SUARA PEMBARUAN DAILY

Psikotes dan Stres Pekerjaan

Anggota Provos Polres Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mendata kartu izin senjata api dan hasil psikotes para polisi, Selasa (20/3). Ratusan polisi dari jajaran Polsek dan Polres di Bantul mengikuti psikotes dan pemeriksaan kelayakan senjata api milik polisi. [Antara/str-Regina S]

Pertanyaan mengenai pentingnya tes psikologi di kalangan kepolisian mengemuka setelah melihat rentetan peristiwa yang terjadi pada korps baju cokelat itu. Dengan kewenangan memegang senjata, dan melihat beberapa peristiwa yang ada, tentu saja muncul pertanyaan apa sebenarnya yang berkecamuk di benak polisi itu? Pihak kepolisian segera melakukan tindakan-tindakan yang dinilai perlu, seperti menarik kembali senjata api yang dipegang sebelum mengetahui kepribadian anggota. Juga melakukan tes psikologi (psikotes) ulang.

Selain kasus terbaru yakni anggota Provos Polres Semarang Briptu Hance Christian, juga terdapat sederet kasus lain. Seperti pada 8 Maret lalu Briptu Rifai anggota Polres Bangkalan menembak istri, mertua, dan dua orang lainnya sebelum menghabisi nyawanya sendiri. Lalu ada juga anggota Poltabes Medan Iptu Oloan Hutasoit yang pada 24 Januari lalu menembak sepasang pengantin dan menghabisi nyawanya sendiri.

Maraknya kasus seperti itu di kepolisian, dijelaskan Ketua Departemen Psikiatri FK Universitas Indonesia Irmansyah, seharusnya jangan diselesaikan dengan cara reaktif. Langkah yang sekarang dilakukan pihak kepolisian seperti melakukan penarikan senjata api dan melakukan tes psikologi ulang adalah sikap yang reaksional. Institusi itu seharusnya melakukan introspeksi terhadap sistem di dalam kepolisian itu sendiri.

"Matangnya kepribadian seseorang tidak bisa hanya dilihat dari hasil seleksi awal psikologi. Meski saat tes psikologi di awal orang sudah menunjukkan kematangan pribadi, tetapi lingkungan kerja yang tidak sehat membuat kepribadiannya tidak berkembang," katanya.

Kejadian-kejadian itu, menurut Irmansyah seharusnya membuat petinggi kepolisian melakukan introspeksi menyeluruh. Seperti gaji polisi yang kecil sementara kebutuhan terus meningkat, lemahnya kontrol, persaingan jabatan dan perilaku atasan merupakan hal-hal yang menyebabkan kepribadian seseorang dapat tidak berkembang.

Suryo Dharmono dari Departemen Psikiatri FK UI mencontohkan bagaimana kepribadian seseorang dapat berubah karena lingkungan.

"Orang Indonesia yang bekerja di Singapura dapat bekerja dengan baik di sana. Sangat berdedikasi, disiplin, tanggung jawab. Tetapi ketika kembali ke Indonesia, situasi kerja yang tidak mendukung membuat dia berubah. Bekerja menjadi malas, dan tidak bisa tepat waktu lagi," katanya.

Untuk menghindari stres akibat pekerjaan, dijelaskan Ketua Jurusan Psikologi Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Sri Maryati Deliana, ada dua intervensi yang bisa dilakukan.

Pertama,adalah intervensi dalam diri yakni sebelum bekerja, dia sudah tahu risiko seperti apa yang akan dia hadapi bila dia bekerja bidang itu. Dengan mengetahui apa yang akan dihadapi, dapat menurunkan tingkat stres. Kemudian yang kedua, intervensi dari luar juga penting. Intervensi dari luar ini adalah lingkungan kerja. Misalnya bila pekerjaan itu membutuhkan tingkat stres yang tinggi, dapat diiringi dengan pemberian kesejahteraan yang baik, atau atasan selalu memberi dukungan pada anak buah.

