SUARA PEMBARUAN DAILY

Flu Burung

Ami mencak-mencak hendak melaporkan tetangganya ke polisi. Pasalnya mereka memelihara ayam dan sejumlah unggas di rumahnya. Padahal wabah flu burung sudah membunuh beberapa orang.

"Masak kita biarkan flu burung bersarang di samping rumah kita!" teriak Ami lantang.

Pak Amat menyabarkan.

"Sudah Ami, nanti pemerintah akan melakukan penertiban."

"Tidak! Kita tidak bisa menunggu. Kita harus bertindak. Nyawa kita bukan tanggungan pemerintah. Kita sudah terancam, masak mesti menunggu pemerintah."

"Lho memerangi flu burung itu tugas pemerintah, Ami!

"Kalau mereka masih sibuk jalan-jalan keluar negeri bagaimana?"

"Ya kita tunggu!"

"Nggak! Ini urusan nyawa kita, Pak!"

"Tapi itu kan tetangga kita, Ami. Nanti bisa menimbulkan ketegangan. Masak hari gini mau cekcok dengan tetangga. Mereka kan sudah sering menolong kita. Waktu ulang tahun kamu saja mereka menyumbang 5 ekor ayam!"

"Justru karena mereka itu teman baik kita, Pak, harus kita tolong dengan menyuarakan kebenaran, supaya mereka sadar. Bapak tahu nggak apa yang mereka lakukan? Bukannya membasmi ayam-ayamnya, tapi malah membeli ayam-ayam orang lain. Bapak tahu maksudnya? Mereka berharap akan dapat ganti rugi dari pemerintah. Itu kan perbuatan salah-kaprah! Kapitalis brengsek!"

Amat masih mencoba mencegah, tapi Ami diam-diam pergi ke rumah tetangga. Dia bicara blak-blakan bagaimana bahayanya memelihara ayam saat-saat wabah flu burung bangkit lagi. Tapi apa kata tetangga?

"Hee kamu jangan mengurus kami, urus saja diri kamu sendiri! Kami sudah memelihara ayam sejak kamu belum lahir. Kami tahu mana ayam yang sakit. Di sini semua ayam sehat, tahu!"

"Lho saya tidak mengurus Bapak, ngapain saya ngurus Bapak. Saya mengurus nyawa saya sendiri. Nyawa keluarga saya terancam karena Bapak memelihara unggas di samping rumah kami!"

"Bilang saja kamu iri!"

"Memang saya iri juga! Habis, orang lain sudah membakar ribuan ayamnya, Bapak kok malah enak-enakan saja beli ayam. Mumpung harganya murah ya! Dagang juga ada tanggungjawab sosialnya, Pak!"

Tetangga itu marah sekali. Tapi dia tidak membuka mulutnya untuk menjawab. Dia membuka dompet dan mengeluarkan lembaran seratus ribu yang kemudian diulurkannya kepada Ami..

"Kalau perlu duit bilang saja terus-terang, tak perlu mengancam-ancam begitu!"

Ami terkejut. Ia memandangi lembar uang itu seperti tak percaya. Mulutnya kontan membungkam. Hanya mukanya yang jadi merah padam. Di luar dugaan ia mengulurkan tangannya dan mengambil uang itu.

"Nah begitu, baru namanya bertetangga! Kalau kamu sampai ribut lagi, awas!"

Bibir Ami gemetar mau menjawab, tapi ia menahan diri. Dengan uang di tangannya, ia langsung pergi ke kantor polisi. Semua yang terjadi dilaporkannya tandas.

"Jadi Pak, sudah saya beritahu mereka baik-baik supaya jangan memelihara unggas karena ada flu burung, eeee mereka malah menyogok saya. Mereka bukan hanya membeli ayam-ayam orang lain supaya nanti dapat penggantian rugi kalau unggas mereka dibakar oleh pemerintah, mereka juga sudah mengancam saya, Pak!"

Ami mengeluarkan uang yang tadi diterimanya.

"Mentang-mentang orang tua saya tidak punya, mereka kira saya datang mau memeras. Lalu saya disogok. Cuma seratus ribu lagi! Ini penghinaan besar buat saya, karena ini berarti mereka sudah menghina maksud baik saya!"

Polisi mencatat semua pengaduan Ami. Mereka juga minta uang sogokan itu ditinggal di kantor polisi sebagai bukti. Setelah itu Ami dipersilakan pulang.

"Pulang?"

"Ya."

"Lho saya melapor supaya Bapak bertindak."

"Ya nanti. Sekarang semua pengaduan kami catat dulu. Lalu akan kami laporkan. Setelah ada perintah, kami baru bisa bertindak."

"Laporkan kepada siapa?"

"Atasan."

"Boleh saya bertemu dengan atasan Bapak?"

Petugas itu berpikir.

"Sebentar saja, untuk menjelaskan masalahnya."

"Coba lihat dulu, Bapak sudah datang atau belum."

