SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 10 Februari 2012
Pencarian Arsip

Beban Ibukota Bertambah Berat 2,35 Juta Orang Serbu Jakarta
Selasa, 21 September 2010 | 14:42

[JAKARTA] Sekitar 2,35 juta orang menyerbu Jakarta selama arus balik Lebaran 2010. Dari jumlah itu, sekitar 55.700 orang di antaranya merupakan pendatang baru musiman, yang bakal menambah berat beban Ibukota.

Data dari Posko Angkutan Lebaran Dishub DKI Jakarta menyebutkan, jumlah warga Ibukota yang mudik pada Lebaran 2010 mencapai 2,3 juta orang. Sedangkan, jumlah arus balik mencapai 2.355.700 orang. Sehingga, terdapat tambahan pendatang sekitar 55.700 orang.

Jumlah itu masih ditambah pertambahan penduduk di wilayah Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek), yang diperkirakan meningkat. Sebab, pola urbanisasi diperkirakan bergeser, tidak lagi fokus ke Jakarta, tetapi ke wilayah pinggiran.
Untuk wilayah Kabupaten dan Kota Tangerang, khusus arus balik Lebaran tahun ini, untuk sementara tercatat penambahan 2.084 orang. Jumlah itu belum termasuk masa di luar Lebaran.

Sedangkan Bogor dan Depok, baru akan menghitung jumlah pendatang pada razia kependudukan yang akan dilakukan pekan ini. Dengan demikian, wilayah-wilayah yang sebelumnya menjadi penyangga Ibukota, dikhawatirkan bakal memberi kontribusi tekanan terhadap Jakarta.

Penduduk Bodetabek terus berkembang pesat dari tahun ke tahun. Terbukti dari Sensus 1990 mencapai 8,6 juta, kemudian pada 2000 mencapai 13,5 juta dan pada pada 2010 mencapai 15,7 juta. Sebagian besar dari warga penyangga Ibukota ini bekerja di Jakarta sehingga menjadi beban Ibukota.

Data Diragukan
Mengenai jumlah pendatang baru di Jakarta, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta, Frangky Mangatas Panjaitan, akhir pekan lalu menjelaskan, dalam tiga tahun terakhir jumlahnya menurun. Tahun ini diperkirakan turun 10-15 persen dari tahun sebelumnya.

Dia mengakui, masa setelah Lebaran merupakan periode penyumbang terbanyak pendatang baru. Untuk itu, pendataan pendatang baru akan dilakukan, termasuk Operasi Yustisi Kependudukan (OYK) di 267 kelurahan sesudah H+7 Lebaran.
“OYK kami prioritaskan dilakukan di sejumlah tempat yang biasa menjadi tujuan para pendatang baru. Kemungkinan besar, Jakarta Barat masih menjadi wilayah nomor satu daerah tujuan urban, baru kemudian wilayah lain,” ujarnya.
Mengenai statistik pendatang baru di Ibukota, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta Agus Suherman mengungkapkan, pihaknya belum pernah melakukan survei untuk menghitung arus urbanisasi saat Lebaran maupun hari-hari lainnya. BPS hanya mencacat petumbuhan penduduk setiap tahun.

“Angka migrasi saat Lebaran sama sekali belum pernah disurvei. Saya tidak mau mengomentari sumber data Dukcapil itu” katanya.
Agus menambahkan, jumlah penduduk Jakarta rata-rata naik 1,4 persen per tahun. Angka itu berdasarkan sensus penduduk 2010, yang menyebutkan penduduk Jakarta bertambah sekitar 135.000 jiwa per tahun selama kurun 2000 hingga 2010.
“Jumlah itu sudah termasuk jumlah urbanisasi dan kelahiran. Mengenai jumlah urbanisasi seusai Lebaran, BPS tidak mau berandai-andai karena untuk menetukan jumlah itu membutuhkan survei, yang memerlukan biaya dan banyak orang,” katanya.
Hal senada dinyatakan pakar tata kota dari Universitas Trisakti, Jakarta, Yayat Supriyatna. Menurutnya, data jumlah pendatang baru pada arus balik Lebaran ke Jakarta dinilai yang dilansir Dinas Dukcapil tidak valid dan sulit dipertanggungjawabkan. “Sebab, menghitung jumlah pendatang baru tidak cukup hanya satu minggu setelah Lebaran. Perlu survei yang memakan waktu lama, dan melibatkan BPS,” jelasnya.

