SUARA PEMBARUAN DAILY

Kemiskinan dan Kasus Bunuh Diri

Pauzi (28) bunuh diri dengan melompat dari atas jembatan penyeberangan di Jl Thamrin, Jakarta Pusat, 2004. [Dok Pembaruan]

Berbagai media elektronik dan media masa memberitakan, seorang ibu membunuh empat anaknya kemudian melakukan bunuh diri. Belum hilang dalam ingatan terjadi kembali seorang ibu sedang hamil melakukan bunuh diri.

Ada lagi kasus lain seorang ibu dan anaknya tewas menggantung diri di rumahnya. Fakta bunuh diri ada dalam masyarakat. Tidak sedikit setiap tahun kasus bunuh diri terjadi. Bunuh diri melanda manusia tidak kenal usia, dari yang masih bocah hingga usia lanjut.

Tentu belum hilang dari ingatan tentang berbagai kasus bunuh diri di Tanah Air antara lain, seorang bocah melakukan percobaan bunuh diri dan berakibat brain damage, mengalami kecatatan, karena tidak mampu membayar uang ekstra kurikuler di sekolahnya sebesar Rp 2.500.

Seorang siswa SMP melakukan bunuh diri dengan meminum racun serangga, seorang siswa SMU melakukan gantung diri karena tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Siswa SD di Garut melakukan bunuh diri, siswa SD di Tegal melakukan bunuh diri, lalu seorang ayah menyuruh anaknya minum racun kemudian ia sendiri melakukan bunuh diri.

Seorang bapak tewas gantung diri, karena tidak mampu mengembalikan uang kantor yang ia selewengkan. Seorang kakek tewas bunuh diri dengan terjun dari lantai tingkat 5 sebuah gedung.

Dari kasus-kasus bunuh diri tersebut, sebagian besar dari fenomena yang terjadi diakibatkan karena himpitan ekonomi. Kecenderungan bunuh diri pada remaja karena meniru bunuh diri, yang gencar dipublikasikan, yaitu yang disebut sindroma werther, sesuai dengan nama pelaku uta- ma dalam novel Johann Wolfgang von Goethe, The Sorrow of Young Werther.

Dalam novel tersebut, di mana tokoh pahlawan bunuh diri. Novel tersebut ditarik dari peredaran di Eropa setelah diterbitkan lebih dari 200 tahun yang lalu, karena adanya serangan bunuh diri oleh remaja yang membacanya.

Beberapa remaja saat mereka bunuh diri sedang berpakaian seperti Werther atau membiarkan buku tersebut pada halaman yang menggambarkan kematian Werther.

Bunuh diri merupakan suatu keadaan kedaruratan psikiatrik. Bunuh diri merupakan hasil interaksi yang kompleks antara masalah psikiatrik, sosial dan keluarga. Dalam psikiatri emergensi kasus bunuh diri termasuk golongan pertama dari sistem klasifikasi kasus emergensi pada anak dan remaja yaitu kelas berpoten- si mengancam jiwa yaitu bunuh diri.

Bunuh diri mencapai 0,4-0,6 persen dari seluruh kematian. Bunuh diri merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup besar dan substansial. Kasus bunuh diri meningkat secara dramatis. Kira-kira 0,4-0,5 persen dari seluruh kasus kematian.

Bunuh diri merupakan penyebab kematian urutan keenam untuk usia 5 sampai 14 tahun. Kasus percobaan bunuh diri yang paling muda kira-kira berusia 5 tahun. Di Amerika terjadi peningkatan kasus bunuh diri pada usia 15-19 tahun.

Dan lebih dari 5.000 remaja melakukan bunuh diri setiap tahunnya. Pada masa remaja bunuh diri merupakan urutan ketiga penyebab kematian. Anak dan remaja yang meninggal dengan kasus bunuh diri lebih tinggi dibandingkan meninggal, karena kasus lain seperti AIDS, kanker, penyakit jantung dan penyakit paru.

Kemiskinan

Di Indonesia, kemiskinan dan masalah ekonomi merupakan faktor utama penyebab kasus bunuh diri. Angka ini masih diperkirakan lebih besar lagi, karena banyak kasus bunuh diri tidak dilaporkan atau tidak dipublikasi ke media massa.

Angka kejadian bunuh diri meningkat jika persoalan-persoalan kebutuhan dasar masyarakat sulit terpenuhi. Kebutuhan masyarakat yang harus dipenuhi yaitu pangan, kesehatan dan pendidikan.

Bunuh diri merupakan potret kehidupan kesehatan mental masyarakat yang tidak optimal. Ide, isyarat dan usaha bunuh diri sering menyertai gangguan depresif. Ide bunuh diri bukan suatu fenomena yang statik.

