![Counter tiket di bandara. [Foto: Istimewa]](0104sain.gif)
nda pernah booking (pesan) tiket pesawat di maskapai penerbangannya langsung atau melalui agen-agen perjalanan? Pastinya pernah. Nah, barangkali Anda pernah mengalami, harga tiket di satu tempat penjualan baik melalui maskapai penerbangan langsung maupun agen-agen perjalanan, terdapat selisih harga yang bervariasi. Sebagai penumpang, tentunya Anda memilih yang menawarkan harga tiket paling murah bukan?
Semua itu tak lepas dari sistem reservasi. Komputerisasi sistem reservasi, pertama kali dibuat pada tahun 1964 oleh Saber dan hanya untuk dipergunakan pihak maskapai penerbangan. Sistem ini kemudian dinamakan Computer Reservation System (CRS). Saat itu agen-agen perjalanan harus menghubungi pihak maskapai untuk melakukan pemesanan.
Pada tahun 1976, dibuat suatu sistem untuk agen-agen perjalanan. Sistem tersebut dihubungkan pada CRS maskapai penerbangan, sehingga agen-agen dapat langsung melakukan booking ke sistem maskapai penerbangan tanpa harus menelepon pihak maskapai. Sistem yang menghubungi agen- agen dengan CRS maskapai penerbangan itu dinamakan Global Distribution System (GDS). Sistem tradisional maskapai penerbangan umumnya mempergunakan CRS dan GDS.
Kemudian pada tahun 1990-an, Amerika memulai konsep baru di dunia penerbangan yang kemudian disebut sebagai low cost carrier (LCC). Dengan menghilangkan hal-hal yang membuat biaya menjadi lebih tinggi, LCC dapat menjual tiket yang jauh lebih murah dibanding sistem tradisional. Umumnya LCC menjual langsung ke penumpang melalui internet, bukan menjual melalui agen-agen perjalanan sehingga dapat menghilangkan biaya komisi agen dan biaya GDS.
LCC biasanya tidak mempergunakan CRS seperti yang dipergunakan oleh sistem tradisional. Karena CRS sistem tradisional umumnya adalah sistem yang harganya mahal sekali. Biasanya LCC mempergunakan sistem yang memudahkan mereka untuk meng-koneksi CRS mereka dengan internet guna mempermudah penjualan langsung.
LCC di Amerika dan Eropa tidak mengalami masalah dalam menjual tiket langsung kepada penumpang tanpa melalui agen-agen perjalanan. Kenyataannya lebih dari 80 persen tiket LCC di Amerika Serikat dijual melalui internet.
Namun untuk LCC di Asia Pasifik yang bermunculan pada tahun 2000-an, pada kenyataannya, penjualan tiket langsung ke penumpang tidak seperti di Amerika Serikat ataupun Eropa Barat, sehingga LCC di Asia Pasifik tetap harus bergantung kepada penjualan tiket maskapai penerbangan. Akibatnya LCC di Asia Pasifik mengalami kesulitan dalam pemilihan sistem.
Apabila mereka mempergunakan sistem tradisional biaya akan menjadi tinggi sekali. Di lain pihak, LCC di Asia Pasifik juga tidak dapat mempergunakan sistem penjualan langsung yang dipergunakan oleh LCC di Amerika dan Eropa, karena penjualan melalui agen-agen perjalanan adalah suatu keperluan dasar.
Sistem itulah yang ditawarkan PT. Sqiva Sistem Indonesia, yang baru-baru ini dalam kontes pembuatan peranti lunak untuk sistem reservasi di Hong Kong, meraih juara pertama. Peranti lunak bernama Advanced Web Airlines Network (AWAN) itu merupakan perubahan paradigma sistem tradisional dan sistem LCC.
Sistem itu mendukung dua sistem kebutuhan maskapai penerbangan yaitu CRS dan GDS. Selain itu, dapat mengakomodasi pula kebutuhan maskapai penerbangan untuk menjual tiket melalui agen-agen perjalanan.
Sistem dibuat sepenuhnya berbasis web dengan mempergunakan sistem keamanan dari Verisign, sehingga maskapai penerbangan dan agen-agen perjalanan dapat langsung mempergunakan sistem melalui internet dengan aman. Kelebihan sistem berbasis web ini adalah tidak memerlukan bandwidth besar dibandingkan dengan client-based system LCC sehingga dapat mengurangi biaya jaringan.
"e-ticket"
Selain fungsi distribusi, pada sisi maskapai penerbangan, AWAN juga menyediakan fungsi seat inventory yang mendukung multi-leg dan connecting flights. Dengan adanya fungsi multi-currency fare, dengan sendirinya sistem ini menyediakan fungsi e-ticket. Sistem ini juga dilengkapi dengan Departure Control System (DCS), dan online revenue accounting, yang sangat membantu untuk proses back-office, tanpa harus melakukan manual entry ticket sehingga mengurangi kebutuhan tenaga kerja.
Pada akhirnya, dengan kompetisi yang semakin meluas, keperluan maskapai penerbangan untuk memotong biaya semakin tinggi. Ada tiga komponen pemakan biaya dalam maskapai penerbangan yakni biaya bahan bakar, leasing dan sistem. Biaya yang paling bisa dipotong dengan tidak mengurangi faktor keamanan penerbangan, adalah biaya sistem yakni antara lain, sistem reservasi.
Menurut Reservation Controller maskapai penerbangan Air Efata, Didi Gunardi, menjawab pertanyaan Pembaruan melalui surat elektronik baru-baru ini, sistem AWAN itu bisa 75 persen lebih efisien dibanding sistem reservasi sebelumnya. "Ini karena aplikasi tersebut menekankan pada e-tiket sehingga pengguna dalam hal
Ini kami sebagai pihak maskapai penerbangan tidak perlu lagi mencetak tiket manual atau tiket printing yang untuk aplikasinya sendiri membutuhkan biaya besar. Aplikasi ini juga menghilangkan kesulitan dalam distribusi program software. Aplikasi sebelumnya membutuhkan instalasi untuk setiap personal computer maupun distribusi terminal. Aplikasi ini juga mengurangi biaya komunikasi yang besar karena aplikasi
Ini hanya membutuhkan jalur internet untuk setiap transaksi dibanding sistem lainnya yang membutuhkan jalur private line yang biasanya memakan biaya 50 persen dari biaya keseluruhan sistem," urainya.
Katanya lagi, biaya aplikasi ini sendiri amat bersaing dilihat dari kelengkapan penggunaan tools yaitu dari segi reservasi sampai departure control system, hingga
akhirnya menjadi revenue accounting, lebih murah 35 persen. Aplikasi ini juga tidak membutuhkan spesifikasi karyawan secara khusus karena kemudahannya dan penggunaan karyawan dapat lebih efisien.
Kendati demikian, Didi tidak menafikan adanya kendala menghadapi sistem itu. "Kendala yang sering kami alami apabila di kantor Air Efata atau agen-agen perjalanan kami, koneksi internetnya sedang tidak bagus," katanya.
Tentang kendala jalur internet itu, President Director PT Sqiva, Sudjiwo Husodo mengatakan, pihaknya telah membuat back-up dengan menempatkan multimaster data aplikasi dimaksud, di Singapura. "Saat ini, pengendalian sistem untuk Air Efata dan dua klien kami di Korea dan Indo China, melalui server di kantor kami di kawasan Jakarta Selatan," ucapnya. [N-5]