SUARA PEMBARUAN DAILY

Lombok Kembangkan Pariwisata Berkelanjutan

Lombok, Nusa Tenggara Barat diharapkan dapat menjadi proyek percontohan untuk memotret kaidah indikator berkelanjutan dalam pembangunan pariwisa. Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar), Ir Sambudjo Parikesit, usai membuka workshop Indicators of Sustainable Development for Tourism Destinations di Senggigi, Lombok, Nusa Tenggara Barat, baru-baru ini.

Workshop atau lokakarya yang diselenggarakan oleh Depbudpar bersama United Nations World Tourism Organization (UNWTO) sejak Rabu (21/3) - Sabtu (24/3) tersebut membahas mengenai indikator pembangunan berkelanjutan daerah tujuan wisata yang telah disusun oleh UNWTO, agar bisa diapli-kasikan untuk berbagai jenis obyek dan daya tarik wisata.

"Diharapkan nantinya lokakarya ini dapat menghasilkan suatu rekomendasi, baik bagi pemerintah maupun masyarakat lokal pengelola pariwisata dalam perencanaan, monitoring, evaluasi pembangunan dan pengelolaan kepariwisataan," jelasnya.

Sambudjo mengatakan, Depbudpar berharap daerah Senggigi dapat menjadi pilot project sebagai pariwisata massal, dan Taman Nasional Gunung Rinjani sebagai pariwisata minat khusus, nantinya dapat menjadi model untuk perbandingan bagi daerah tujuan wisata lain di Indonesia.

Terlebih, lanjutnya, karena Lombok mempunyai kekayaan sumber daya alam dan sumber daya budaya yang sangat bervariasi. Mulai dari objek laut, pegunungan, sampai ke puncak gunung. Selain itu, data-data yang memadai mengenai indikator pembangunan pariwisata di Lombok juga tersedia.

"Sehingga kita dapat mudah mengetahui implementasi dari indikator tersebut," ungkapnya.

Itulah mengapa, kata Sambudjo, Lombok dipilih sebagai tempat pelaksanaan lokakarya. Apalagi pariwisata di Lombok cukup menjadi prioritas dalam pembangunan NTB. Sehingga hasil lokakarya ini diharapkan akan bermanfaat secara langsung bagi daerah ini. "Lombok saat ini sedang digarap sebagai salah satu destinasi unggulan di Indonesia," imbuhnya.

Sambudjo mengharapkan pula kapasitas pemerintah, masyarakat, serta asosiasi pariwisata dapat meningkat didalam perencanaan pembangunan kepariwisataan yang berkelanjutan di suatu destinasi. Pengembangan kepariwisataan tidak dapat dilihat dari satu sektor saja karena pariwisata tidak dapat berdiri sendiri, melainkan sangat kompleks dan multisektoral.

"Untuk memajukan kepariwisataan nasional dibutuhkan kerjasama yang baik, serta dukungan penuh dari berbagai instansi lain. Yang tidak kalah pentingnya adalah peran serta dari masyarakat dalam pembangunan kepariwisataan," urainya.

Sementara itu, di tempat yang sama, Program Officer, Sustainable Development of Tourism UNWTO, Gabor Vereczi menjelaskan, bahwa saat ini pariwisata merupakan sektor utama perekonomian dunia, khususnya bila mengacu pada perdagangan internasional di bidang jasa.

Manajemen pariwisata, katanya, akan mempengaruhi kondisi destinasi dan masyarakat tuan rumah tujuan wisata. Dan lebih luas lagi akan mempengaruhi masa depan ekosistem, kawasan, dan bangsa.

"Karena itu keputusan yang diinformasikan secara terbuka dalam berbagai skala sangat diperlukan. Sehingga pariwisata dapat menjadi kontributor positif bagi pembangunan berkelanjutan, dalam menjaga perannya sebagai sumber kebermanfaatan ekonomi, maupun potensi yang signifikan," jelasnya.

Gabor mengatakan, selama satu dekade sejak konferensi Rio pada tahun 1992, para perencana dan akademisi di banyak negara dan destinasi khusus telah bekerja mengembangkan indikator yang sesuai dengan kebutuhan pengelolaannya.