Petugas itu membawa masuk laporan Ami ke dalam ruangan kepalanya. Begitu ia menguakkan pintu, Ami terkesiap, karena ia melihat wajah yang dikenalnya. Itu pak Sugi, anak lelaki tetangga yang memelihara unggas itu . Rupanya ia baru saja dipindahkan tugas.

Semangat Ami langsung amblas. Tanpa menunggu lagi petugas itu kembali, ia diam-diam ngacir pergi.

Wajah Ami pucat-pasi ketika sampai di rumah.

"Kenapa Ami, datang bulan ya? "tanya Bu Amat.

Ami tak menjawab. Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi.

"Sudah berbaring saja di kamar, biar Ibu bikinkan teh," kata Bu Amat bergegas ke dapur.

Amat mengintip Ami dari kejauhan. Ketika ia melihat Ami mengusap-usap matanya, ia tertegun. Sesuatu yang ia cemaskan dan juga menghantui semua orang tua yang memiliki anak gadis, langsung memberondongnya. Perlahan-lahan dengan hati berdebar ia mendekati anaknya.

"Ada apa Ami?"

"Nggak apa-apa," jawab Ami sambil berdiri dan terus masuk ke dalam kamarnya.

Jantung Amat berdetak keras. Sesuatu yang ditakutkannya akan terjadi sudah jadi kenyataan. Itulah beratnya menjadi ayah. Amat tertegun lama.

Ketika Bu Amat muncul membawa secangkir teh, Amat mencegah istrinya masuk ke kamar Ami.

"Ami tidak memerlukan itu," kata Amar serius.

Bu Amat heran.

"Apa?"

"Aku bilang, Ami tidak memerlukan itu. Ami memerlukan seorang ayah."

Mata Amat begitu bersungguh-sungguh. Bu Amat terpaksa tidak membantah. Ia letakkan cangkir teh itu di atas meja lalu kembali ke dapur.

Amat perlahan-lahan masuk ke kamar Ami.

"Hidup memang penuh dengan berbagai masalah," kata Amat ketika memasuki pintu kamar, "jadi kalau itu datang, yang ditanyakan sebaiknya bukannya kenapa, tetapi bagaimana kita harus menyelesaikannya."

Amat mendekati Ami yang duduk di kursi di depan meja belajarnya.

"Bapak tidak akan menanyakan kepada kamu kenapa, Ami. Tidak. Bapak tidak akan menyikapi seperti itu. Bapak selalu menganggap kamu sudah dewasa dan sanggup bertindak sendiri. Belajar dari semua pengalaman, Bapak hanya akan menanyakan langsung saja, siapa orangnya, Ami? Terus-terang saja. Siapa dia?"

Ami menarik nafas panjang.

"Jangan ragu-ragu Ami. Siapa dia?"

"Pak Sugi."

Amat terkejut.

"Sugi? Sugi, kepala polisi, anak sulung tetangga kita yang memelihara ayam itu?"

"Ya."

Amat terpesona.

"Bukannya dia sudah beristri dan barusan istrinya melahirkan?"

"Ya."

"Ya Tuhan!"

Amat sangat terpukul

"Ya Tuhan! Tetapi kenapa dia Ami?"

"Ya Ami juga tidak tahu. Kalau tahu, Ami tidak akan melakukannya."

"Aduh!" kata Amat sambil menampar kepalanya sendiri.

Amat pusing tujuh keliling. Tak mampu menahan perasaannya dengan terhuyung-huyung ia keluar kamar. Lalu mengurung diri di dalam gudang pura-pura melakukan sesuatu.

Seharian Amat berkurung di gudang melarikan pikirannya yang kacau. Ia tak mau diganggu oleh siapa pun.

Sore hari Bu Amat menggedor pintu gudang, mengatakan ada tamu. Dengan segan Amat keluar. Tetapi ketika sampai di ruang depan ia sangat terkejut. Darahnya meluap. Ternyata tamunya itu Sugi. Anak muda kepala polisi itu masih memakai pakaian seragam, rupanya ia langsung dari kantor.

"Ya saya Sugi, Pak Amat. Saya baru hari ini dipindahkan dari Lombok ke mari Pak, " kata Sugi tersenyum sambil mengulurkann tangan mau berjabatan. "Ami ada Pak?"

Amat tak sudi menyambut uluran tangan itu.

"Maaf tanganku kotor habis pegang tahi tikus."

Sugi tersenyum.

"Sampaikan terima kasih saya pada Ami."

'Terima kasih?"

"Ya. Untung Ami menyampaikannya, kalau tidak bagaimana saya tahu."

Amat terbelalak. Hampir saja dia melabrak, hatinya sudah begitu meluap. Tapi Polisi muda itu lebih dahulu memotong.

