
ilateli atau hobi mengumpulkan dan mempelajari prangko, telah ada tak lama setelah prangko pertama diterbitkan di dunia pada 1840. Prangko pertama itu bergambar Ratu Victoria dan di- terbitkan di Inggris. telah di- kenal sejak zaman pendudukan Hindia-Belanda (Netherlands Indies).
Hampir mirip dengan itu, di Indonesia pun filateli telah ada tak lama setelah prangko pertama diterbitkan di negara kita yang waktu itu masih bernama Netherlands Indie (Hindia- Belanda). Prangko pertama itu terbit pada 1 April 1864, bergambar Raja Willem III dengan harga nominal 10 sen. Saat itu, karena kemampuan cetak yang masih sederhana, prangko itu juga terbit amat sederhana dengan warna kecokelatan. Prangko itu sisi-sisinya masih rata saja, dan belum ada gigi-gigi di bagian pinggir prangkonya.
Belakangan, selain prangko, diterbitkan pula kartu pos dan sampul (amplop) surat pos yang telah sekaligus dicetak prangko di sisi kanan depan. Benda- benda itu pun dikumpulkan oleh para kolektor. Jumlah kolektor prangko dan benda-benda pos lainnya, makin lama makin banyak juga di Hindia-Belanda.
Para kolektor itu kemudian semakin sering bertemu. Baik untuk tukar-menukar prangko dan benda pos lainnya, atau saling membahas koleksi masing-masing. Akhirnya, sekelompok kolektor prangko di Batavia (sekarang Jakarta) mendirikan klub filateli Postzegelverzamelaars Club Batavia. Perkumpulan ini mendapat pengakuan dari penguasa Hindia-Belanda pada 29 Maret 1922.
Selain di Batavia, perkumpulan kolektor prangko atau filatelis juga didirikan di Bandung, Semarang, Surabaya, dan sejumlah kota lainnya. Perkumpulan-perkumpulan filatelis lokal di berbagai tempat di Hindia- Belanda itu, selanjutnya dihimpun dalam suatu wadah menjadi gerakan terorganisasi secara nasional dan diwujudkan dalam organisasi yang diberi nama Nederlandsch Indische Vereeniging van Postzegel Verzamelaars pada 15 Agustus 1940. Kelompok tersebut merupakan kelanjutan Postzegelverzamelaar Club Batavia dan juga berkedudukan di Jakarta.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, nama perkumpulan diubah menjadi Algemene Vereeniging Voor Philatelisten in Indonesia, dan kemudian pada tahun 1953 menjadi Perkumpulan Umum Philateli Indonesia. Selanjutnya pada tahun 1965 diubah lagi menjadi Perkumpulan Philatelis Indonesia (PPI), dan akhirnya dalam tahun 1985 menjadi Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI). Nama PFI itu masih dipakai sampai sekarang yang saat ini dipimpin oleh Letjen TNI (Purn) R Soeyono, selaku Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) PFI.
Walaupun organisasi itu telah berganti nama beberapa kali, kalangan filatelis di Indonesia sepakat untuk tetap memilih tanggal 29 Maret sebagai hari lahir PFI dan sekaligus Hari Filateli Indonesia. Jadi, bila dihitung sejak pertama kali didirikan 29 Maret 1922, berarti saat ini PFI telah berusia 85 tahun.
![Kartu pos dari masa Hindia-Belanda yang dikirim dari Tegal 17 Januari 1876 dan diterima di Semarang pada 20 Januari 1876.[Foto-foto: Istimewa]](01hobipr.gif)
Remaja ASEAN
Memperingati ulang tahunnya ke-85, PFI menggelar suatu kegiatan yang cukup besar. Acara itu adalah sebuah pameran filateli bagi para remaja yang berusia antara 12 sampai 18 tahun, dan sekaligus sebagai seleksi untuk ikut serta dalam Youth ASEAN Stamp (YAS) Exhibition 2007 di Singapura, akhir Agustus mendatang.
Seperti dijelaskan oleh Sekretaris Jenderal PP PFI, Rijanto, pameran dan peringatan HUT ke-85 PFI itu diselenggarakan di Kantor Filateli Jakarta, yang terletak di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, dari 29 sampai 31 Maret 2007. Menurut Rijanto kepada Pembaruan di Jakarta, Rabu (28/3) pagi, pameran itu diikuti oleh para filatelis remaja dari enam provinsi, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali. "Karena keterbatasan waktu dan biaya, maka untuk kali ini hanya ditetapkan enam provinsi yang diikutkan dalam pameran dan sekaligus seleksi tersebut," ujar Rijanto.
Dijelaskan pula, YAS diilhami oleh kesuksesan pameran filateli remaja di Singapura selama kurun enam tahun terakhir ini, yang mengacu pada Open Class dengan tiga kelompok umur.
Pertama, kelompok A berusia 12-13 tahun dengan koleksi berupa benda filateli yang disusun dalam 2 sampai 3 frame, dan 1 frame-nya terdiri dari 16 lembar kertas pameran berukuran sekitar 23 x 29 cm.
Kedua, kelompok B antara 14-15 tahun dengan koleksi benda filateli yang disusun dalam 3 sampai 5 frame, dan ketiga, kelompok C yang berusia an- tara 16-18 tahun dengan koleksi yang jumlahnya sama dengan kelompok B.
Penyelenggaraan YAS itu telah disepakati dalam pertemuan eksekutif pengurus Federation Inter-Asia Philately (FIAP), wadah bagi para filatelis se-Asia-Pasifik, yang diadakan di Yogyakarta, tahun lalu. Disepakati pula bahwa YAS diselenggarakan untuk meningkatkan kerja sama yang efektif di bidang budaya dan informasi, guna mengembangkan saling pengertian dan solidaritas antarrakyat negara-negara ASWAN, serta memajukan pembangunan di kawasan tersebut.
Nantinya, para pemenang pameran di Jakarta, akan diikutsertakan dalam YAS 2007 yang diadakan Singapura. Tentu saja kita berharap, koleksi-koleksi terbaik dari para filatelis remaja Indonesia yang diikutkan dalam pameran di Singapura, akan mampu menang dalam pameran bergengsi tersebut. [B-8]