
Senja di sebuah danau di Desa Selingue, Regio Segou, Mali mempunyai keunikan tersendiri. Senja yang menandakan Mali akan memasuki malam yang sangat dingin setelah diterpa panasnya matahari pada siang hari sekitar 39-47 derajat Celsius. [Foto-foto: Istimewa]
Rumah gubuk dengan dinding dari tanah liat menjadi ciri khas pemukiman tradisional warga Mali. Biasanya beberapa keluarga dekat bermukim bersama dalam sebuah kawasan sederhana yang terdiri dari empat sampai lima rumah tersebut.
Pukul 21.30, rombongan dari 15 negara yang akan mengikuti World Forum for Food Sovereignty: Nyeleni 2007 tiba di bandara Bamako Senou, Mali dan akan mengurus visa on arrival secara bersama. Lebih dari dua jam pengurusan visa tersebut pun belum kelar tanpa alasan yang jelas. Sepintas terlihat dua petugas imigrasi bandara sibuk memeriksa kelengkapan dokumen. Dalam ruang sempit itu tidak ada lagi petugas lain membantu selain kedua petugas tersebut. Alamak, apakah hanya kedua petugas itu yang melayani ratusan visa warga asing? Beberapa petugas ditanyai dan sejumlah panitia WFFS pun sudah bolak-balik mempertanyakan kelambatan tersebut.

aripada jenuh menunggu visa, muncullah niat untuk memotret. Apalagi ketika melihat sebuah pigura dinding yang menguraikan perjalanan yang begitu jauh ke Timbuktu. Timbuktu dikenal sebagai ujung dunia dalam dunia kartun Donald Bebek merupakan sebuah kota bersejarah yang melegenda dengan peninggalan budayanya. Rasa penasaran pada Timbuktu inilah membuat jepretan kamera yang tadinya sembunyi-sembunyi akhirnya dilakukan terbuka.
Republik Mali adalah negara yang terletak di Afrika Barat, berbatasan dengan Aljazair, Mauritania, Senegal, Guinea, Pantai Gading, Burkina Faso dan Niger. Negara yang berpenduduk hamper 12 juta jiwa dengan 90 persen adalah pemeluk Islam ini mempunyai 8 regio (setingkat provinsi) yakni Gao, Kayes, Kidal, Koulikono, Mopti, Segou, Sikasso dan Timbuktu (Tombouctou). Bamako adalah ibu kota dari negara yang dengan luas 1,24 juta km persegi. Setengah wilayahnya merupakan bagian dari Gurun Sahara.
Sebelum merdeka dari Perancis pada 22 September 1960, Mali adalah kerajaan bernama Malinke. Mali pernah didominasi kerajaan Ghana sampai 1075. Periode 1312 hingga 1337, Mali berada di bawah kekuasaan Raja Mansa Musa yang bijak dan sudah mengenal budaya toleransi. Dia sudah mendirikan sekolah dan memajukan kebudayaan Mali. Saat melakukan ibadah haji ke Mekkah, Mansa Musa didampingi 60.000 pengawal. Mansa Musa diperkirakan meninggal pada tahun 1332.
Pada 1465-1530 Mali dikuasai Kerajaan Songhai (Timbuktu-Gao) di bawah kepemimpinan Askia Mohammad I, namun kerajaan ini dihancurkan oleh Maroko pada tahun 1591. Pada Januari 1959, Soudan (sebutan Mali saat itu - Red) bergabung dengan Senegal membentuk Mali Ferederation. Namun federasi ini bubar pada 20 Agustus 1960. Sejak 1968 hingga 1997 Mali dipimpin militer dengan kekuasaan diktator.
Selain Timbuktu, banyak peninggalan bersejarah yang sampai saat ini dikagumi orang, antara lain Mesjid Agung Djenne di Mali. Mesjid Agung Djenne dibangun Sultan Koi Kunboro pada tahun 1240. Periode 1591-1780, Kota Djenne yang terletak sekitar 354 kilometer dari barat daya Timbuktu, berada di bawah kontrol Kerajaan Maroko. Djenne sangat terkenal sebagai salah satu pusat pengajaran Islam dan tempat ziarah di Afrika Barat. Pada tahun 1988 UNESCO menjadikan kota tua Djenne dan Mesjid Agung Djenne sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage Site). Keunikan Mesjid Agung Djenne karena dibangun dari campuran bata, tanah liat (lempung) yang dikeringkan di bawah terik matahari dan kayu. Setiap musim semi, mesjid ini direnovasi (diplester ulang).
Kota Bamako tidak seramai Jakarta dan hanya berpenduduk sekitar satu juta jiwa. Siang hari panas sekali, bisa mencapai 50 derajat Celsius atau lebih dan malam (musim panas), tetapi malam pun akan dingin sekali dengan suhu dibawah 20 derajat Celsius. Inilah yang membuat warga Mali memfokuskan pekerjaan pada pagi hari dan sore hari, sedangkan siang hari digunakan untuk istirahat. Sebagaimana negara-negara berkembang lainnya, pasar-pasar tradisional dan kehidupan warga miskin kota di Bamako menjadi pemandangan yang mewakili sebagian besar negara Afrika. Di setiap ujung jalan banyak dijumpai warga Mali membuka usaha dan warung-warung kecil dengan menjual berbagai keperluan rumah tangga.

Kendaraan roda dua dan roda empat tidak membuat kemacetan sepanjang hari. Namun, hampir di sepanjang dan sudut jalan Bamako terdapat berbagai stasiun pompa bensin, dari yang paling sederhana milik warga hingga yang bagus dan dikelola oleh raksasa minyak dunia. Mungkin karena kawasan Bamako yang mendatar dan seakan-akan luas tidak berujung sehingga kendaraan pun tidak terlihat padat.
Perjalanan dari Bamako ke Desa Selingue (baca: Selingge), Regio Segou, yang ditempuh dalam tiga jam menyiratkan sejumlah gambaran pedesaan dan masyarakat Mali yang begitu sederhana. Kondisi pemukiman tradisional dan aktivitas masyarakat yang sangat terbatas karena berbagai tantangan menyiratkan betapa sulitnya negara ini keluar dari keterpurukan.
Kumpulan 3-4 rumah 'gubuk" sederhana dalam sebuah komplek pemukiman masih banyak terlihat sepanjang jalan. Sebagian besarnya belum tersentuh listrik. Keterbatasan dan kekhasan situasi desa di Mali ini menjadi pemandangan yang unik bagi para wisatawan, walaupun ini menjadi sebuah perjalanan yang begitu menantang. [H-12]