SUARA PEMBARUAN DAILY

Ketika Presiden Yudhoyono Gerah Soal IPDN

KEMATIAN Cliff Muntu, seorang praja di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) bukan hanya membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono prihatin dan menyesal. Lebih dari itu. Presiden gerah dan tampak benar rasa penasarannya. Kalau boleh membaca salah satu yang ada di benak Presiden Yudhoyono kemungkinan adalah, "Akademi militer saja tidak begitu."

Pikiran ini senada dengan pernyataan Ketua Dewan Perwakilan Daerah Ginandjar Kartasasmita, akhir pekan lalu, "Bahkan di akademi militer pun belum pernah ada kejadian, kadet mati di tangan seniornya." Tidak mengherankan kalau sehari setelah memanggil Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi dan jajarannya, Selasa (10/4) Presiden kembali "berurusan" dengan lembaga serupa di negeri ini.

Kemarin, secara khusus Presiden mengundang Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto, Kapolri Jenderal Pol Sutanto, Gubernur Akmil Mayjen Sriyanto, Gubernur AAL Mayjen Mar Agung Widjajadi yang juga mantan Dan Paspampres, Gubernur AAU Marsda Erry Biatmoko, Gubernur Akpol dan Kepala Sekolah SMA Taruna Nusantara Brigjen Purn Djuwari Sarmiyanto. Turut hadir dalam pertemuan tersebut Menko Polhukam/Mendagri ad interim Widodo AS, Menhan Juwono Sudarsono, dan masing-masing satu siswa dari AAL, AAU, Akmil dan dua siswa/siswi dari Akpol.

Kepada wartawan Panglima TNI membenarkan, Gubernur AAL, AAU dan Akmil serta Akpol diundang Presiden terkait dengan tindak kekerasan di IPDN yang membuat Cliff Muntu tewas sia-sia. Presiden mengingatkan kembali pada para gubernur akademi ketiga angkatan untuk tidak lagi menggunakan tindakan fisik dalam mendidik para taruna.

Presiden meminta kepastian bahwa dalam mendidik taruna yang nota bene militer dihindari kontak atau tindakan fisik. Presiden juga meminta dilakukannya evaluasi terhadap metode-metode latihan atau aturan-aturan yang masih mengedepankan kontak fisik.

Djoko Suyanto mengemukakan, selama ini kontak fisik di akademi militer dan polisi sudah tidak dilakukan lagi. Kontak fisik diganti dengan pembinaan fisik. Djoko Suyanto memastikan, dalam mendidik taruna AAL, AAU, Akmil dan juga Akpol tidak pernah mengedepankan kekerasan, meskipun para taruna ini nantinya harus siap tempur sebagai prajurit. Dikatakannya, latihan keras, spartan dan disiplin tinggi tidak identik dengan kekerasan. Banyak sekali metode yang bisa dipakai, yang jelas tidak ada kontak fisik," kata Djoko.

Ditanya wartawan soal disiplin militer yang diterapkan di IPDN, Djoko menyebut hal itu sebagai kekeliruan. "Itu bukan cara-cara pendidikan militer. Sekali lagi itu bukan cara-cara pendidikan militer. Jadi perlu saya klarifikasi, seolah-olah pendidikan militer seperti apa yang ditayangkan oleh mahasiswa IPDN. Saya kira itu salah besar. Kalau di sana itu disebut pendidikan militer itu salah kaprah," kata Djoko.

Djoko juga menyatakan, bisa saja yang dilakukan di IPDN adalah meniru apa yang dilakukan militer. "Tetapi militer bukan seperti itu. Mereka mengadopsi bahwa itu cara militer, tetapi militer tidak seperti itu. Tidak ada cara militer memukul seperti itu. Saya kan lulusan akademi militer. Jadi tidak seperti itu," katanya. Djoko juga menyebutkan, mendidik disiplin, patuh, dan taat, tidak harus seperti itu. Nah lo! [Pembaruan/YW Nugroho]


Last modified: 12/4/07