"Seperti yang sudah Pak Amat ketahui juga, orang tua saya memang bandel. Tahunya hanya mencari untung. Jiwa dagangnya sudah terlalu kental akibat masa lalunya yang sulit. Tapi sekarang sudah beres. Begitu Ami lapor, sudah saya singkirkan semuanya. Memang kelihatannya tidak apa-apa, tapi itu berbahaya sekali. Sudah saya sarankan agar Bapak saya datang ke mari untuk minta maaf kepada Ami. Mohon dimaklumi. Beliau sudah terlalu tua untuk mengerti bahwa mengejar untung memang baik, tetapi mengejar keselamatan bersama lebih baik lagi. Terima kasih, Pak. Nanti saya datang lagi, masih repot ngurus barang-barang pindahan ke rumah dinas. O ya ..... "

Sugi merogoh saku dan mengeluarkan lembaran seratus ribu dari kantungnya.

"Saya kira ini kesalahan besar sekali. Saya minta maaf. Permisi, Pak."

Amat semakin bingung. Apa sebenarnya yang sudah terjadi. Ketika ia menoleh, nampak Ami di balik pintu.

"Siapa Pak?"

Amat tak menjawab.

"Pak Sugi, polisi anaknya Bapak sebelah itu?"

"Ya."

"Mau apa dia?"

"Mencari kamu."

Ami terkejut.

"Jangan bilang saya ada!"

Amat menggeleng.

"Orangnya sudah pergi. Tapi nanti janji akan kembali lagi. Bapaknya juga akan datang untuk minta maaf."

Wajah Ami tambah pucat. Ia gelagapan memegang kepalanya. Amat memperhatikan dengan curiga.

"Aku tidak perlu maaf, Ami, aku perlu pertanggungjawaban!!""

Ami tak menjawab, ia buru-buru kembali ke kamarnya. Dengan penasaran, Amat membuntuti dari belakang.

"Ami!!"

Ami pura-pura tak mendengar. Amat terpaksa mengeraskan suaranya

"Ami! Jadi kamu ....... ?

Ami memalingkan muka, menatap bapaknya.

"Apa?"

Kedua-duanya pandang-pandangan. Sama-sama tidak mengerti. Amat kelihatan sangat marah. Waktu itu Bu Amat muncul.

"Sudahlah Pak," kata Bu Amat seperti mencoba melerai pertengkaran, "jangan dimarahi. Kalau Ami masih pusing tidak usah ikut. Kita saja yang pergi. Nggak enak juga kalau kita tidak datang. Nanti dikiranya kita masih sakit hati karena dia tidak jadi dengan Ami. Ayo cepat mandi pakai pakaian, nanti keburu malam!"

Bu Amat menarik dan mendorong suaminya ke kamar mandi. Amat mau membantah, tapi langsung digertak.

"Sudah! Kalau Ami tidak mau ikut biar saja! Kita harus mengerti perasaaannya. Daripada dia ikut ke sana lalu jadi tontonan orang banyak, kan kita juga yang malu. Hayo!"

Bu Amat lalu menoleh ke Ami.

"Biar kamu jaga rumah , Ami. Ibu dan Bapak saja yang pergi ke situ. Pintu depan dikunci! Nanti kalau kami pulang malam kamu tidak usah bangun. Kalau perlu apa-apa keluar, lewat belakang!"

Ami kemudian ditinggal sendirian di rumah.

Tak lama kemudian, terdengar pintu belakang mengerit karena dibuka. Ami buru-buru bangun lalu ke belakang. Ternyata di situ sudah berdiri tetangga pemilik ayam itu. Mungkin dia datang terpaksa untuk minta maaf, akibat desakan anaknya. Atau ada niat lain yang jahat. Mukanya masih kelihatan angkuh.

Ami jadi begitu muak dan keki. Ia langsung menyindir dengan mengatakan kebalikannya.

"Maaf Pak. Saya tadi pagi berdosa sudah ikut campur urusan Bapak. Saya minta maaf. Kalau mau memelihara unggas silakan saja, Pak," kata Ami minta maaf berlebih-lebihan untuk meluapkan semua kedongkolannya.

Tapi anehnya, seketika wajah tetangga itu berubah. Ia memandang Ami, seperti tak percaya pada pendengarannya. Kemudian entah kenapa tiba-tiba ia jawab lirih.

"Bapak yang harusnya terimakasih. Siapa lagi yang bisa menegur kita kalau salah, kalau bukan tetangga sendiri?"

Orang tua itu mengangguk, lalu berbalik pergi. Ami menarik nafas lega dan kembali ke kamarnya. Ia merasa plong sebab sakit hatinya sudah berbalas.

Di rumah tetangga, lelaki pemelihara unggas itu disambut oleh istrinya dengan bisik-bisik.

"Bagaimana? Sudah kamu pentung kepala perawan tua yang kurang ajar itu?"

Lelaki tua itu mengeluarkan pentungan yang disembunyikannya di balik baju, lalu melemparkannya begitu saja.

"Tidak usah. Orangnya sudah minta maaf. Ayo sekarang kita keluarkan saja lagi ayam-ayam yang kita sembunyikan di atas tempat tidur itu, nanti ada yang mati lagi di situ! "

Jakarta 24 Januari 07


Last modified: 29/3/07