[JAKARTA] Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) optimistis dapat memenuhi target peningkatan 20 persen produk perikanan nasional tahun ini untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Pusat-pusat pembenihan perikanan budi daya sudah memiliki stok dan siap memproduksi benih dalam jumlah besar.
"Di negara kita, usaha budi daya perikanan sudah sangat maju. Jadi, tahun ini kami yakin produk perikanan bisa naik lebih dari 20 persen," ujar Dirjen Perikanan Budidaya DKP, Made L Nurjana, seusai membuka acara Temu Koordinasi Pelaksanaan Pembangunan Perikanan Budidaya, di Bandung, Rabu (28/3).
Made mengatakan, peningkatan produksi perikanan budi daya bisa melampaui target 20 persen yang dicanangkan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Februari lalu, karena kecenderungannya terus meningkat melebihi 30 persen. Kenaikan ini juga berkaitan dengan keseriusan dan kerja sama pemerintah dengan pembudi daya dan usaha perikanan.
Tahun ini, pemerintah menargetkan produksi perikanan naik mencapai 8,86 juta ton, antara lain dengan meningkatkan teknologi dan perluasan pasar. Pada 2006, produksi perikanan Indonesia mencapai 7,39 juta ton atau meningkat 7,7 persen dari tahun 2005 sebesar 6,86 juta ton.
Made mengemukakan, volume ekspor hasil perikanan pada 2006 meningkat 18,73 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yakni dari 857.000 ton (2005) menjadi 1.018.000 ton. Nilai ekspor pun meningkat 9,1 persen, dari US$ 1,9 miliar pada 2005 menjadi US$ 2,1 miliar pada 2006.
Menurutnya, peluang ekspor produk perikanan masih terbuka lebar dan belum ada penerapan kuota. Namun, dia mengingatkan, pembudi daya dan eksportir produk perikanan harus menjaga kontinuitas dan kualitas yang disesuaikan dengan standar negara importir. Sedangkan tingkat konsumsi produk perikanan di dalam negeri bergantung pada daya beli masyarakat.
Benih Lokal
Made juga meyakinkan, pusat pembenihan dan perindukan udang, terutama di Jepara dan Situbondo, sudah siap mendukung kebutuhan benih. Sedangkan kesiapan benih ikan nila, gurame, dan patin sudah lebih dari cukup. Namun, sebagian pengusaha belum sepenuhnya memakai benih lokal.
Negara yang industri perikanannya berkembang sangat pesat seperti Thailand dan Taiwan, ungkap Made, sudah memakai benih perindukan lokal. Dengan benih lokal, akan lebih sesuai dengan kondisi alam setempat, dan tidak bergantung lagi pada produk luar negeri.
Hal senada dikemukakan Kepala Dinas Perikanan Jawa Barat Darsono, eksportir perikanan Romly Hidayat, dan pembudi daya ikan nila Cecep Somadin. Menurut mereka, usaha perikanan budi daya di Jawa Barat tetap mengandalkan benih lokal. [S-26]