SUARA PEMBARUAN DAILY

Festival Film Bandung Ke-20 Digelar

Sebanyak 56 judul film dan sinetron karya anak bangsa akan memperebutkan gelar terpuji dalam Festival Film Bandung (FFB) ke-20, pada tanggal 29 April mendatang. Ketua Umum FFB ke-20, Eddy D Iskandar menuturkan dalam tahun ini ada 25 judul sinetron dan 31 judul film yang masuk dalam nominasi.

"Kriteria penilaian yang masuk nominasi hampir sama dengan kriteria penilaian Festival Film Indonesia (FFI)," ujar Eddy kepada wartawan dalam acara pembacaan nominasi di Gedung Bioskop Kharisma, Bandung, Rabu (4/4).

Dalam penjurian FFB, kata Eddy, dewan juri memegang konsekuensi untuk menerapkan kriteria yang telah ditetapkan. Pemilihan dewan juri pun tidak dilakukan sembarangan, harus yang mengerti tentang perkembangan dunia sinetron dan perfilman nasional.

Turut hadir dalam pembacaan nominasi tersebut Kepala Dinas Pariwisata Kota Bandung, M Askari, Dewan Pembina FFB Chand Parwez Servia, Ketua FFB, Edison Nainggolan dan para regu pengamat sinetron serta film nasional.

Adapun film, sinetron, dan film yang masuk dalam nominasi tahun ini adalah yang sudah ditayangkan semenjak bulan Maret 2006 sampai akhir Februari 2007.

Untuk sinetron, ada 15 nominasi yang akan bertanding di antaranya sinetron drama terpuji, sinetron remaja terpuji, sinetron laga/misteri terpuji, sinetron komedi terpuji, sinetron FTV (lepas), dan lain-lain.

Sementara untuk film, ada 11 nominasi yang akan diperebutkan yaitu, nominasi editing terpuji, penata artistik terpuji, penata kamera terpuji, penata musik, penulis skenario, sutradara, lakon utama pria terpuji, lakon utama wanita terpuji, pembantu pria terpuji, nominasi lakon pembantu wanita terpuji, dan nominasi film terpuji FFB 2007.

Ketua regu pengamat sinetron, Aam Amilia menyatakan banyaknya sinetron yang ditayangkan oleh televisi tidak otomatis memenuhi kriteria yang dianggap layak. Banyak sinetron yang mengadaptasi ceritanya dari serial televisi di luar negeri seperti India, Korea, Taiwan, dan lain sebagainya.

"Sangat disayangkan, itu namanya bukan adaptasi tapi penjiplakan. Sinetron yang seperti itu kami anggap tidak layak masuk ke dalam nominasi FFB karena tidak ada unsur mendidik, menghibur dan memberikan informasi. Hanya tontonan yang monoton dan tidak menarik," tegas dia.

Justru melalui ajang penghargaan seperti FFB ini, papar Chand Parwez, Dewan Pembina FFB, dunia perfilman nasional dapat terus berkembang sehingga fungsinya tidak hanya sebagai hiburan, melainkan juga pagar budaya.

"Semoga ajang ini dapat mendekatkan Bandung dengan para kreator film baik skala nasional maupun internasional dan hasil apresiasi terhadap dunia perfilman dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat," imbuh dia. [153]


Last modified: 7/4/07