SUARA PEMBARUAN DAILY

Penasihat Presiden dan Pemilu 2009

Benni Setiawan

Di tengah popularitas yang semakin menurun, melalui UU Nomor 19 Tahun 2006, akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membentuk Dewan Pertimbangan Presiden (DPP). Mereka adalah Ali Alatas, Sjahrir, Rachmawati Soekarnoputri, TB Silalahi, Emil Salim, Adnan Buyung Nasution, Subur Budhisantoso, KH Ma'ruf Amin, dan Radi A Ganya. Sembilan tokoh tersebut akan memperkuat formasi orang di sekeliling Presiden.

Sebelum ada DPP, Presiden SBY sudah mempunyai tujuh Staf Khusus dan tiga Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program Reformasi (UKP3R). Tujuh Staf Khusus Presiden adalah Dino Patti Djalal (Juru Bicara Masalah Luar Negeri); Andi Mallarangeng (Juru Bicara Masalah Dalam Negeri); Sardan Marbun (Bidang Layanan Pesan Singkat SMS/ PO BOX); Irvan Edison (Bidang Pertahanan); Yenny Yanubba Wahid (Bidang Komunikasi Politik); Heru Lelono (Bidang Otonomi Daerah); dan Kurdi Mustafa (Sekretaris Pribadi). Tiga orang UKP3R adalah Marsillam Simanjuntak, Agus Widjojo, dan Edwin Gerungan. Lengkap sudah formasi 7-3-9 Presiden SBY.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa SBY memilih banyak orang di sekelilingnya? Apakah ini sebagai langkah SBY mempersiapkan Pemilu 2009 yang tinggal dua setengan tahun lagi terhitung 21 April 2007? Pemilihan orang- orang di sekitar SBY tentunya tidak lepas dari keinginan Presiden untuk meningkatkan kinerjanya. Kinerja membangun bangsa yang sedang dilanda berbagai musibah dan krisis multidimensional yang tak kunjung usai.

Terpilihnya orang-orang di sekitar SBY tentunya berdasarkan hitungan matang oleh Si Empunya penasihat. SBY tentunya sudah banyak berhitungan bagaimana sekarang ia bekerja, bukan hanya untuk rakyat melainkan untuk menyelamatkan kursi presiden di Pemilu 2009. Dalam pemilihan staf khusus misalnya, di sana ada Dino Patti Djalal, ia adalah seorang mantan Direktur Amerika Tengah dan Amerika Utara Departemen Luar Negeri.

Andi Mallarangeng, adalah putra Sulawesi Selatan sebagai basis Partai Golkar, dan tempat dibesarkannya M Jusuf Kalla. Hadirnya Andi di dekat SBY diharapkan mampu membangun sinergi dan sebagai penyelaras "bahasa kaum". Artinya, Andi diharapkan mampu membangun jaringan dengan tokoh-tokoh Golkar di Sulawesi agar tidak ada kesalahpahaman antara SBY-MJK.

Yenny Wahid adalah anak seorang tokoh besar NU dan PKB. Dipilihnya Yenny sebagai staf bidang komunikasi politik sangatlah tepat. Yenny diharapkan mampu membangun relasi yang baik antara SBY, NU, dan PKB.

Citra Positif

Demikian pula dengan anggota DPP. Sebut saja Ali Alatas, mantan Menteri Luar Negeri di Era Soeharto ini sangat paham akan kondisi dan situasi bangsa dan citra bangsa di luar negeri. Ali Alatas tentunya juga banyak belajar dari "Politik Mercusuar" Soeharto. Ia akan bekerja dengan sekuat tenaga untuk membangun citra positif di luar negeri. Dan ini yang mungkin diharapkan oleh Presiden SBY. Orang yang mampu memahami geopolitik dalam dan luar negeri yang erat hubungannya dengan masalah bilateral dan multirateral.

Sjahrir, adalah seorang ekonom, mantan aktivis mahasiswa, Ketua Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB). Sebagai ekonom ia mampu mengimbangi atau bahkan menangkal serangan dari pengkritik kebijakan ekonomi SBY. Rachmawati Soekarnoputri, ia adalah seorang anak Proklamator RI, Bung Karno. Ia pun sering mengklaim dirinya sebagai pewaris pemikiran Soekarno. Ia juga sebagai Ketua Partai Pelopor, dan sebagai orang dekat Megawati Soekarnoputri.

Rachmawati sengaja dipasang untuk menjembatani komunikasi politik SBY dengan keluarga Bung Karno terutama Megawati. Sebagaimana kita ketahui bersama, selama ini hubungan antara SBY dan Mega agak kurang baik. Mega seringkali mengeluarkan kritik terhadap pemerintahan sekarang, yang konon hanya tebar pesona. Walaupun pada akhirnya, SBY juga membalas kritik tersebut dengan "siapa yang benar-benar bekerja untuk rakyat".

Email Salim, sebagaimana kita ketahui bersama juga mantan menteri di era Soeharto. Ia dikenal sebagi ahli lingkungan hidup yang sering menyerukan agar bangsa Indonesia menyelamatkan hutan. Mantan Menteri Lingkungan hidup ini tentu sangat paham soal pembalakan liar akhir-akhir.

Tentunya SBY berharap banyak terhadap beliau. Email Salim diharapkan mampu memberi sarana guna menyelamatkan hutan Indonesia yang sudah rusak parah.

Adnan Buyung Nasution, siapa yang tidak kenal dengan tokoh yang satu ini. Pakar hukum dengan ciri rambut putih ini sangat disegani oleh banyak jaksa, hakim, dan pengacara. Dewan Penyantun Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) ini adalah pakar hukum yang cermat dalam memandang persoalan hukum. Adnan Buyung diharapkan mampu mengembalikan citra hukum indonesia yang sudah "bopeng". KH Ma'ruf Amin, tokoh ulama ini adalah pilihan SBY untuk menjadi penasihat.

Selanjutnya adalah Subur Budhisantoso, mantan Ketua Umum Partai Demokrat, partai yang mampu mengusung SBY menduduki kursi Presiden RI. Subur adalah orang dekat SBY. Diharapkan dengan adanya Subur, komunikasi antara SBY dengan partai Demokrat menjadi lancar. Dan ini juga menunjukkan balas budi SBY kepada Subur Budhisantoso. Dengan terpilihnya orang-orang di sekitar SBY tersebut, diharapkan mampu mengokohkan posisi SBY di kancah nasional terutama pada Pemilu 2009.

Oleh karena itu, tidak salah jika terpilihnya anggota DPP sebagai tokoh kawakan (gaek) ini sebagai langkah awal SBY menghitung kekuatan politik untuk 2009. Apalagi survei LSI mengenai popularitas SBY pada Maret 2007 hanya 49 persen dari 64 persen pada Desember 2007. Akan tetapi, semoga tokoh-tokoh ini tidak hanya menjadi "mesin cuci" yang mencuci kekurangan dan kesalahan SBY.

Penulis adalah peneliti pada Yayasan Nuansa Sejahtera


Last modified: 12/4/07