
Sekuel film Nagabonar Jadi 2 ini memiliki unsur humor yang nyaris menyamai sekuel pertamanya, Nagabonar. Duet antara Deddy Mizwar dan Tora Sudiro sering kali menampilkan dialog-dialog yang mengocok perut penonton.
Meski demikian pada beberapa adegan film ini juga menampilkan adegan-adegan melankolis, terutama saat Nagabonar terkenang pada sang istri Kirana, maknya dan sahabatnya si Bujang yang telah meninggal saat perang kemerdekaan.
Menurut produser Nagabonar Jadi 2, Tyas A Moein, proses produksi film ini dimulai akhir tahun 2005 dan dilakukan di 34 lokasi di Jakarta dan Sumatera Utara. Awal ide pembuatan film ini dimulai dari sebuah kerinduan akan sosok Nagabonar yang dikenal sejak 20 tahun lalu.
Sebagai sutradara dan sekaligus juga pemain, Deddy mengaku cukup puas melihat akting para pemain yang terlibat di film ini. Bahkan dia memuji akting Tora yang dinilainya mampu menampilkan sosok anak Nagabonar yang memiliki sifat dan kepribadian seperti ayahnya.
"Tora itu setiap hari menenteng iPod yang di dalamnya terdapat film Nagabonar. Hampir saat break dia memutar film itu dan memperhatikan setiap gerakan si Nagabonar, sehingga jangan heran kalau dia memiliki banyak kesamaan dengan Nagabonar. Bahkan saya bilang dia sudah benar-benar menjadi Nagabonar," katanya.
Deddy mengatakan, diangkatnya kembali tokoh Nagabonar ke dalam sekuel ini dikarenakan tokoh ini sudah sangat dikenal masyarakat. Selain itu juga sekuel ini lahir dari keprihatinannya terhadap masyarakat yang cenderung melihat perbedaan sebagai sebuah hambatan dalam pembangunan.
"Bahkan perbedaan saat ini banyak menimbulkan pertumpahan darah. Untuk itu lewat sekuel ini saya ingin menampilkan mengenai dialog antar generasi dengan cara yang menghibur," ujarnya.
Meski merupakan sekuel dari film Nagabonar, film Nagabonar Jadi 2 ini akan mudah dimengerti oleh penonton yang sebelumnya tidak pernah menonton film Nagabonar. Sebab, jalan cerita yang yang ditampilkan dalam film ini tidak ada kaitannya dengan cerita pada film sebelumnya.
"Cerita film ini dimulai dari anak Nagabonar jadi sama sekali tidak ada keterkaitan atau flashback dari film Nagabonar sehingga mudah dimengerti dan diikuti oleh penonton yang tidak menonton Nagabonar," jelasnya.
Sementara bagi Tora, bisa bermain di film ini bersama Deddy Mizwar merupakan suatu mukjizat. Karena itu ketika tawaran untuk bermain dalam film ini diberikan padanya, dia pun tak kuasa menolak.
Tora mengatakan, dari sejumlah adegan yang harus dia bawakan, akting menangis merupakan adegan tersulit. Bahkan agar dapat mengeluarkan air mata, saat Bonaga membaca surat ayahnya di depan pusara sang ibu, Tora mengaku harus mencolok tenggorokannya.
"Awalnya Bang Deddy berpikir akting saya hebat, karena gampang mengeluarkan air mata saat berakting. Tapi lama-lama dia tahu juga kalau saat mau pengambilan gambar adegan menangis, saya terlebih dahulu mencolok tenggorokan sampai keluar air mata," ungkapnya.
Wulan Guritno yang berperan sebagai konsultan bisnis dan wanita yang mencintai Bonaga merupakan satu-satunya pemeran wanita dalam film ini. Wulan mengaku ketika pertama membaca perannya dalam naskah film ini, dia berpikir tokoh Monita yang diperankannya sangat simpel.
"Tapi ternyata ketika saya makin mendalami tokoh Monita, barulah saya melihat peran ini sangat susah karena kompleks sekali. Apa yang dilihat Monita dan dirasakannya sering kali berbeda," tandasnya. [Y-6]