![Alain Juillet [Pembaruan/Elly B Faizal]](12alainj.gif)
[JAKARTA] Dengan potensi besar yang dimiliki baik dalam jumlah penduduk maupun kekayaan alam, Indonesia akan mampu menjadi salah satu pusat ekonomi dan perdagangan internasional.
Perkiraan itu disampaikan oleh Penasihat Presiden Prancis untuk Economic Intelligence, Alain Juillet, dalam seminar "Mengantar Indonesia Menjadi Negara 5 Besar Kekuatan Ekonomi Dunia Pada Tahun 2025 dengan Competitive Intelligence", Rabu (11/4).
"Sumber daya alam, jumlah penduduk yang besar, serta segala kualitas lain yang dimiliki, Indonesia berpotensi menjadi negara kunci di bidang ekonomi dan perdagangan di masa depan," ungkapnya.
Alain mengatakan, meski sempat dihantam krisis perekonomian yang sangat parah, secara perlahan Indonesia dapat bangkit dari krisis. Masalah yang kini masih dihadapi adalah bagaimana menarik minat investor asing. Untuk itu dibutuhkan promosi untuk menarik minat asing tersebut. "Faktor yang tidak kalah penting adalah promosi," tambahnya.
Ia tidak melihat kendala nyata dalam upaya menarik investasi asing datang ke Indonesia, entah dalam kondisi perburuhan, UU Investasi, kepastian hukum, atau beberapa hal yang selama ini dianggap kendala.
Alain berpendapat, perlu kepercayaan diri untuk menarik minat investor. "Jika investor asing masih enggan, harus ditanyakan langsung kenapa mereka tidak mau datang. Di sinilah kecerdasan kompetitif diperlukan," kata Alain yang juga penanggung jawab tertinggi program Competitive Intelligence di Prancis.
Seminar juga dihadiri oleh Wakil Dutabesar Prancis di Indonesia Jean Yves Roux, Penasihat Presiden RI TB Silalahi, Ketua Indonesia Institute for Competitive Intelligence (IICI) Sri Damayanti Manullang, Direktur French National Research Center (CNRS) Jackie Kister, serta Direktur French Business School Pierce Larrat.
Di sejumlah negara maju khususnya AS dan di Eropa Utara, sejak 1980an telah dikembangkan konsep bernama kecerdasan kompetitif. Konsep kecerdasan kompetitif itu sendiri berangkat dari pemahaman tentang kebutuhan informasi untuk menghasilkan keputusan- keputusan terbaik bagi pengembangan sebuah perusahaan.
Alain Juillet menegaskan, bahwa dampak globalisasi terhadap pembangunan regional dan nasional sedemikian kuatnya, sehingga banyak negara membangun program kecerdasan kompetitif berskala nasional untuk memasok data latar belakang sehingga bisa dilakukan pengembangan yang lebih baik dan kuat antara industri, pusat riset baik pemerintah maupun swasta, institusi pendidikan, serta birokrasi di pemerintahan.
Kemampuan Tinggi
Sementara itu, TB Silalahi berpendapat kondisi dunia yang semakin kompetitif, menuntut kemampuan kita mengolah sumber daya alam secara strategis untuk menciptakan kemakmuran.
Caranya adalah dengan mendorong hubungan kohesif antara kalangan industri, pusat riset, serta institusi-institusi pemerintah baik di tingkat regional maupun nasional. Ia mengatakan, dunia baru kini ditandai dengan kompetisi ide dan sistem yang diharapkan dapat berujung pada redanya ketegangan dan segera terwujudnya perdamaian. Negara-negara berkembang seperti Indonesia seharusnya dapat merespons secara cepat kebutuhan ini.
Diungkapkan, tatanan dunia baru kini membutuhkan keamanan nasional yang lebih terkait pada ketahanan ekonomi atau soft power dan vitalitas, ketimbang kemampuan militer atau hard power. "Hard power seperti pengerahan kekuatan militer kini sudah tidak jadi tren lagi," ungkap TB Silalahi. [E-9]