SUARA PEMBARUAN DAILY

Sancaka dan Awang Datang Lagi

Sampul depan komik Godam terbitan ulang dengan judul ÒMata Sinar XÓ.

Sejumlah buku komik Indonesia terbitan ulang dan majalah-majalah yang berkaitan dengan komik Indonesia. [Foto-foto: Istimewa]

Sancaka dan Awang datang lagi. Setelah lebih dari 20 tahun menghilang, kini keduanya hadir kembali di Indonesia. Tapi siapa Sancaka dan Awang? Masyarakat umum mungkin tidak tahu siapa kedua tokoh itu, namun sebagian penggemar komik Indonesia yang pernah mengalami masa kejayaan komik Indonesia di tahun 1960-an sampai awal 1980-an, mungkin masih ingat keduanya.

Ya, keduanya adalah tokoh superhero dalam komik Indonesia. Sancaka adalah tokoh komik ciptaan Harya Suraminata yang lebih di- kenal dengan panggilan Hasmi. Komikus itu menciptakan tokoh seorang pemuda yang mempunyai laboratorium pribadi dan sedang berusaha menciptakan serum anoda antipetir. Sancaka namanya. Nama yang tak begitu dikenal dibandingkan nama yang digunakannya saat dia menjadi superhero, Gundala Putera Petir.

Nama Gundala diambil dari Bahasa Jawa Kuno yang berarti kilat. Komik itu muncul pertama kali pada tahun 1969. Sancaka bisa berubah menjadi Gundala, justru karena dia tersambar petir. Semuanya bermula karena diputus oleh ke- kasihnya yang bernama Minarti. Gara-gara terlalu sibuk dengan percobaan di laboratoriumnya, Sancaka lupa datang ke pesta ulang tahun Minarti. Minarti kesal lalu memutuskan hubungan kasih mereka.

Sancaka akhirnya menyadari bahwa dia selama ini terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Dia menghancurkan sendiri barang-barang di laboratoriumnya, lalu dengan pikiran kalut dia berjalan ke luar dari ruangan laboratoriumnya. Walaupun turun hujan deras, Sancaka tak peduli. Dia terus berjalan dengan badan basah kuyup oleh hujan. Tiba-tiba kilat menyambar berulang kali.

Tubuh Sancaka tersambar kilat dan bagaikan bola dia seolah dilempar ke sana ke mari oleh kilat. Sancaka merasa ini akhir hidupnya, sampai dia membuka mata dan ternyata telah berada di Kerajaan Petir. Kaisar Crons agaknya kagum dengan Sancaka, setelah mengamati kesibukan Sancaka yang mencoba mengadakan penelitian tentang petir. Kisah Sancaka terus berlanjut, sampai dia kembali ke bumi dan dia menjadi seorang pahlawan pembela kebenaran dengan nama Gundala.

Saat menjadi Gundala, Sancaka mengenakan busana warna hitam agak kebiruan sebagai "seragam" kepahlawanannya. Dia juga mengenakan celana pendek berwarna merah, seperti tokoh Superman, yang dikenakan di bagian luar baju terusannya yang berwarna hitam. Sebuah ikat pinggang besar yang bagian gespernya berwarna kuning, juga melingkari pinggangnya.

Selain Sancaka yang menjadi Gundala, ada lagi superhero lainnya. Dia adalah seorang supir bernama Awang yang lebih dikenal saat menjadi tokoh superhero komik Indonesia dengan nama Godam. Tokoh komik ini merupakan ciptaan Widodo Noor Slamet, yang menggunakan nama Wid NS saat menampilkan gambar-gambar komiknya. Berbeda dengan Gundala yang merupakan orang biasa di Indonesia, Godam sebenarnya berasal dari planet lain. Tokoh komik itu muncul pertama kali lewat komik Godam Memburu Dr Setan yang terbit pada 1969.

Seperti juga Gundala yang menjadi komik dengan banyak serial sejak 1969 sampai 1982, maka Godam pun terbit berseri-seri mulai 1969 sampai 1980. Namun setelah itu, keduanya seolah lenyap. Masuknya banyak komik asing dari Amerika dan Eropa, dan belakangan komik-komik asal Jepang, membuat kedua tokoh superhero komik Indonesia itu seakan terlupakan.

Untunglah, sejak tahun 2000-an, sekelompok penggemar komik Indonesia berusaha membangkitkan kembali kejayaan komik karya para komikus dalam negeri. Lewat cetak ulang, Sancaka alias Gundala dan Awang alias Godam, kini hadir kembali di berbagai toko buku di Tanah Air. Bukan hanya mereka. Barda Mandrawata atau Si Buta dari Gua Hantu, tokoh jago silat karya Ganes TH, juga muncul kembali dalam cetakan ulang buku-buku komik yang diterbitkan oleh komunitas penggemar komik Indonesia. Komik-komik Indonesia lainnya pun telah dicetak ulang. Akankah Sancaka, Awang, Badra Mandrawata, dan lainnya, kembali disukai oleh para penggemar komik di Indonesia? Akankah kejayaan komik Indonesia kembali lagi? Kita tunggu saja. [Pembaruan/ Berthold Sinaulan]


Last modified: 29/3/07