SUARA PEMBARUAN DAILY

Bangkitnya Perdagangan Tradisional Lintas Batas

Perdagangan tradisional lintas batas negara kembali aktif. Warga menjual barang-barang produk Papua Nugini (PNG) yang dibeli dari PNG dan dijual di Kota Jayapura. [Pembaruan/Gabriel Maniagasi]

PERDAGANGAN merupakan cara tertua untuk berkomunikasi dan menjangkau wilayah-wilayah lain di belahan bumi. Sejarah dunia mencatat, penyebaran agama dilakukan oleh para saudagar yang masuk ke berbagai wilayah di Tanah Air untuk menjajakan dagangannya sembari menyebarkan ajaran agama.

Di Indonesia, perdagangan tradisional antarpulau juga sudah berlangsung sejak lama. Sebelum bangsa Indonesia merdeka, perdagangan sudah dilakukan para pelaut dari berbagai daerah, misalnya dari Sumatera mereka telah melakukan perdagangan secara tradisional sampai ke Taiwan, Korea, dan Tiongkok.

Tekanan dan dorongan ekonomi akibat dampak krisis moneter sejak 1997, telah mendorong orang menciptakan peluang untuk bertahan di tengah merebaknya krisis moneter. Akibat krisis itu, sangat berdampak bagi kelancaran perputaran arus ekonomi bangsa yang juga turut dirasakan kaum papa.

Kondisi keterpurukan itu, turut pula dirasakan sebagian rakyat di Tanah Papua. Sebut saja di Kota Jayapura, sejumlah warga mencoba bangkit dari keterpurukan dan berupaya menjajakan barang-barang yang dibeli dari Papua Nugini (PNG). Mereka menjual barang-barang PNG secara tradisional. Artinya, berbekal modal seadanya dan kerabat yang menetap di PNG, mereka pergi ke PNG mengunjungi kerabat di sana, lalu pulangnya membawa oleh-oleh secukupnya bagi keluarga di Jayapura.

Oleh-oleh itu setelah dikonsumsi ternyata tak habis-habis karena dibeli dalam jumlah banyak, akhirnya kelebihan dan dipajang di pinggiran rumah. Tak disangka, barang-barang itu laku terjual. Bukan saja membeli, kemudian ada yang memesan dalam jumlah lebih.

Kembangkan Usaha

Dari maraknya pemesanan, akhirnya timbul niat untuk mengembangkan usaha. Demikian penuturan Esther Affar (23), wanita asli Kampung Tobati yang pertama menjual produk asal PNG dalam perbincangan dengan Pembaruan di Skyline, Jayapura, baru-baru ini.

Menurutnya, usaha itu dilakukan seadanya, tanpa pikir panjang suatu saat usahanya akan laris manis. Awalnya hanya coba-coba sekadar untuk mencari tambahan bagi keluarga karena suaminya berprofesi sebagai tukang ojek, yang pendapatannya pas-pasan.

Dari usahanya itu, akhirnya Esther berhasil memindahkan profesi suamiya dari mengojek ke usaha bengkel motor. Sedangkan motor yang sehari-hari dipakai suaminya untuk ojek disewakan ke orang lain dan mereka telah berhasil pula membeli sebuah motor baru dan juga disewakan untuk mengojek. Dari usaha itu pula, kini kehidupan keluarga muda itu, demikian berbeda dari sebelumnya.

Ester memulai usahanya sejak 2001, ketika itu ia dan suaminya pulang dari PNG dan membawa oleh-oleh buat keluarganya di Jayapura. Dari sanalah Ester berhasil memulai sebuah usaha untuk mandiri.

Sementara itu, rekan seprofesi Ester yang juga dari Kampung Tobati, Eti Dawir (33) mengakui, dia tertarik dengan usaha menjual produk PNG karena ada keuntungan. Usahanya dirintis sejak 2005. Ia pun tertarik dengan saudaranya yang memulai usaha walau kecil, namun memberi keuntungan.

Mereka saling topang dan memulai usaha bersama. Modal awal dari tabungan yang dikumpulkan selama beberapa bulan. Kemudian dipakai untuk mengurus kartu pelintas batas, di Kantor Imigrasi Kelas II Jayapura.

Barang-barang yang dijajakan terdiri dari kornet, kacang, twistis, topi, baju, pisau, kain, dan aneka aksesori khas PNG. Harganya bervariasi mulai dari Rp 4.000-Rp 250.000. "Tergantung dari barang apa yang mau dibeli, kami akan sediakan asalkan sesuai dengan permintaan dan harga cocok," ujarnya.

Eti kalau berbelanja biasanya dengan teman-temannya sesama pedagang. Mereka menyewa mobil dan berangkat sampai di Perbatasan RI-PNG, kemudian mereka melapor pada petugas imigrasi di sana dengan menunjukkan identitas diri, termasuk kartu pelintas batas. Atas izin petugas mereka pun menyeberang dan langsung masuk ke wilayah PNG.

Di sana juga ada angkutan umum yang memang menunggu penumpang dari Jayapura. Di Vanimo, mereka membeli barang-barang dagangan di supermaket di Vanimo, Sandaun Privince. Setelah berbelanja, mereka kembali ke perbatasan dan melanjutkan perjalanan ke Jayapura dalam waktu sekitar dua jam perjalanan.

Dari usaha ini, mereka mengaku mendapat keuntungan yang cukup besar. Keuntungan itu kemudian ditabung dan diputar untuk modal usaha. Untuk menambah modal usaha, Eti dan Ester, termasuk kerabatnya yang lain, mendapatkan kredit dari pusat koperai TNI AD (Puskopad) di Jayapura.

Pinjaman itu cukup membantu mereka dalam upaya pengembangan usaha. Eti dan Ester berharap mendapat suntikan modal dengan bunga ringan dari Pemerintah Kota Jayapura sehingga usaha ini dapat dikembangkan lebih besar lagi. "Kitorang (saya, Red) harap pemerintah kota dorang dapat bantu kitorang dana untuk modal usaha," tegas Ester. [Pembaruan/Gabriel Maniagasi]


Last modified: 28/3/07