
Krisdayanti memilih konsep "back to basic" untuk album barunya Sacred Goddess yang diluncurkan di Jakarta, Rabu (28/3) . [Pembaruan/Posman Sianturi]
ransformasi tengah dilakukan oleh Krisdayanti. Di usianya yang ke-32, Yanti, begitu ia akrab disapa, mencoba mengubah tampilan, dalam sisi musik maupun bisnis. Album terbarunya, Krisdayanti, mencoba menyuguhkan musik yang lebih sederhana, tanpa aransemen bersifat grande. Seolah-olah ia ingin mengatakan, back to basic adalah yang terbaik.
Menurut Yanti, konsep sederhana yang ia terapkan dalam albumnya ini merupakan wujud kematangan diri. Setelah berkarier di dunia musik selama 15 tahun, ia merasa cukup untuk menjalani masa-masa eksperimen musik. Apalagi, Yanti menyadari betul harus bisa mempertahankan eksistensinya di dunia hiburan.
"Glamor dan mewah bisa dilebihi. Hanya kesederhanaanlah yang tidak. Selama 15 tahun, saya sudah melakukan introduksi diri saya sebagai produk. Saya sudah mengalami perkembangan kedewasaan. Karena itu saya sadar dan rela untuk melakukan perkembangan agar bisa terus eksis," tuturnya kepada wartawan, di Jakarta, Rabu (28/3).
Tema perubahan Diva to Goddess yang diusungnya juga tak jauh dari keinginannya untuk kembali sederhana. Menurutnya, gelar Diva seolah-olah menunjukkan seseorang yang sulit dijangkau di atas panggung. Sementara label Goddess lebih ke bidadari yang perempuan sekali.
Sedianya, album ini diluncurkan sejak tahun lalu. Apalagi, seluruh materi dan penggarapan album telah selesai dilakukan pada Januari 2006. Namun, Yanti terpaksa menunda peluncuran album solonya tersebut agar tidak berbenturan dengan dua agendanya yang lain, yakni album Tiga Diva bersama Ruth Sahanaya dan Titi DJ serta album duetnya bersama sang suami, Anang, yang bertajuk Sepuluh Tahun Pertama.
Krisdayanti berisikan sembilan lagu yang diciptakan oleh musisi kondang. Di antaranya terdapat nama-nama seperti Melly Goeslaw, Anto Hoed, Yovie Widianto, Dewiq dan Sheila Madjid. Tak ada kesan serba besar yang ditampilkan di sini. Semua serba sederhana, tanpa string, sehingga tidak terdengar wah.
Untuk hit perdana, Yanti memilih I'm Sorry Goodbye ciptaan Melly Goeslaw dan Anto Hoed. Menurut Yanti, Anto sebagai komposer lagu ini sempat menyerah dengan aransemen yang dibuatnya.
"Sebenarnya mereka tidak mau kerjasama dengan saya karena mereka bilang, membuat album ini bikin stress. Namun, saat mereka membuat album soundtrack Heart, saya terus merayu. Lagu I'm Sorry Goodbye ini sampai dirombak dua kali dan Mas Anto hampir menyerah. Untung saja, akhirnya selesai," kisah Yanti seraya tersenyum.
Lagu yang sama menjadi pilihan Yanti untuk dibuatkan video klipnya. Di tangan Rizal Mantovani, video klip tersebut siap ditayangkan di berbagai stasiun televisi agar menunjang penjualan albumnya sendiri. Sementara judul album yang menggunakan namanya secara lengkap, ibu dua anak ini mengaku ingin kembali ke falsafah lama namanya yang mengandung banyak arti.
"Di dua album sebelumnya, saya sudah menggunakan nama KD. Setelah saya tanya ke Papa, ia tentu saja lebih senang saya menggunakan nama lengkap saya. Apalagi, nama itu juga penuh makna. Kris artinya keris sementara Daya berarti kekuatan, yang diterjemahkan pada ikon bentuk tiang dalam judul album ini," paparnya.
Produk Makeup
Konsep Goddess yang diusung Yanti juga diterapkannya pada bisnis barunya, makeup. Bekerja sama dengan Martha Tilaar, ia meluncurkan produk makeup PAC KD Line. Untuk makeup ini, Yanti tak sekadar meminjamkan namanya saja. Namun ia juga merancang dan menguji sendiri kualitas makeup tersebut.
"Sejak dulu, saya memang bercita-cita untuk punya kosmetik signature saya sendiri. Apalagi, sejak kecil saya sudah suka dengan printilan-printilan (peralatan, red) kosmetik punya ibu saya. Kalau disuruh bisnis yang lain, seperti fashion misalnya, saya enggak ngerti. Setelah berdiskusi dengan Anang, ia pun kemudian menawarkan konsep ini kepada Bu Martha. Alhamdulillah, gayung bersambut," tuturnya ketika ditemui di kawasan Puncak, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.
Tema Sacred Goddess dipilih untuk rangkaian PAC KD Line ini. Semuanya dirancang dengan pilihan warna yang bisa digunakan dalam berbagai masa serta dengan bahan yang sesuai dengan jenis kulit di udara tropis.
Inilah bukti kematangan diri seorang Krisdayanti. Menurutnya, setelah menjalani berbagai tahap kehidupan, bukti eksistensi diri bias diraih lewat perkembangan musik, juga ekspansi bisnis yang menggurita. Diharapkan, semua bisa menunjang kariernya sebagai seorang artis, juga pebisnis. [D-10]