Ciri universal bunuh diri adalah ketidakmampuan untuk mendapatkan pemecahan terhadap suatu masalah dan tidak adanya strategi mengatasi stresor yang segera. Minimnya pengetahuan dan pilihan yang tersedia sebagai cara untuk menghadapi masalah, misalnya percekcokan dengan keluarga, penolakan ataupun kegagalan berperan dalam pengambilan keputusan untuk melakukan bunuh diri. Anak dan remaja merupakan usia rentan terhadap lingkungan yang kacau, penyiksaan atau pun penelantaran.

Berbagai macam gejala psikiatri dapat terjadi sekunder, karena pemaparan kekerasan dan penyiksaan. Perilaku agresif ataupun self agresif, menghancurkan diri sendiri dan bunuh diri nampak meningkat pada orang yang mengalami kehidupan keluarga yang penuh stres secara kronis.

Keputusasaan yang berat, keterampilan memecahkan masalah yang buruk dan riwayat perilaku agresif adalah faktor risiko untuk bunuh diri. Pada anak dan remaja perilaku bunuh diri dapat juga terjadi karena copycat suicide, peniru bunuh diri.

Akan tetapi banyak faktor yang berperan terutama gambaran psikopatologi yang terjadi pada yang bersangkutan. Orang lain tidak menyadari bahwa ide bunuh diri telah ada pada orang yang di dekatnya.

Bukti-bukti genetik perilaku bunuh diri adalah adanya tinggi angka kesesuaian bunuh diri diantara kembar monozigot dibandingkan dengan kembar dizigot. Temuan aspek neurokimiawi menunjukkan adanya kadar neurotransmitter serotonin dan metabolit utamanya yang rendah dalam otak postmortem orang yang berhasil melakukan bunuh diri.

Dapat Dicegah

Bunuh diri dapat dicegah, oleh sebab itu diperlukan adanya tata laksana yang tepat bagi yang melakukan percobaan bunuh diri dan yang mempunyai ide bunuh diri. Intervensi dini sebagai strategi preventif harus dilakukan.

Pendekatan dengan intervensi keluarga sangat diperlukan. Mereka yang masuk dalam risiko bunuh diri, harus dirawat di rumah sakit hingga ide, sikap dan perilaku bunuh diri tidak ada lagi.

Orang dengan risiko tinggi adalah mereka yang sebelumnya pernah mencoba bunuh diri dan mempunyai ide bunuh diri yang menetap, mereka yang mempunyai riwayat agresivitas, gangguan depresi berat dengan ditandai menarik diri dari lingkungan sosial dan putus asa.

Perawatan di rumah sakit sangat diperlukan. Apalagi jika keluarga ada keragu-ragu dari pihak keluarga akan kemampuan untuk mengawasi pelaku percobaan bunuh diri. Bagi anak dan remaja diperlukan keterkaitan jasa perlindungan anak.

Diindikasikan untuk dilakukan farmakoterapi, psikoterapi dan terapi keluarga. Adanya perjanjian follow up dengan nomor telpon yang bisa terhubungi selama 24 jam pada saat dipulangkan. Tata laksana secara komprehensif, yaitu dengan risk factor reduction strategies dan case finding strategies.

Diperlukan adanya edukasi dengan tujuan secara umum adalah untuk mengurangi stigma yang berhubungan dengan bunuh diri dalam masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesadaran (awarness), kesigapan dan tanggap dalam masyarakat untuk menilai dan mengetahui lingkungannya, masyarakat ataupun individu yang akan melakukan bunuh diri.

Penting sejak dini menumbuhkan empati dan melatih untuk berpikir realistis dalam menghadapi masalah. Harus ada kerja sama yang baik antara berbagai pihak yang terkait yang menjadi penentu kebijakan dan pengambil keputusan. Tata laksana harus dilihat dari berbagai aspek.

Aspek sosial, ekonomi, pendidikan, politik dan lain-lain senantiasa harus ber-peran.

Masalah bunuh diri merupakan problem masyarakat akibat himpitan ekonomi.Yang terpenting adalah pencegahan. Diperlukan adanya pusat krisis yang mampu menangani kasus bunuh diri tanpa memikirkan biaya yang harus dikeluarkan dan adanya hotline services untuk program pencegahan kasus bunuh diri.

Pelayanan kedaruratan psikiatrik merupakan pelayanan secara terpadu melibatkan dokter, perawat, pekerja sosial, dan lain-lain. Hambatan dalam kehidupan senantiasa berhadapan dengan siapa saja.

Hambatan diatasi dengan menanamkan kebiasaan baik dan memelihara sikap positif. Manusia tak pernah luput dari kesalahan dan keragu-raguan. Janganlah keragu-raguan itu membuat seseorang gagal dalam kehidupan.

Theresia Kaunang, SpKJ, Psikiater


Last modified: 29/3/07