SUARA PEMBARUAN DAILY

"Credo in Carnis Resurrectionem"

Oleh: Martin Lukito Sinaga

Umat secara bergantian mencium salib saat misa Jumat Agung, di Gereja Katolik Maria Kusuma Karmel, Meruya, Jakarta Barat, Jumat (6/4). Jumat Agung merupakan peringatan sengsara dan wafat Yesus Kristus (Isa Almasih). [Pembaruan/YC Kurniantoro]

"Aku percaya akan kebangkitan daging" adalah terjemahan judul di atas. Ini adalah sepenggal kalimat dari Pengakuan Iman Rasuli umat Kristiani. Penggalan kalimat itu terkait dengan peristiwa Paskah, bahkan makna Paskah diungkapkan di situ. Lebih lagi, makna Paskah tersingkap dengan mengejutkan: bahwa daging (carnis) itulah yang bangkit, bukan yang biasa disebut orang yaitu jiwa.

Lantas, mengapa Paskah berarti kebangkitan daging? Suatu ungkapan yang terdengar asing, yang mungkin selama ini diucapkan secara lain, yaitu "kebangkitan orang mati"?

Pengakuan itu rupanya sebentuk sikap melawan, khususnya di abad-abad awal Kekristenan saat ajaran gnostisisme berkembang. Gnostisisme saat itu menawarkan pelepasan jiwa dari tubuh manusia, sebab jiwa dianggap sebagai percikan keabadian yang terkurung dalam daging manusia.

Jadi daging adalah halangan bagi jiwa yang tergiur ke arah penyatuannya dengan yang ilahi. Malah pengetahuan dianggap jalan untuk sampai pada keselamatan; suatu pengetahuan rahasia tentunya, yang sedikit saja orang yang tahu.

Terhadap ajaran dan budaya serba rohani dan eksoteris itulah Pengakuan Iman Rasuli hendak berhadap-hadapan. Gereja mengambil sikap yang radikal: apa yang dianggap hina oleh kaum Gnostik malah dilihat sebagai esensi kebangkitan itu sendiri. Apa yang dilihat rendah, malah ditinggikan!

"Daging" rupanya dipakai sebagai ungkapan yang jitu kalau manusia hendak ditunjuk sepenuh-penuhnya. Manusia dengan realitasnya yang paling telanjang -lahir, tumbuh, menempuh peluh sejarah lantas habis tuntas-, paling gamblang kalau dikatakan lewat kata "daging" ini.

Daging berarti sinyal akan kematian, yang realitasnya tidak bisa dipukul mundur oleh spekulasi filsafat mana pun. Daging berarti ditinggalkan, dan menjerit: "ya Allahku, ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?"

Sehingga pengakuan "kebangkitan daging" adalah pengakuan dwi-arah: tidak ada yang abadi dalam diri manusia yang bisa ia pertahankan, namun sekaligus mau mengaku bahwa ada yang radikal yang diberikan Allah kepada manusia. Juga: manusia yang membusuk dan teronggok lapuk itu, akan diubah menjadi pengantin surgawi dan duduk bersama para malaikat abadi.

Tapi, ada yang sungguh tak boleh terlupa. Realitas kedagingan kita saat ini, bukanlah realitas yang buruk pada dirinya, malah dalam momen kedagingan kita yang sehari-hari inilah tersingkap momen kebangkitan yang dijanjikan Allah itu. Bahkan, daging kita kini sudah ikut dalam kebangkitan yang dimulai oleh Kristus.

Kristus sendiri, yang mengenakan tubuh dan dagingnya yang terluka saat penyaliban, menampakkan diri kepada para murid selaku Ia yang sudah bangkit (Lukas 24:39-40), lantas mereka pun makan bersama-sama merayakan kebangkitan.

Jadi, kebangkitan tersingkap dalam daging dan tubuh kita kini -yang tentu masih akan diarahkan kelak menjadi "tubuh rohaniah" (1 Korintus 15:44) yang sempurna dan baru sama sekali. Tetapi for the moment, sekaranglah kebangkitan itu harus tampak, dalam tubuh dan sejarah tempat daging kita berpeluh!

*

Kalau tatapan kita alihkan ke Indonesia masa kini, mudah sekali kita melihat onggokan daging manusia yang diabaikan. Yang menohok mata ialah kerumuman orang di barak-barak pengungsian, dan juga erangan tubuh terluka akibat keteledoran bangsa ini mengelola moda transportasinya. Belum lagi tubuh yang berubah patologis akibat gizi buruk yang akut, atau daging yang lusuh dan mengemis di hampir semua perempatan jalan di kota-kota besar. Semua itu menunjukkan ketelanjangan tubuh yang sungguh mencekam.

Persis di belakang tubuh terlunta itu, billboard iklan kapitalisme sedemikian telak menjual produknya. Dan kita pun terhenyak sebab tubuh dan daging (perempuan) hampir menjadi satu-satunya alat berdagang. Tentu saja perlu ditambah catatan, majalah-majalah pun umumnya berkutat soal tubuh dan pencitraan daging manusia: dari soal diet, disiplin dan gesture agar pesona tertebar, sampai kiat multiorgasme.

