Suara pembaca dikirim melalui email opini@suarapembaruan.com atau Faks ke redaksi, disertai alamat lengkap dan fotocopy identitas yang masih berlaku
Saya ingin menanggapi surat yang dimuat di Pembaruan 21 Maret (Jika Indonesia Kuat, Tak Dianggap Remeh), di mana penulis menyatakan rakyat Australia curiga terhadap Indonesia.
Pernyataan tersebut mencerminkan survei yang baru-baru ini dilakukan oleh Lowy Institute di Sydney, yang mengidentifikasi sejumlah kesalahan persepsi di antara rakyat Australia dan Indonesia tentang tetangganya itu. Menurut jajak pendapat tersebut, terdapat kepercayaan luas di kedua masyarakat tersebut bahwa tetangga mereka adalah ancaman bagi mereka.
Kenyataannya adalah sebaliknya. Kerja sama antara kedua pemerintah dalam menghadapi tantangan keamanan, khususnya kejahatan lintas negara, merupakan salah satu yang paling kukuh dan berhasil di kawasan Asia Pasifik.
Presiden Yudhoyono dan Perdana Menteri Howard telah memainkan peran penting dalam membangun kerja sama ini, dan mengambil langkah-langkah praktis lainnya untuk mendukung pem- bangunan Indonesia sebagai bangsa yang bersatu, demokratis dan makmur.
Kenyataan bahwa Indonesia dan Australia dalam banyak hal merupakan negara yang berbeda, dengan latar belakang sejarah dan kebudayaan yang berbeda, meningkatkan potensi kesalahpahaman.
Penemuan Lowy Institute menyoroti hal ini yang juga merupakan suatu pesan kepada kita untuk secara terus-menerus berusaha mengerti satu sama lain dengan lebih baik, melalui pertukaran masyarakat dan keterbukaan untuk memahami tradisi masing-masing.
Bill Farmer
Dubes Australia di Jakarta
Pada hari Minggu tanggal 25 Maret yang lalu kami melepaskan dan memberangkatkan tante kami yang terkasih ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Kami mengadakan ibadah di rumah duka yang juga adalah kediaman kakak tertua saya di Cipinang Baru, Rawamangun.
Sejak pukul 09.15 ada seorang wanita yang datang. Dia duduk di ruang dalam dekat dengan salah seorang tamu yang kebetulan sedang berbincang dengan saya. Walaupun tidak ada dari keluarga kami yang mengenalnya, kami tidak bertanya apa-apa. Semua menganggap dia adalah saudara/kenalan tante yang belum pernah bertemu dengan kami.
Banyak kejadian kecil yang sebetulnya sudah mencurigakan. Misalnya, ketika orang tersebut tidak dapat menyanyikan lagu-lagu pujian gereja yang dinyanyikan. Atau ketika tas milik seorang tamu yang mendadak pindah dari kursi lipat ke sofa dan sudah ditutupi bantal dan berada dekat dengan tempat wanita ini mendadak pindah duduk.
Wanita ini juga tidak pernah berusaha melihat jenazah almarhum tante. Hebatnya, wanita ini bahkan mengikuti acara sampai ke tempat pemakaman. Ia naik mobil kantor kakak saya. Kepada supir dia mengaku sebagai tetangga.
Dia juga mengajak tiga orang saudara kami semobil dengannya. Ketika ditanya dia kembali mengaku sebagai tetangga tapi gelagapan ketika ditanya rumahnya yang mana. Pertama ia berlogat Jawa, namun lama kelamaan logat aslinya keluar, dan saudara kami mengenalinya sebagai logat dari Sulawesi Selatan.
Bahkan ia pun sempat mengajak wanita ini berbicara dengan logat tersebut. Di dalam mobil dia sempat memegang-megang HP milik salah seorang saudara saya. Yang kemudian cepat-cepat diambil lagi oleh sang pemilik. Sayangnya memang saat itu tidak ada yang berprasangka buruk, karena sarat dengan suasana duka.
Sepulang dari pemakaman kami kembali ke rumah untuk berdoa mengucap syukur atas prosesi yang berlangsung lancar, sekaligus makan siang bersama. Ketika itulah, karena merasa yang hadir semua adalah keluarga dekat, saya pun meletakkan tas di sebuah kursi yang tidak terlalu mencolok tempatnya. Saya sempat mengambil uang untuk membeli minuman ringan untuk anak dan keponakan saya. Sesudah itu saya lalu ikut mengambil makan siang dan makan di tempat yang berbeda.
Cukup aneh tidak terpikir untuk melihat/mengecek tas saya, padahal ini bukan kebiasaan saya. Tidak lama kemudian, suami saya bertanya tentang kamera digital kami. Saya pun bergerak mengambil tas. Ternyata dompet dan PDA saya sudah tidak ada. Setelah bertanya-tanya tentang siapa yang kira-kira duduk di dekat tas tersebut, seseorang mendeksrikspikan wanita tadi.
Kami pun lalu saling bertanya apakah ada yang mengenalnya. Ternyata tidak ada. Kemudian saya ingat bahwa beberapa kali fotografer memotret ke arah kami (saya duduk hanya berbeda satu orang dengannya sepanjang ibadah). Kami lalu mengecek kamera digital masing-masing, ditemukanlah foto wanita ini dalam beberapa jepretan.
Bahkan ada satu yang hanya dia sendiri. Wanita ini bertubuh sedang, wajah agak lebar dan tirus, berambut hitam dan sedikit sisa cat pewarna coklat, rambut di atas bahu, tapi dijepit ke belakang, kulit kuning langsat dan saat itu memakai kemeja hitam celana krem dan scraf lebar juga berwarna hitam. Memakai tas dengan merek "LV".
Setelah melakukan sedikit pengecekan ternyata wanita ini juga sempat mengambil uang sumbangan kedukaan dari RT padahal uang tersebut tersimpan di kamar atas. Ia memang berkata akan ke toilet yang letaknya pas di sebelah tangga.
Ada yang melihat namun lagi-lagi, semua tidak ada yang berprasangka. Keluarga besar saya sangat heran dengan keprofesionalannya. Wanita ini bahkan mengisi buku tamu, membaur di antara pelayat di tempat pemakaman.
Karenanya saya ingin menghimbau agar tetap berhati-hati dan waspada di tengah suasana duka. Tegur atau sapa orang yang tidak anda kenal, lebih baik dianggap lupa saudara daripada disusupi. Ini mungkin modus operandi baru yang dilakukan oleh orang-orang yang sudah mati hati nuraninya.
Mungkin kerugian materi yang hilang tidak terlalu besar, namun kejahatan yang dilakukan di tengah ibadah dan di saat keluarga tengah berduka sungguh biadab.
Secara pribadi, saya sudah memaafkan Anda, tapi untuk setiap kesalahan dan kejahatan, Anda harus menanggung akibat dan resiko yang timbul, baik dari hukum manusia, terlebih lagi hukum Tuhan.
Alexandra Silitonga
Pantai Mutiara, Pluit