"Indikator-indikator ini memfokuskan pada isu dampak dan pariwisata berkelanjutan. Sedangkan pada indikator pengelolaan atau manajemen dibuat dengan cara lebih tradisional yang merespons kebutuhan khusus di berbagai tingkat," urainya.

Konsultan UNWTO, Profesor Walter Jameison mengatakan, buku panduan mengenai indikator pembangunan pariwisata berkelanjutan ini dihasilkan UNWTO untuk membantu para manajer atau pengelola pariwisata.

Kelak, mereka dapat menggunakan informasi terbaik untuk mendukung proses pengambilan keputusan yang lebih baik dengan tetap memperhatikan pembangunan berkelanjutan pada pariwisata.

"Indikator diajukan sebagai bagian dari bangunan penting pada pariwisata berkelanjutan. Dan sebagai alat merespon isu-isu atau permasalahan paling penting bagi pengelola destinasi pariwisata," tandasnya.

Pariwisata Berkelanjutan

Menurut Jameison, panduan pembangunan pariwisata berkelanjutan dan praktek pengelolaan seperti yang telah disusun UNWTO dapat diterapkan pada semua bentuk pariwisata di segala jenis destinasi. Termasuk pariwisata massal dan segmen pariwisata minat khusus.

"Prinsip berkelanjutan mengacu pada aspek lingkungan, ekonomi, dan sosio-budaya pada pembangunan pariwisata. Dan keseimbangan harus dibangun antara tiga dimensi ini untuk menjamin keberlanjutan jangka panjang," ujarnya.

Dia menjelaskan, bahwa seharusnya pariwisata berkelanjutan mengoptimalkan penggunaan sumber daya lingkungan yang menjadi elemen penting dalam pembangunan pariwisata. Juga berusaha mempertahankan proses ekologi mendasar, dan membantu melestarikan warisan alam serta keanekaragaman hayati.

Selain itu, lanjut Jameison, pariwisata berkelanjutan harus menghargai keaslian sosio-budaya masyarakat atau komunitas tuan rumah, melestarikan bangunannya, pusaka budaya dan nilai tradisional yang masih ada, serta berkontribusi pada proses saling memahami dan toleransi antar budaya.

"Pariwisata berkelanjutan juga harus memastikan kegiatan ekonomi yang berjangka panjang, sehat dan memberikan manfaat sosio-ekonomi bagi seluruh stakeholders yang didistribusikan secara adil. Termasuk lapangan pekerjaan yang stabil dan kesempatan mendapatkan pemasukan dan pelayanan sosial bagi masyarakat tuan rumah, dan berkontribusi pada pengentasan kemiskinan," tuturnya.

Menurutnya, pembangunan pariwisata berkelanjutan mensyaratkan partisipasi terbuka dari seluruh stakeholders terkait. Serta kepemimpinan politik yang kuat untuk menjamin partisipasi semua stakeholder dan konsensus.

Kata Jameison, pencapaian pariwisata berkelanjutan merupakan proses yang terus-menerus dan membutuhkan pengawasan yang tidak berhenti terhadap dampaknya pula. Selain itu juga memperkenalkan langkah-langkah pence- gahan dan perbaikan yang diperlukan.

"Pariwisata berkelanjutan juga seharusnya mempertahankan tingkat kepuasan wisatawan yang tinggi dan memastikan pengalaman yang bermakna bagi para wisatawan, meningkatkan kesadaran mereka tentang isu keberlanjutan dan mendorong praktik-praktik pariwisata berkelanjutan di antara mereka," tandasnya.

UNWTO adalah organisasi pariwisata dunia yang beranggotan 150 negara dan wilayah. Merupakan badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berkantor pusat di Madrid, Spanyol dan memiliki anggota afiliasi sebanyak 350, terdiri atas sektor swasta (Asosiasi Industri Pariwisata, Perusahaan Penerbangan, Hotel, Jasa Tur ), pemerintahan daerah, industri, pendidikan dan riset, serta Lembaga Swadaya Masyarakat. [Y-6]


Last modified: 28/3/07