SUARA PEMBARUAN DAILY

RS Menghemat Elpiji

[BANDUNG] Penggunaan elpiji (LPG-liquefied petroleum gas) untuk pengolahan makanan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) akan dihemat jika ketersediaan bahan bakar itu belum juga normal. "Sistem pengolahan makanan diubah, sedapat mungkin mengurangi pemakaian elpiji," kata Kepala Instalasi Gizi RSHS, Miranti Gutawa, Rabu (28/3).

Penyesuaian itu, misalnya, pengolahan daging, yang biasanya dimasak dengan menggunakan gas akan diubah menjadi dikukus. Teknik pengolahan makanan secara sederhana itu dianggap sangat membantu mengirit penggunaan elpiji.

Saat ini ketersediaan elpiji di RSHS masih mencukupi untuk dua minggu ke depan. "Kebetulan kemarin saat sulit mendapatkan elpiji kami baru mendapat kiriman," katanya.

Pihak RSHS juga menggunakan tenaga uap dan listrik dalam pengolahan makanan. Hanya, penggunaan gas selama ini masih dominan, hingga 75 persen, dibandingkan sumber tenaga yang lain. Dalam sebulan RSHS menggunakan 1.050 kg elpiji untuk pengolahan makanan tiga kali dalam sehari.

Secara terpisah, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat, Ries Hermawan, mengatakan, apabila kelangkaan elpiji masih terus terjadi maka pihaknya akan mengalami kesulitan. "Kebergantungan pada elpiji cukup besar," ungkapnya.

Tambah Pasokan

Pertamina menambah pasokan elpiji untuk wilayah Jabodetabek dan Bandung. Penambahan pasokan dimulai, Rabu (28/3), dan akan terus dilakukan hingga kondisi kembali normal.

"Sebenarnya sekarang stok elpiji di Jakarta sudah cukup. Tapi, kan perlu waktu beberapa hari untuk mendistribusikannya sampai ke konsumen. Dalam tiga hari pasokan akan normal. Jadi, kalau saat ini harga elpiji di pengecer melambung sebaiknya masyarakat bersabar beberapa hari menunggu sampai pasokan normal, pasti harga kembali seperti semula," ujar Deputi Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero), Hanung Budya di Jakarta, Rabu.

Penambahan pasokan untuk Jakarta dan sekitarnya direncanakan mencapai 30 persen atau menjadi sekitar 1.500 metrik ton per hari. Biasanya kebutuhan elpiji di wilayah ini sekitar 1.100 metrik ton per hari. Sedangkan untuk wilayah Bandung, Pertamina akan menambah 25 persen pasokan atau menjadi 350 metrik ton per hari. Kebutuhan normal di Bandung berkisar 280 metrik ton per hari.

Menurut Hanung, kelangkaan ini diakibatkan minimnya kapasitas tangki penyimpanan elpiji milik Pertamina. Saat ini, tangki Pertamina hanya mampu menampung 25.000 metrik ton elpiji yang diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan per hari 3.500 metrik ton. Dengan kemampuan sebatas itu, stok elpiji secara nasional hanya mampu untuk menutupi kebutuhan 6-7 hari.

Hanung mengatakan, kelangkaan elpiji kali ini juga karena keterlambatan masuknya impor. Semula impor tujuh kargo untuk memenuhi kebutuhan selama April dijadwalkan masuk sebelum akhir Maret. Namun, hingga kini yang masuk baru empat kargo. Setiap kargo memuat elpiji 2.000 metrik ton.

Dia menampik bahwa kelangkaan elpiji diduga akibat adanya kekhawatiran bahwa Pertamina akan menaikkan harga. "Kalau distribusi sudah normal harga juga otomatis akan kembali normal," katanya.

Ditambahkan, Pertamina belum berencana menaikkan harga eceran elpiji. Harga elpiji untuk rumah tangga sampai ke tingkat agen masih seperti yang ditetapkan Pertamina, Rp 4.250 per kg atau Rp 51.000 untuk tabung isi 12 kg. Biasanya di tingkat pengecer harga normal Rp 55.000 per tabung.

Hingga Kamis (29/3) pagi elpiji masih langka di wilayah Jakarta, Bekasi, dan sekitarnya. Sejumlah pengecer elpiji yang dihubungi Pembaruan mengaku tidak punya stok lagi.

Menurut mereka, kelangkaan gas ini terjadi sejak pekan lalu lalu. "Sudah minggu lalu saya kehabisan stok. Penyalur sudah memberitahukan bahwa stok masih kosong minggu ini. Demikian dikemukakan Minah (45), pemilik toko yang juga menjual elpiji di Jalan Letnan Arsad, Kelurahan Kayuringin Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi. [153/H-13/P-11]


Last modified: 29/3/07