
Peter C Aman
askah berarti Tuhan lewat. Itulah awal mula pembebasan. Pembebasan adalah antitese penindasan, ketidakadilan, penderitaan, dan duka nestapa. Situasi dan kondisi buruk seperti itu tidak saja negatif dari sisi kemanusiaan, juga tidak dapat dibenarkan dari perspektif Ilahi. "Aku telah melihat kesengsaraan umat-Ku ...sebab itu aku telah turun untuk membebaskan mereka" (cf Kel 3:7).
Sejarah relasi Allah dan manusia dalam tradisi religius Yudeo-Kristiani memperlihatkan sosok Allah, yang tidak saja peduli pada penderitaan manusia, tetapi Allah yang berpihak kepada mereka yang menderita. Dia bukanlah Allah yang netral. Dia adalah Allah moral yang memiliki kepedulian pada kebaikan serta kualitas hidup ciptaan-Nya karena Dia adalah kebaikan itu sendiri serta menciptakan segalanya, baik adanya.
Karena itu ketika ketika merayakan Paskah, maka esensi perayaan religius tersebut adalah solidaritas Allah dan pembebasan manusia. Di sini solidaritas bukan lagi sekadar perasaan iba atau prihatin akan nasib buruk manusia. Solidaritas adalah pilihan serta tekad untuk berbela-rasa demi pembebasan dan perwujudan kesejahteraan bagi setiap dan semua manusia. Paskah lantas menjadi perayaan pembebasan karena dalam terang iman Kristiani, wafat dan kebangkitan Yesus, adalah momentum transfigurasi total sejarah manusia menjadi sejarah keselamatan. Sejarah manusia menjadi sejarah Allah yang membebaskan manusia.
Pertanyaan selanjutnya adalah apa relevansi perayaan keselamatan ini bagi manusia, khususnya dalam konteks hidup kita seka- rang ini?
Bencana, apa pun bentuk dan wujudnya, sudah seakan-akan menjadi fakta tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Reaksi terhadap bencana pun beragam bentuk dan wujudnya. Hanya pertanyaan yang tetap tertinggal dan terus membuat kita penasaran adalah: di manakah Allah ketika semua bencana itu terjadi serta menggilas kehidupan ribuan manusia?
Tidak mudah menjawab pertanyaan teologis dan eksistensial seperti ini. Tetapi pertanyaan ini, dalam versi lain, adalah juga pertanyaan Yesus di salib, "Allah-Ku ya Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Daku?" (Mat 27:46) Yesus yang tersalib adalah Yesus dalam kesendirian total bahkan mengalami ditinggalkan Allah, Bapa-Nya. Dia tidak lagi mengalami kehadiran Allah, Bapa-Nya, padahal Dia pernah mengatakan bahwa diri-Nya dan Bapa adalah satu (cf Yoh 14:10-11). Sungguhkah Yesus ditinggalkan Allah?
*
Di sini persis letak puncak dari pengalaman suatu misteri yang disebut penderitaan. Suatu pengalaman kesendirian total. Bukan saja orang lain, diri sendiri pun tidak lagi dapat diandalkan. Suatu pengalaman keterbatasan absolut, yang hanya dapat ditanggapi dan diatasi oleh suatu ketakterbatasan absolut. Pengalaman keterbatasan absolut adalah suatu pengalaman penyerahan total: "ke dalam tangan-Mu Kuserahkan Roh-Ku" (cf. Luk 23:46). Keterbatasan absolut bukanlah akhir yang sia-sia, tetapi suatu kontemplasi kehadiran efektif dari ketakterbatasan absolut, Allah itu sendiri.
Kebangkitan Yesus lantas menjadi pembebasan dari lingkaran misteri tak terjawab tentang kematian -sebagai pengalaman keterbatasan absolut manusia- tetapi juga suatu revelasi dari ketakterbatasan absolut yang memberi jawaban dan tanggapan pada penyerahan diri Yesus. Kematian ternyata bukan akhir tetapi awal baru dari suatu keberadaan baru dalam keselamatan. Paskah lantas menjadi perayaan pembebasan yang merupakan buah dari solidaritas Allah kepada manusia.
