Oleh Timur Citra Sari
Pernah punya pengalaman dengan kantuk yang teramat-sangat dahsyat? Mungkin kantuk pernah menyapa kita hingga tertidur di kelas sementara mata pelajaran berlangsung. Atau, mungkin juga menyebabkan kita terangguk-angguk pulas di depan televisi, padahal acara kesayangan yang sejak siang dinanti-nanti sedang tayang. Atau lagi, bisa jadi kantuk menidurkan kita di ruang kebaktian, tepat saat pendeta berkhotbah.
Memang, jika kantuk yang sangat dahsyat menyerang, tidak mudah - kalau tidak mau disebut: tidak bisa! - dilawan. Sekalipun kita menenggak tiga gelas besar kopi, plus mencoba mengganjal kelopak mata dengan korek api, tetap saja mata kita tidak berkenan berkompromi untuk terbuka! Obat terbaik adalah tidur sejenak.
Kalau kita pernah mengalami dampak kedahsyatan kantuk, tentunya tidak terlalu sulit bagi kita memahami apa yang terjadi pada saat Tuhan Yesus mengajak tiga murid-Nya - Petrus, Yohanes, dan Yakobus - untuk menemaniNya berdoa di Getsemani.
Mungkin terlalu lelah karena perjalanan dan tugas-tugas sebelumnya, atau bisa juga karena nyamannya suasana malam di Getsemani, ketiga murid Tuhan tidak bisa menahan serangan kantuk. Mereka tertidur pulas sementara Sang Guru berdoa dalam peluh. Injil Matius mencatat betapa Tuhan Yesus sempat menyapa murid-muridNya, "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?" (Matius 26:40).
Sayangnya, sebagaimana kita tahu dari penuturan kitab-kitab Injil, kantuk yang berat tersebut menyebabkan para murid kehilangan kewaspadaan. Saat mereka masih terkantuk-kantuk, dan hanya bisa sayup-sayup - serta terbingung-bingung - mendengar Tuhan Yesus mengatakan, "Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat." (ayat 46), datanglah Yudas disertai "serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung" (ayat 47). Tuhan Yesus pun ditangkap.
Terkejut dan bingung, ditambah kesadaran yang tampaknya belum pulih benar, Petrus bereaksi cepat. Injil Yohanes memberi kesaksian, "Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya." (Yohanes 18:10) Namun, Tuhan Yesus yang sangat menyadari apa yang terjadi segera bersikap. Kata Tuhan kepada Petrus, "Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?" (ayat 11)
u
Semua yang harus terjadi memang telah terjadi. Kita tidak hendak menyalahkan para murid yang saat itu mengantuk dan - karenanya - kehilangan kewaspadaan serta tidak dapat menjadi andalan Tuhan kala orang-orang yang hendak menangkapNya tiba. Pula, kita tidak hendak menyalahkan kantuk yang menyerang para murid, karena sesungguhnya kantuk juga merupakan anugerah Tuhan bagi manusia.
Sayangnya, menyadari "kekuatan" kantuk, banyak orang - termasuk kita? - kerap menyalahgunakannya demi keuntungan diri sendiri. Misalnya, kita bisa bergaya mengantuk dalam bus kota yang padat, sehingga tidak harus melihat seorang ibu hamil yang tidak mendapat tempat duduk berjalan mendekat.
u
Wah, jangan-jangan, selama ini kita telah "memanfaatkan" kantuk untuk membenarkan segala ketidakbenaran yang terjadi di negeri kita tercinta ini. Jangan-jangan kita sedang mengantuk sehingga tidak melihat dan diam saja saat kekerasan marak di mana-mana. Jangan-jangan juga kita tengah terkantuk-kantuk sehingga tidak menyadari dan tidak berbuat apa-apa ketika ketidakadilan mewabah di berbagai tempat.
Rangkaian kisah di Getsemani yang berlanjut hingga kasus Golgota membunyikan dengan lantang betapa Tuhan Yesus tidak mengantuk. Tuhan Yesus sadar sepenuhnya apa yang tengah terjadi. Baik dulu, maupun kini, Tuhan Yesus tahu betapa ketidakbenaran merajalela di antara manusia.
Sayangnya, sebagaimana Petrus, Yohanes, dan Yakobus dulu gagal "menemani Tuhan berjaga-jaga", demikian pula murid-murid Tuhan pada masa kini kerap didapati Tuhan dalam keadaan mengantuk dan tertidur pulas. Akibatnya, mudah diduga, murid-murid Tuhan tidak mampu menyikapi aneka kebijakan dan peristiwa yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Dan, tidak sulit untuk membayangkan, betapa Tuhan kecewa!
u
Paskah sesungguhnya bukan hanya sorakan gembira karena Tuhan Yesus bangkit. Paskah adalah juga peringatan - setelah "kegagalan" di Getsemani - murid-murid Tuhan masa kini diharapkan mampu "menemani Tuhan berjaga-jaga". Ya, sebab kata Tuhan Yesus, "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga." (Yohanes 5:17)
Selamat Paskah!
Soli Deo Gloria!