Menurut Yayat, pola pendatang baru ke Jakarta sudah berubah dan tidak lagi terfokus saat mudik Lebaran saja. Pada hari-hari biasa, jumlah pendatang baru bisa lebih banyak dibanding saat Lebaran.

“Padahal, DKI Jakarta membutuhkan data riil jumlah pendatang baru setiap tahun. Hal itu diperlukan untuk dijadikan pertimbangan dalam menetukan kebijakan kependudukan,” katanya.

Ke Wilayah Pinggiran
Menurut Direktur Eksekutif Cirus Surveyors Group, Adrianof A Chaniago, selama lapangan pekerjaan yang tersedia terbatas dan tingkat pendapatan di pedesaan tidak bertambah, jumlah pendatang baru yang datang ke Jakarta tetap akan sulit dikendalikan. Saat ini, pendatang baru justru cenderung menjadikan wilayah pinggiran kota Jakarta sebagai kota tujuan, untuk kemudian mengadu nasib di ibukota.

Oleh karenanya, masalah pendatang baru kini sudah bukan lagi masalah tingkat wilayah Jakarta, namun sudah masuk ke tingkat nasional. Untuk itu, Pemprov DKI Jakarta harus membawanya ke tingkat pusat untuk dirumuskan suatu kebijakan yang bisa membangun ekonomi kerakyatan pedesaan, maupun kebijakan yang bisa merangsang penciptaan lapangan pekerjaan di daerah-daerah.

“Untuk mengendalikan pendatang baru tidak bisa dilakukan langkah-langkah represif, seperti razia maupun OYK,” jelasnya.
Mengomentari sinyalemen jumlah pendatang baru yang mengalami penurunan, Adrianof menjelaskan, pendekatan yang dilakukan Dinas Dukcapil dikhawatirkan bisa menimbulkan kekeliruan cara pandang terhadap suatu masalah. “Khusus untuk wilayah DKI Jakarta, mungkin jumlah pendatang baru turun. Namun, di wilayah pinggiran Ibukota, yang terjadi justru akan sebaliknya.” ucap Adrianof.

Peneliti dari Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi UI, Chatib, mengungkapkan, terdapat kecenderungan para pendatang tak lagi melihat DKI Jakarta sebagai tempat tujuan mencari kerja. Hal ini terlihat dari tren jumlah pendatang yang makin menurun. Namun hal itu tidak terjadi di kawasan penyangga Jakarta yakni Bodetabek.

”Angka pendatang ke Jakarta akhirnya minus atau tren menurun, sebaliknya pendatang sekarang banyak yang menuju ke kawasan penyangga Jakarta terutama mereka yang kemudian menjadi pekerja di sektor informal,” katanya.

Sedangkan Ketua Program Studi Kajian Pengembangan Perkotaan Universitas Indonesia Rudi P Tambunan mengatakan Jakarta tetap menerima beban jumlah penduduk kendati jumlah pendatang serta pertumbuhan penduduk menurun.

Jumlah penduduk Jakarta turun karena adanya peremajaan kota sehingga warganya tergusur ke daerah marginal atau pinggiran. “Jangan lupa, ada banyak yang kemudian berhasil dan mereka ini kembali ke Jakarta,” kata Rudy. [Y-7/H-14/A-15]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Data tidak tersedia.
Data tidak tersedia.
AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN