SUARA PEMBARUAN DAILY

Jelang UN, Kegiatan Belajar Diintensifkan

[JAKARTA] Para siswa kelas tiga SMP dan SMA di kawasan Jakarta dan sekitarnya diintensifkan kegiatan belajar mengajar (KBM)-nya menjelang ujian nasional (UN) pada 17 hingga 19 April ini.

Penggemblengan telah dilakukan sejak awal semester dua berkait naiknya naiknya standar kompetensi kelulusan (SKK) dari 4,6 menjadi 5,0 untuk mata pelajaran bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan matematika dalam UN.

Diperoleh keterangan dari para kepala sekolah yang dihubungi Rabu (4/4), hampir seluruh siswa kelas tiga diwajibkan mengikuti program pengayaan yang diprakarsai pihak sekolah agar mereka mendapat tambahan kemampuan. Tujuannya, selain untuk mendapat tambahan materi pelajaran, kegiatan itu pun dijadikan barometer untuk mengukur kemampuan siswa dalam mengisi setiap lembar jawaban yang diujikan. Langkah ini dinilai sebagai jurus ampuh untuk meningkatkan motivasi belajar para siswa menjelang dilangsungkannya UN.

"Persiapan sekolah menjelang ujian nasional adalah mengubah model dan konsep pembelajaran. Selain berupa pendalaman materi khusus untuk bidang studi yang diujikan secara nasional, kini tak sedikit sekolah yang menggandeng lembaga bimbingan tes guna menghadapi pelaksanaan UN," kata pengajar SMA 1 Depok, Elizabeth Tri, kepada Pembaruan.

Tri mengungkapkan bahwa persiapan untuk menghadapi UN sesungguhnya telah dilakukan jauh-jauh hari. Pendalaman materi dilaksanakan sejak Agustus 2006, pada Senin hingga Kamis setelah jam pelajaran. Bahkan, dua minggu sebelum UN akan ada perubahan jadwal pelajaran untuk kelas III. Selama dua minggu itu, setiap hari siswa khusus hanya belajar mata pelajaran yang diujikan secara nasional.

Tak hanya SMA 1, sejumlah SMP dan SMA lain juga menempuh kebijakan serupa. "Sekolah mau tidak mau harus melakukan pendalaman materi UN. Jika tidak, siswa tentunya akan kesulitan menghadapi soal-soal UN. Karena itu, pengayaan materi UN sangat penting," kata pengajar SMA Bintara - Depok, Ira Anita.

Ira mengatakan, jika sekolah sudah melakukan pengayaan materi yang akan diujikan dalam UN tentunya siswa tidak perlu lagi mengikuti bimbingan belajar (bimbel). "Saya kira, pengayaan materi yang dilakukan pihak sekolah sudah cukup," ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan pengajar SMU 13 Jakarta Utara, Susi Fitri. Dia mengatakan, siswa sebenarnya tidak perlu lagi mengikuti bimbel lantaran biasanya sekolah sudah menambah jam pelajaran untuk pendalaman materi. "Rasanya tidak perlu bimbel. Biasanya sekolah sudah menyiapkan jauh-jauh hari," katanya.

Butuh Bimbel

Sementara itu, sejumlah orang tua mengatakan perlunya bimbel dalam menghadapi UN. "Putra saya harus ikut program bimbel di luar sekolah. Karena bimbel punya program intensif UN dan persiapan seleksi ke perguruan tunggu," kata Tunggul, warga Kemang, Jakarta Selatan.

Dia mengatakan, bimbel terbukti mampu meningkatkan percaya diri dalam menghadapi soal-soal yang akan diujikan dalam UN.

Lydia (17), siswi kelas III salah satu SMA di Jakarta, mengatakan hal senada. Meskipun sudah mendapat pelajaran tambahan dari sekolah yang bekerja sama dengan sebuah bimbingan tes, ia merasa belum cukup dengan persiapannya. Orangtua Lydia tetap menyuruh siswa jurusan akutansi ini ikut bimbingan tes.

Begitu pula dengan Wildan (17), siswa kelas III SMK Karya Guna Jakarta. "Kami banyak latihan mengerjakan soal-soal UN dari tahun-tahun sebelumnya. Katanya sih ujian nanti juga soalnya tidak jauh beda dengan yang dulu-dulu," kata Wildan.

Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas Suyanto, mengatakan, pada dasarnya sekolah memang harus mempersiapkan siswa untuk siap menghadapi UN. Lagipula, siswa tidak perlu khawatir berlebihan dalam menghadapi UN.

"Siswa dan guru tidak perlu khawatir tidak bisa mengerjakan soal ujian, sebab BSNP bersama Pusat Penilaian pendidikan (Puspendik) akan mengambil materi soal dari irisan tiga model kurikulum pendidikan yang digunakan di sekolah-sekolah," katanya yang dihubungi secara terpisah.

Suyanto menjelaskan, penyusunan soal UN 2007 tetap mencakup atau mengakomodasi materi pembelajaran yang diambil dari kurikulum 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Selain itu, lanjut Suyanto, BSNP dan Puspendik telah mencermati materi pembelajaran di masing-masing model kurikulum. "Kalau materi pelajaran misalnya materi A untuk mata pelajaran bahasa Inggris ada di KBK 2004 tetapi ternyata tidak diberikan pada Kurikulum 1994, maka pasti tidak ada dijadikan materi untuk soal ujian," katanya. [W-12]


Last modified: 3/4/07