
[SUMEDANG] Almarhum mahasiswa madya praja (tingkat II) Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Cliff Muntu meninggal akibat pendarahan pada organ dalam tubuhnya. Berdasarkan hasil autopsi tim forensik Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, pada bagian dada dan perut Cliff terdapat luka bekas suntikan cairan formalin.
"Jadi, Cliff tewas bukan karena penyakit lever," tegas Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Barat (Jabar), Soenarko Danu Ardanto di Mapolres Sumedang, Rabu (11/4).
Pendarahan pada organ jantung, paru-paru, limpa, hati, ginjal, otak, buah pelir, dan dada praja asal Sulawesi Utara itu berasal dari benturan benda tumpul di bagian dada dan perutnya. Soenarko sendiri membeberkan hal tersebut sembari memperlihatkan tujuh lembar halaman hasil autopsi.
Laporan itu juga menyebutkan pada lever Cliff tidak ditemukan tanda-tanda infeksi virus dan sisa-sisa narkoba. Sehingga bisa disimpulkan bahwa Cliff meninggal bukan karena penyakit lever.
Sebelum membeberkan hal tersebut pada wartawan, Soenarko mengaku dirinya sempat mengontak ketua tim dokter forensik RSHS dr Noorman Eriyadi. Hal ini untuk mempertegas laporan yang sudah diterimanya. "Korban mengalami bendungan pembuluh darah dan pendarahan luas di jantung, paru-paru, limpa, hati, ginjal," kata dia.
Selain bendungan pembuluh darah, pada bagian otak Cliff ditemukan juga pendarahan luas dan terdapat jaringan ikat yang sembab. Hal yang sama terdeteksi pada buah pelir dan kulit dadanya. Keterangan itu, menjelaskan mengapa terdapat memar pada bagian jantung, buah pelir, dan kulit dada. Pendarahan juga terlihat pada kelopak mata, permukaan jantung dan paru-paru. Kuku dan bibir (Cliff) berwarna biru.
Luka pada bagian dada dan perut Cliff yang mengindikasikan adanya upaya penyuntikan cairan formalin. "Ditemukan luka pada dinding dada dan perut serta alat dalam yang pucat akibat larutan formalin. Di bagian dada dua luka sebesar ujung jarum. Di bagian perut ada tiga yang teridentifikasi untuk memasukan cairan formalin," katanya.
Kasus kekerasan yang berakhir dengan tewasnya Cliff ini dipastikan bakal diusut tuntas. Kapolda membentuk tiga tim terpisah yang bekerja dan berkoordinasi di bawah pimpinan Kapolwil Priangan, Kombes Zaenal Fatah.
Tim I dipimpin Kasatreskrim Polres Sumedang, AKP Hotben Gultom difokuskan untuk menuntaskan tindakan penganiayaan yang dilakukan oknum praja. Polisi sudah menetapkan tujuh tersangka. Polisi sudah memeriksa 17 orang, 11 orang di antaranya praja, tiga orang pengasuh, dokter jaga dr Beni Benardi dan petugas pemulasaran jenazah RS Al Islam, serta petugas klinik IPDN.
Tim II dipimpin Kanit I Satops Ditreskrim Polda Jabar, Kompol Slamet Uliandi. Tugasnya, mengembangkan pemeriksaan terhadap proses jenazah dari IPDN ke Rumah Sakit Al-Islam hingga pelaksanaan outopsi. "Tim ini mendalami kegiatan yang tak sesuai dengan aturan, termasuk memeriksa suntikan formalin. Kalau ada indikasi untuk mengelabui polisi, kami tidak segan-segan menindak pelakunya," katanya.
Tim terakhir di bawah Kanit IV Ditreskrim Polda Jabar, Kompol Roy Hardi bertugas mengorek keterangan dari berbagai pihak, termasuk menggali kembali berbagai kasus dan modus serupa yang terjadi sampai Cliff tewas. "Ini agar kasusnya tidak ter- ulang kembali," tandasnya.
Mengecam
Sementara itu, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Piet Alexander Tallo mengecam keras adanya tindak kekerasan di IPDN yang mengakibatkan tewasnya Cliff . Berbicara khusus kepada Pembaruan di Kupang, Kamis (12/4) pagi, Piet meminta perlunya pembenahan menyeluruh dalam sistem pendidikan dan manajemen IPDN.
Dikatakan, siapa pun pasti sangat menyayangkan dan dengan berat hati harus menerima kenyataan adanya kekerasan yang sudah mengakar di lembaga pendidikan tersebut. IPDN sudah keluar dari ide dasar pembentukannya untuk menghasilkan pamong praja yang berwawasan nasional, bukan pamong praja yang bermental preman.
Kesepakatan pembentukan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) yang kemudian diubah menjadi IPDN, antara lain untuk menciptakan aparatur pemerintahan yang bersih dan berwibawa. [153/120/BO/148/143]