SUARA PEMBARUAN DAILY

Kebebasan dalam Keluarga

Banyak orang menilai televisi membawa dampak buruk terhadap anak-anak. Banyak kasus kekerasan dan eksploitasi seksualitas dalam televisi ditiru anak-anak, seperti kasus tayangan smack down yang diduga memotivasi kekerasan pada anak hingga timbul korban jiwa. Belum lagi kasus-kasus lainnya.

Televisi dalam beberapa tahun terakhir memang dipercaya sebagai salah satu agent of change dalam perubahan sosial. Tetapi tidak selalu televisi membawa hal-hal yang negatif. Bagi Ilham Mahfudz, televisi seperti gelas yang kosong. "Tergantung kita mengisi dan memanfaatkannya. "Secantik apapun gelas itu kalau diisi dengan anggur merah, pasti akan membuat mabuk, kalau diisi dengan whiskey maka akan lebih cepat mabuk, tetapi kalau diisi dengan orange juice maka akan menyehatkan," ujarnya.

Hal itulah yang sepertinya menjadi pegangan saat Iim memegang posisi penting dalam perusahaan media massa. Televisi harus bisa menjadi alat untuk berbagi kepedulian dan rasa kebersamaan. "Saat ini sepertinya orang susah sekali mencari jalan untuk berbagi kepeduliannya. Banyak orang masih peduli dengan sesamanya, tetapi yang susah adalah menemukan jalan untuk menyalurkan hal itu," ucap pria dari tiga anak ini.

Ia sangat percaya bahwa televisi dapat menjadi alat penyambung kepedulian dan tidak hanya menjadi kotak penyebar keburukan saja. "Kepada anak-anak saya selalu memberitahu tayangan mana yang baik untuk ditonton dan tayangan mana yang tidak baik," ujarnya.

Meskipun begitu sebagai seorang ayah, Iim selalu memperlakukan keluarganya dengan demokratis. "Saya selalu mengajarkan kepada anak-anak saya untuk bisa mengambil keputusannya sendiri dan menanggung risikonya. Saya melihat bahwa masa depan anak-anak saya akan berbeda dengan saya. Tantangan yang harus mereka hadapi berbeda dengan tantangan yang saya hadapi saat ini. Saya hanya memberi pertimbangan-pertimbangan saja. Mulia gak tuh he...he...," kelakar pria yang hobi fotografi dan musik ini.

Iim memberi contoh saat anaknya memutuskan untuk memilih jurusan sejarah dan filsafat. "Anak pertama saya pilihnya sejarah dan bukan di perguruan tinggi yang besar, sementara anak saya yang kedua pilih jurusan filsafat. Keduanya atas keputusan mereka sendiri. Saya hanya bilang kalau jurusan filsafat harus kuat membaca, padahal anak saya waktu itu malas membaca. Mereka sudah dilatih untuk mengambil keputusan dan menanggung risikonya sendiri," ceritanya.

Selain selalu mengawasi anak-anaknya, Ilham sebenarnya memiliki hobi fotografi yang tidak lepas sampai saat ini. "Sejak saya kuliah saya sudah senang fotografi. Hasil yang paling memuaskan adalah ketika saya berhasil memfoto ayah saya dengan mimik yang sumringah dan akhirnya dipajang di rumah keluarga," kenangnya.

Selain itu Ilham juga senang mengkoleksi kaset-kaset lagu setempat jika berpergian ke suatu tempat. Hanya saja seringnya kaset-kaset itu banyak yang kusut. "Padahal lagunya bagus-bagus dan unik, he..he.." [K-11]


Last modified: 23/3/07