SUARA PEMBARUAN DAILY

Atasi Dampak Lumpur Lapindo

Pemberian Ganti Rugi Tunggu Nirwan Bakrie

DPD sebagai lembaga politik akan mengawal tuntutan warga memperoleh hak hidup ke Lapindo. (Wakil Ketua Pansus Lapindo DPD, KH HA Mujib Imron)

[SURABAYA] Pemberian ganti rugi langsung tunai kepada korban lumpur, warga Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (Perum TAS) I Sidoarjo, yang telah disetujui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, masih menunggu kesepakatan dengan pemilik PT Lapindo Brantas, Nirwan Bakrie.

"Pak Nirwan masih berada di Amerika Serikat. Jadi, hasilnya masih menunggu kedatangannya," kata Gubernur Jawa Timur (Jatim), Imam Utomo Suparno, seusai menerima Panitia Khusus (Pansus) Lapindo Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Surabaya, Rabu (28/3).

Dikatakan, total ganti rugi tunai korban lumpur, baik sebelum maupun pascaledakan pipa gas Pertamina 22 November 2006 sebesar Rp 3,8 triliun. Warga yang menjadi korban pascaledakan dan berada di wilayah non-Perum TAS I, meliputi Desa Kali Tengah, Gempolsari, Ketapang, dan ditambah Kedungbendo serta Renokenongo, masih dilakukan verifikasi batasan yang jelas untuk dimasukkan dalam peta ganti rugi tahap kedua.

Berdasarkan data Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jatim, luas empat desa yang terendam lumpur panas bercampur gas seluas 576 hektare. Melalui Pansus Lapindo DPD, gubernur minta ke pemerintah pusat untuk secepatnya merelokasi jalan tol Porong-Gempol, jalan arteri, instalasi listrik, pipa gas dan pipa PDAM pada tahun ini. Anggaran yang digunakan melalui dana talangan. Bencana lumpur panas telah berdampak pada bidang sosial, kemasyarakatan dan ekonomi di Jatim.

Bagi daerah di wilayah Titim, seperti Pasuruan, Malang, Probolinggo, Jember dan daerah lain, mengalami penurunan di sektor ekonomi sampai 40 persen. Problemnya transportasinya berjalan lambat.

Lumpur di kolam penampungan sebelum dibuang ke laut melalui Kali Porong, diolah dulu dengan biaya Rp 40-60 miliar per tahun. Sedangkan, pembangunan kanal (saluran pembuangan) permanen dari pusat semburan hingga Sungai Porong membutuhkan biaya Rp 600 miliar.

Wakil Ketua Pansus Lapindo DPD, KH HA Mujib Imron mengatakan, DPD sebagai lembaga politik akan mengawal tuntutan warga memperoleh hak hidup ke Lapindo. Lapindo diminta tidak main-main, karena sering melanggar kesepakatan dengan warga. Jika main-main, bisa saja warga akan menghakimi sendiri. Ini jangan sampai terjadi, karena akan menjadi beban bangsa dan negara.

Genangi Jalan

Sementara itu, luapan lumpur kian tak terbendung sehingga meluber menggenangi jalan raya Porong di sekitar fly over yang sudah dibongkar dan menggenangi bantalan rel kereta api (KA)sepanjang 500 meter, Rabu (28/3) sore. Luberan lumpur dari Siring ini akibat tanggul kolam penampungan lumpur yang jebol sejak empat hari lalu, namun hingga saat ini tanggul yang jebol tersebut belum ditutup. Lumpur ini mulai mengancam rel KA. Jarak lumpur tersebut dengan rel KA hanya tinggal beberapa sentimeter. Kondisi ini ini terjadi di rel KM 32.00-32.600, mulai Siring hingga Ketapang lumpur menggenangi jalan raya. Akibatnya, saat ini kondisi lalu lintas menjadi padat merambat karena jalan jadi licin kena lumpur.

Sementara itu, menurut Juru Bicara (Jubir) Timnas Rudi Novrianto, tanggul cincin juga mengalami over topping karena semburan dari pusat terus membesar. Semburan lumpur menjadi lebih besar karena dipengaruhi pasang surut air laut. Meski kondisi Jalan Raya Porong sudah tergenang lumpur setinggi sekitar 5 sentimeter, namun Timnas Lumpur tidak melakukan upaya apa pun. Padahal, saat luas genangan sudah sekitar 50 meter.

Rudi mengaku akan tetap mengupayakan menutup tanggul yang jebol di Desa Siring
agar lumpur di Jalan Raya Porong tidak meluas. Namun, upaya penutupan tidak bisa dilaksanakan secepatnya. "Saat ini kita tidak bisa mengakses jalan menuju tanggul yang jebol tersebut," katanya.

Jalan menuju tanggul jebol sangat becek dan licin karena terguyur air hujan. Sehingga, perbaikan baru bisa dilakukan ketika akses tersebut kering. Padahal kenyataannya, saat ini hampir tiap hari turun hujan. "Makanya itu kita tunggu tidak hujan hingga jalan kering sehingga truk bisa masuk mengangkut sirtu untuk membenahi tanggul yang jebol," katanya. [080/029]


Last modified: 28/3/07