"Kemungkinan ada yang secara eksternal tidak kuat tetapi dari internal dia mampu menghadapinya," katanya.

Selain kepolisian, banyak juga pekerjaan lain yang mempunyai tekanan tinggi sehingga membutuhkan orang yang berkepribadian kuat. Seperti pilot, yang bertugas membawa penumpang menembus udara, atau perawat maupun dokter yang bertanggung jawab terhadap pasien. Beberapa tahun silam pernah tersiar kabar bahwa seorang pilot Singapore Airlines sengaja menjatuhkan pesawat yang tengah diawaki karena stres.

Tantangan Tersendiri

Menurut Sri Maryati Deliana, setiap pekerjaan memang membutuhkan tantangan tersendiri. Karena itu, sekarang sudah jamak dilakukan tes psikologi saat orang akan bekerja.

Alat untuk tes psikologi bermacam-macam meski tujuannya sama, yakni untuk melihat kepribadian seseorang. Seperti tes draw a man atau menggambar orang, atau Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI). Untuk mengetahui tingkat ketahanan seseorang menghadapi tekanan, alat tes yang lazim digunakan adalah metode Kraepplin. Dengan mengajukan sejumlah pertanyaan, dapat diketahui bagaimana kemampuan orang dalam menghadapi tekanan. Tetapi tes Kraepplin sendiri tidak bersifat proyektif (jangka pendek). Sementara tes lain yang bersifat proyektif, validitasnya masih diragukan.

"Harus diingat bahwa hasil tes itu merupakan hasil tes yang menggambarkan kondisi orang saat dites. Bila memang ada kepribadian potensial, baik maupun buruk, akan terlihat, tetapi hal itu tidak bersifat mutlak karena bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu. Seperti kejadian di Semarang, banyak orang yang mengatakan tidak menyangka pelaku bisa melakukan hal itu karena kesehariannya orang baik dan hasil tes psikologinya pun baik. Tetapi hal itu berubah karena ada berbagai intervensi dalam perjalanan hidupnya yang membuat dia berubah," katanya.

Menurutnya, apa yang dikatakan baik dan buruk pun sebenarnya beragam, tergantung dari jenis pekerjaan yang diperlukan. Misalnya sebagai polisi, dikatakan baik bila dia dapat bersikap tegas dan berdisiplin tinggi. Kemudian pilot, dia harus mempunyai kepribadian yang bisa terfokus di satu titik sehingga tahu harus mengarahkan pesawat.

Karena hanya merupakan gambaran sesaat, maka tes psikologi perlu dilakukan berulang, misalnya ketika seseorang akan dimutasi atau mendapat posisi tertentu.

"Saat akan dilakukan mutasi tugas seharusnya dilakukan tes psikologi untuk menentukan apakah dia cocok untuk pos yang baru. Tidak hanya di kepolisian, tetapi juga di pekerjaan lain. Ambil contoh tes psikologi guru dan tes psikologi kepala sekolah sudah barang tentu berbeda karena keduanya dituntut melakukan hal yang berbeda," katanya.

Seluruh soal yang diajukan dalam tes psikologi merupakan tes untuk menentukan kepribadian seseorang. Tes psikologi yang lazim dilakukan di perusahaan-perusahaan, merupakan cara untuk mengetahui kepribadian seseorang. Seperti deret angka maupun rangkaian gambar, merupakan cara untuk melihat kepribadian seseorang.

"Deret angka dan deret kotak bukan untuk melihat kemampuan matematika seseorang. Tes itu semua untuk melihat kepribadian seperti apakah dia mempunyai sikap kepemimpinan, bisa bekerja sama dan lain-lain. Makanya jangan heran kalau melihat orang yang pandai matematika tidak lulus (tes psikologi deret angka dan kota, Red) sementara yang biasa saja lulus," katanya. [A-22]


Last modified: 23/3/07