Belum lagi dunia hiburan di televisi kita, tubuh perempuan dan "daging hantu" pun bergentayangan mengimbau-imbau pemirsa. Dan di balik dunia digital, tetap tersembunyi rahasia situs-situs pornografi, di mana diupayakan melalui layar liquid komputer, daging pelanggan dan penyaji tubuh dapat bersentuhan!

Dalam dua situasi tubuh yang kontras di atas, sebenarnya tergambar nasib kemanusiaan saat ini. Yaitu tentang kematiannya yang menjelang, kematiannya sebagai daging. Di satu pihak, ia mati dalam nestapa kemiskinan (diabaikan), di pihak lain ia mati sebagai impuls-impuls dan hasrat kapitalisme (diperdagangkan).

Di sini pesan Paskah menemukan konteks mutakhirnya. Dapatkah daging yang terabaikan itu dibangkitkan, agar pulih dari sakit dan selanjutnya bisa menikmati hidup yang sehat? Dapatkah tubuh di pasar loak kapitalisme pun menemukan martabatnya, lalu bangkit dan utuh kembali? Credo in carnis resurrectionem menemukan tantangan kontemporernya, yang tampaknya lebih berbahaya dari sekadar ajaran gnostisisme kala itu.

*

Tak ada yang mudah saat ini, terutama dalam hal mengaitkan secara kreatif antara iman dan kehidupan konkret. Dengan menyatakan Paskah adalah kebangkitan daging, yang hendak dipertaruhkan adalah kebangkitan manusia konkret di tengah nestapa sejarah yang konkret pula. Di situ, manusia tidak dikenal sepotong-sepotong, namun otentik dan sepenuhnya.

Dalam bahasa Rasul Paulus pertaruhan Paskah ialah bagaimana "yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati" (1 Korintus 15:53). Paulus memberi tekanan pada kata itu, maksudnya daging atau tubuh yang kini nyata dalam sejarah manusia, daging itu jugalah yang berpartisipasi dalam kebangkitan. Salvation berasal dari kata to salve, menyembuhkan ataupun mengoles tubuh dengan minyak. Dengan demikian mengenai kebangkitan yang menyelamatkan itu, arahnya ialah kepada manusia seutuhnya, dengan jiwa, pikiran, tangan dan dagingnya.

Dan itu pula yang dilakukan Yesus, saat Ia bertemu dengan perempuan yang sudah 12 tahun lamanya menderita pendarahan (Markus 5:25). Jelaslah di mata masyarakat kala itu tubuh perempuan itu najis, dan dalam adat Yahudi ia tinggal seonggok daging yang dibuang dari "kesucian" agama. Namun, perempuan itu berikhtiar, "asal kujamah saja jubahNya" (Markus 5:28); Yesus membiarkan dirinya disentuh, dan itulah momen perempuan itu sembuh.

Di sini kuasa kebangkitan masuk ke dalam daging dan tubuh yang sakit dan hina- lalu mengalirlah kekuatan kebangkitan dalam tubuh nyata sang perempuan tadi. Bahkan selanjutnya terjadi percakapan di antara mereka, Yesus menyebutnya sebagai "anakNya", sebuah sebutan dalam kedekatan tubuh, dalam kehangatan dan dalam persaudaraan. Di sini, sebuah care telah menjadi jalan menemukan kebangkitan di dalam daging yang nyata dan rentan itu.

Karena itu tampaknya Paskah berarti kerja kita semua kini terarah pada ethic of care, sebab melalui itulah tanda kebangkitan daging terwujud.

Ada suatu cerita dari lapangan misi mengenai ini, yang dikisahkan Sharon Welch. Seorang misionaris perempuan dari Skotlandia bernama Mary Slessor bekerja pada abad XIX di Calabar, Afrika Barat. Ia harus berhadapan dengan adat dan kuasa para kepala suku yang menelantarkan bayi-bayi kembar atau bayi yang giginya terpotong keliru. Ia pun merawat bayi-bayi itu, sambil mendirikan sekolah dan klinik kesehatan anak.

Tentu ia dianggap melawan adat, tetapi ia mengambil risiko, dan terus mempedulikan hidup bayi-bayi itu. Sampai ia dihukum dan digunduli rambutnya. Setelah kematiannya, semakin kuatlah dilihat orang makna kerjanya. Sebab dengan tangan dan sikapnya yang membesarkan tubuh bayi yang ditelantarkan itu ia membangun kenangan yang kuat di Afrika Barat mengenai "kebangkitan" daging, mengenai tubuh dan hidup anak-anak yang bermekaran, mengenai Paskah itu sendiri. Jelaslah pula, kita pun sekarang masih bisa menemukan makna Paskah sebagai carnis resurrectionem!

Penulis adalah pendeta di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), dan pengajar di STT Jakarta


Last modified: 7/4/07