sering menulis buku. Tidak kurang sudah 42 buku lahir dari buah pemikirannya. Selain menulis, pria yang gemar bercanda ini mengaku hobi mengajar.
Kegemarannya akan mengajar terpancar dari wajahnya saat dia memegang surat pemberitahuan dari Pembantu Rektor I Bidang Akademik IPDN, Prof Tjahya Supriatna yang menyatakan bahwa dia diperbolehkan menjalani perkuliahan lagi seusai menjalani pemeriksaan tim investigasi Departemen Dalam Negeri, Selasa (10/4).
"Besok, saya sudah mengajar lagi. Saya suka mengajar. Saya hobi mengajar," kata dia.
Inu sendiri besar di berbagai daerah. Dia menyelesaikan Sekolah Dasar (SD) Negeri di Payakumbuh, Padang, Sumatera Barat, kemudian masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri III, Jakarta, dan lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri I Pangkalan Brandan, di Medan, Sumatra Utara
Ia sendiri merupakan lulusan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) di Jayapura, Irian Jaya tahun 1980. Gelar sarjananya, ia selesaikan di Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) Jakarta.
Selesai mengeyam bangku kuliah, Inu dipercaya untuk menjabat Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Merauke, Provinsi Irian Jaya. Di sana dia bertugas selama dua tahun, sebelum akhirnya menjadi camat di provinsi yang sama.
Anak bungsu dari 12 bersaudara ini sebenarnya sempat menjalani kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta. Hanya saja, kendala dana menyebabkan dia berhenti dan pindah ke IIP.
Anak dari pasangan almarhum Abdullah Syafii (mantan Bupati Bengkalis, Riau dan almarhumah Zaidar Syafii (mantan guru sekolah keputrian raja-raja Siak pada masa kolonial) ini baru menjadi dosen di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) saat APDN dilebur oleh Menteri Dalam Negeri, ketika itu masih dijabat Rudini.
"Saya diinterogasi Bapak Rudini tahun 1990, akhirnya diangkat jadi dosen ilmu pemerintahan sampai sekarang," kenang lulusan program magister di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini mengingat awal kariernya di IPDN.
Terkait dengan berbagai kekerasan yang ditemukannya, Inu pun memutuskan untuk memasukkan data itu sebagai tesisnya untuk menyelesaikan program doktor di Universitas Padjadjaran, Bandung.
Berbagai data yang dimilikinya itu disusun dalam laporan ilmiahnya yang berjudul "Pengaruh Kinerja STPDN (IPDN) ter-hadap sikap masyarakat.di Sumedang".
"Nanti wartawan saya undang kalau saya lulus. Doakan saja bisa lulus, soalnya sudah dari tahun 2004 sampai sekarang," kata dia sembari memperbaiki letak kacamata yang melorot di hidungnya. [Pembaruan/Adi Marsiela]