Beban Ibukota Bertambah Berat 2,35 Juta Orang Serbu Jakarta
Selasa, 21 September 2010 | 14:42
[JAKARTA] Sekitar 2,35 juta orang menyerbu Jakarta selama arus balik
Lebaran 2010. Dari jumlah itu, sekitar 55.700 orang di antaranya
merupakan pendatang baru musiman, yang bakal menambah berat beban
Ibukota.
Data dari Posko Angkutan Lebaran Dishub DKI Jakarta menyebutkan, jumlah
warga Ibukota yang mudik pada Lebaran 2010 mencapai 2,3 juta orang.
Sedangkan, jumlah arus balik mencapai 2.355.700 orang. Sehingga,
terdapat tambahan pendatang sekitar 55.700 orang.
Jumlah itu masih ditambah pertambahan penduduk di wilayah Bogor, Depok,
Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek), yang diperkirakan meningkat. Sebab,
pola urbanisasi diperkirakan bergeser, tidak lagi fokus ke Jakarta,
tetapi ke wilayah pinggiran.
Untuk wilayah Kabupaten dan Kota Tangerang, khusus arus balik Lebaran
tahun ini, untuk sementara tercatat penambahan 2.084 orang. Jumlah itu
belum termasuk masa di luar Lebaran.
Sedangkan Bogor dan Depok, baru akan menghitung jumlah pendatang pada
razia kependudukan yang akan dilakukan pekan ini. Dengan demikian,
wilayah-wilayah yang sebelumnya menjadi penyangga Ibukota, dikhawatirkan
bakal memberi kontribusi tekanan terhadap Jakarta.
Penduduk Bodetabek terus berkembang pesat dari tahun ke tahun. Terbukti
dari Sensus 1990 mencapai 8,6 juta, kemudian pada 2000 mencapai 13,5
juta dan pada pada 2010 mencapai 15,7 juta. Sebagian besar dari warga
penyangga Ibukota ini bekerja di Jakarta sehingga menjadi beban
Ibukota.
Data Diragukan
Mengenai jumlah pendatang baru di Jakarta, Kepala Dinas Kependudukan dan
Catatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta, Frangky Mangatas Panjaitan, akhir
pekan lalu menjelaskan, dalam tiga tahun terakhir jumlahnya menurun.
Tahun ini diperkirakan turun 10-15 persen dari tahun sebelumnya.
Dia mengakui, masa setelah Lebaran merupakan periode penyumbang
terbanyak pendatang baru. Untuk itu, pendataan pendatang baru akan
dilakukan, termasuk Operasi Yustisi Kependudukan (OYK) di 267 kelurahan
sesudah H+7 Lebaran.
“OYK kami prioritaskan dilakukan di sejumlah tempat yang biasa menjadi
tujuan para pendatang baru. Kemungkinan besar, Jakarta Barat masih
menjadi wilayah nomor satu daerah tujuan urban, baru kemudian wilayah
lain,” ujarnya.
Mengenai statistik pendatang baru di Ibukota, Kepala Badan Pusat
Statistik (BPS) DKI Jakarta Agus Suherman mengungkapkan, pihaknya belum
pernah melakukan survei untuk menghitung arus urbanisasi saat Lebaran
maupun hari-hari lainnya. BPS hanya mencacat petumbuhan penduduk setiap
tahun.
“Angka migrasi saat Lebaran sama sekali belum pernah disurvei. Saya tidak mau mengomentari sumber data Dukcapil itu” katanya.
Agus menambahkan, jumlah penduduk Jakarta rata-rata naik 1,4 persen per
tahun. Angka itu berdasarkan sensus penduduk 2010, yang menyebutkan
penduduk Jakarta bertambah sekitar 135.000 jiwa per tahun selama kurun
2000 hingga 2010.
“Jumlah itu sudah termasuk jumlah urbanisasi dan kelahiran. Mengenai
jumlah urbanisasi seusai Lebaran, BPS tidak mau berandai-andai karena
untuk menetukan jumlah itu membutuhkan survei, yang memerlukan biaya dan
banyak orang,” katanya.