Kembali ke pertanyaan kita di atas: "di manakah Allah ketika penderitaan akibat bencana datang bertubi-tubi menerjang kehidupan kita?" Pertanyaan ini bernuansa ambigu. Di satu pihak mengesankan Allah membiarkan semua malapetaka terjadi dan Dia tidak berinisiatif mencegahnya. Dari lain pihak juga menyatakan ketidakmampuan manusia untuk mengalami kehadiran Allah dalam pengalaman keterbatasannya, di hadapan penderitaan. Benarkah Allah tidak peduli? Benarkah Allah diam saja?
*
Berkaca pada misteri Paskah, sebagaimana terungkap dalam pengalaman keterbatasan absolut Yesus di salib, kita menemukan Allah tidak menjauh dan Allah bukannya tidak peduli pada nasib buruk manusia. Penginjil Matius memberikan ilustrasi ketika ingin menjawab persoalan ini. Ketika Yesus wafat, demikian Matius, tabir Bait Suci di Yerusalem terbelah dari atas sampai ke bawah (cf Mat 27:51). Apa makna kejadian itu?
Bait Allah, khususnya tempat yang paling suci yang ditutupi dengan tabir, adalah tempat Allah tinggal yang berdiam di tengah umat-Nya. Ketika Yesus wafat tabir itu tercabik. Tak ada lagi pembatas yang menutupi tempat tinggal Allah dalam Bait-Nya. Allah tidak lagi ada di sana. Di manakah Allah? Allah ada bersama Yesus yang menderita. Allah solider dan berpihak serta menerima penyerahan diri Putra-Nya. Itulah kebangkitan. Derita dan kematian lantas bukan kata akhir tetapi awal baru kehidupan dalam keselamatan.
Allah tidak meninggalkan manusia apalagi bersukacita atas penderitaan manusia. Dia setia dan solider. Berada bersama manusia dalam pengalaman keterbatasan absolut manusia, agar memberi jawaban terhadap kebuntuan eksistensial manusia yang menjadi amat nyata di hadapan penderitaan. Kesetiaan dan solidaritas itulah yang membebaskan manusia, bukan hanya dari penderitaan, tetapi juga dari syak wasangka atau kecurigaan seolah- olah Allah tidak peduli dan membiarkan penderitaan terus mendera manusia.
Paskah berarti Tuhan lewat, melawati dan membebaskan umat-Nya. Setia pada Allah yang setia dan solider, mesti menjadi imperatif moral bagi orang percaya, agar mereka pun setia dan solider pada sesama yang menderita. Sekali lagi, solidaritas bukan hanya perasaan duka yang samar-samar atau rasa sedih yang dangkal atas penderitaan sesama. Belajar dan kesetiaan dan solidaritas Allah yang membawa pembebasan bagi manusia, maka mereka yang menyebut diri beriman kepada Allah seperti itu, harus memiliki tekad dan sikap yang teguh untuk membaktikan diri demi kesejahteraan semua dan setiap orang (cf SRS 38).
Hanya dengan demikian, perayaan Paskah tidak lagi hanya sekadar perayaan peringatan akan karya keselamatan Allah dalam diri Yesus pada masa lampau, tetapi reaktualisasi solidaritas Allah demi pembebasan manusia pada masa kini. Inilah persis taruhan kesaksian Kristiani pada masa sekarang. Mewartakan Allah yang setia dan solider demi pembebasan manusia, tanpa perwujudan nyata dalam praksis pembebasan sesama yang menderita, akan menjadi hampa, tanpa makna kalau bukan suatu kebohongan.
Dokumen Keadilan di Bumi tahun 1971 sudah menegaskan: tidak ada pewartaan khabar gembira keselamatan (Injil) tanpa perjuangan demi keadilan. Keadilan adalah buah pembebasan dan landasan pembangunan demi perwujudan bonum comune. Tanpa memperjuangkan keadilan maka pewartaan Injil kehilangan dimensi konstitutifnya.
*
Untuk bangsa yang yang sedang bertarung dalam krisis di segala lini ini, perayaan Paskah, yang tak lain dari perayaan solidaritas dan pembebasan yang dikerjakan Allah, mesti menjadi momentum refleksi kritis atas makna serta inti hidup beriman. Beriman tidak berhenti pada semarak ibadah, tetapi bermuara pada upaya nyata pembebasan dari pelbagai macam bentuk penindasan dan penderitaan, karena di sana kehadiran efektif Allah yang solider dan membebaskan dialami serta dirayakan.
Selamat Paskah.
Penulis adalah direktur JPIC OFM dan pengajar Teologi Moral pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta