
Seorang anak Timor Leste menyalakan lilin dalam rangka kampanye pemilihan umum damai di Dili, Rabu (11/4). Pemilihan presiden Timor Leste perlu dilanjutkan ke putaran kedua karena dua kandidat utama tidak memperoleh suara di atas 50 persen. [AP/Binsar Bakkara]
[DILI] Lima calon presiden dalam pemilihan presiden (pilpres) Timor Leste menolak hasil penghitungan sementara Komisi Pemilihan Umum (CNE/Comissao Nacional de Eleiqoes). Mereka menilai terjadi manipulasi data yang dilakukan oleh pendukung salah satu capres.
Wartawan Pembaruan Alex Madji melaporkan dari Dili, Kamis (12/4), lima capres yang protes itu adalah Fernando Lasama de Araujo, Francisco Xavier do Amaral, Lucia Maria Brandao Freitas Lobato, Manuel Tilman, dan Avelino Maria Coelho da Silva.
Menurut mereka, telah terjadi manipulasi data, intimidasi yang dilakukan oleh anggota Fretelin, dan kecurangan yang dilakukan oleh pemerintah selama proses pemilihan. Untuk itu, mereka meminta agar CNE segera menghentikan proses penghitungan.
"Kami berada di sini, untuk menegakkan demokrasi di negeri ini. Kami ikut pemilu untuk keadilan," ujar Avelino.
Fernando Lasama de Araujo menambahkan, pemilu yang diwarnai intimidasi, kecurangan, dan manipulasi data akan menghasilkan seorang presiden yang tidak mendapatkan legitimasi. Kondisi seperti itu, kata dia, sangat berbahaya bagi kelanjutan Timor Leste sebagai suatu negara baru dan mandiri.
Menurut dia, capres dari Fretelin, yaitu Francisco "Lu Olo" Guterres terbukti tidak mampu memimpin Timor Leste. Sebab, kata dia, selama Lu Olo menjadi Presiden Parlemen tidak membuat lembaga bekerja sesuai fungsinya.
Para capres itu juga memprotes beredarnya sebuah dokumen di Dili yang menyebutkan kalau total suara di Dili tidak sesuai dengan data jumlah pemilih. Data pemilih dalam surat berkop CNE dan STAE itu berjumlah 65.791 suara sedangkan jumlah suara akhir yang terhitung sebanyak 65.154 atau ada selisih 637 suara. Surat itu membuktikan ada manipulasi dalam penghitungan suara.
Menanggapi protes itu, Juru Bicara CNE Pastor Martinho Germano da Silva Gusmao mengatakan, lembaga tersebut tetap melaksanakan tugas dengan semestinya walau ada keberatan dari capres terhadap penghitungan mereka. Dikatakan, para capres bisa mengajukan keberatan itu melalui jalur yang sudah diatur undang-undang.
"Keberatan dan komplain ada proses tersendiri dan akan diputuskan oleh Pengadilan Tinggi. Silakan dibawa ke sana," ujarnya.
Sementara itu, Lu Olo dan Jose Ramos Horta hampir dipastikan masuk pada putaran kedua pilpres Timor Leste. Setelah hampir 70 persen suara yang dihitung CNE, atau 357.766 suara dari total pemilih sebanyak 522.933 orang, Lu Olo meraih 103.013 suara atau 28,79 persen dan Horta memperoleh 80.851 suara atau 22,60 persen.
Martinho menjelaskan, penghitungan pada tingkat distrik sudah selesai dilakukan pada Rabu (11/4) pukul 13.00 waktu setempat. Mulai hari ini, tabulasi dilakukan pada tingkat nasional.
Suara yang diraih Lu Olo terdongkrak dengan perolehan suara signifikan di Distrik Baucau. Di tempat itu, Lu Olo yang juga Presiden Parlemen Timor Leste meraih 30.563 suara sedangkan Horta mendapat 13.12 suara. Di Lautem, Lu Olo juga menang dengan 8.043 suara, sedangkan Horta hanya mendapat 4.241 suara.
Secara keseluruhan, untuk sementara Lu akhirnya menang di empat distrik, yaitu Baucau, Covalima, Lautem, dan Viqueque. Sedangkan Horta menang di tiga distrik yaitu Dili, Liquica, dan Manatuto.
Fernando Lasama de Araujo menempati posisi ketiga dengan total perolehan 66.261 suara atau 18,52 persen. Dia menang di dua distrik yaitu Ermera dan Oekusi. Sedangkan Francisco Xavier Do Amaral di urutan empat dengan total perolehan suara 45.854 suara atau 12,82 persen. Sedangkan perolehan suara calon-calon lain di bawah 5 persen.