Hal senada dinyatakan pakar tata kota dari Universitas Trisakti,
Jakarta, Yayat Supriyatna. Menurutnya, data jumlah pendatang baru pada
arus balik Lebaran ke Jakarta dinilai yang dilansir Dinas Dukcapil tidak
valid dan sulit dipertanggungjawabkan. “Sebab, menghitung jumlah
pendatang baru tidak cukup hanya satu minggu setelah Lebaran. Perlu
survei yang memakan waktu lama, dan melibatkan BPS,” jelasnya.
Menurut Yayat, pola pendatang baru ke Jakarta sudah berubah dan tidak
lagi terfokus saat mudik Lebaran saja. Pada hari-hari biasa, jumlah
pendatang baru bisa lebih banyak dibanding saat Lebaran.
“Padahal, DKI Jakarta membutuhkan data riil jumlah pendatang baru setiap
tahun. Hal itu diperlukan untuk dijadikan pertimbangan dalam
menetukan kebijakan kependudukan,” katanya.
Ke Wilayah Pinggiran
Menurut Direktur Eksekutif Cirus Surveyors Group, Adrianof A Chaniago,
selama lapangan pekerjaan yang tersedia terbatas dan tingkat pendapatan
di pedesaan tidak bertambah, jumlah pendatang baru yang datang ke
Jakarta tetap akan sulit dikendalikan. Saat ini, pendatang baru justru
cenderung menjadikan wilayah pinggiran kota Jakarta sebagai kota tujuan,
untuk kemudian mengadu nasib di ibukota.
Oleh karenanya, masalah pendatang baru kini sudah bukan lagi masalah
tingkat wilayah Jakarta, namun sudah masuk ke tingkat nasional. Untuk
itu, Pemprov DKI Jakarta harus membawanya ke tingkat pusat untuk
dirumuskan suatu kebijakan yang bisa membangun ekonomi kerakyatan
pedesaan, maupun kebijakan yang bisa merangsang penciptaan lapangan
pekerjaan di daerah-daerah.
“Untuk mengendalikan pendatang baru tidak bisa dilakukan langkah-langkah represif, seperti razia maupun OYK,” jelasnya.
Mengomentari sinyalemen jumlah pendatang baru yang mengalami penurunan,
Adrianof menjelaskan, pendekatan yang dilakukan Dinas Dukcapil
dikhawatirkan bisa menimbulkan kekeliruan cara pandang terhadap suatu
masalah. “Khusus untuk wilayah DKI Jakarta, mungkin jumlah pendatang
baru turun. Namun, di wilayah pinggiran Ibukota, yang terjadi justru
akan sebaliknya.” ucap Adrianof.
Peneliti dari Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi UI, Chatib,
mengungkapkan, terdapat kecenderungan para pendatang tak lagi melihat
DKI Jakarta sebagai tempat tujuan mencari kerja. Hal ini terlihat dari
tren jumlah pendatang yang makin menurun. Namun hal itu tidak terjadi di
kawasan penyangga Jakarta yakni Bodetabek.
”Angka pendatang ke Jakarta akhirnya minus atau tren menurun, sebaliknya
pendatang sekarang banyak yang menuju ke kawasan penyangga Jakarta
terutama mereka yang kemudian menjadi pekerja di sektor informal,”
katanya.
Sedangkan Ketua Program Studi Kajian Pengembangan Perkotaan Universitas
Indonesia Rudi P Tambunan mengatakan Jakarta tetap menerima beban
jumlah penduduk kendati jumlah pendatang serta pertumbuhan penduduk
menurun.
Jumlah penduduk Jakarta turun karena adanya peremajaan kota sehingga
warganya tergusur ke daerah marginal atau pinggiran. “Jangan lupa, ada
banyak yang kemudian berhasil dan mereka ini kembali ke Jakarta,” kata
Rudy. [Y-7/H-14/A-15]
Kirim Komentar Anda
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



