SUARA PEMBARUAN DAILY

Sekilas

Sendi Buatan Terbaru dari Jepang

Universitas Tokyo bersama dengan sebuah perusahaan manufaktur sendi buatan, Japan Medical Materials Corporation, di Osaka, Jepang, berhasil mengembangkan sebuah sendi buatan yang tidak mudah longgar pada bagian sambungan dengan tulang.

Selama ini, metode pembuatan sendi palsu dengan melapisi permukaan dengan molekul tingkat tinggi dan bubuk abrasi dapat menimbulkan kerusakan pada tulang dan menjadi penyebab utama kelonggaran pada sendi. Dengan sendi bikinan terbaru itu, fenomena ini dapat dihilangkan. Sendi buatan terkini itu bahkan dapat digunakan selama 25-30 tahun secara terus menerus. Ini berarti, dua kali lipat masa penggunaan sendi buatan yang ada di pasaran sekarang. Dalam waktu dekat juga direncanakan pemasangan sendi pinggul atau selangkangan buatan untuk menjalani tes klinis.

Sendi buatan umumnya terbuat dari bahan titanium alloy yang dipasang pada kedua ujung tulang dan berfungsi sebagai pengganti persendian yang rusak. Di Jepang jumlah pasien yang menjalani operasi pemasangan sendi buatan mencapai sekitar 130 ribu orang tiap tahunnya. Kebanyakan diakibatkan oleh kelainan (perubahan bentuk) pada tulang akibat penuaan atau reumatik pada sendi, dan dilatarbelakangi oleh penuaan. Jumlah ini terus mengalami peningkatan sebesar delapan persen setiap tahunnya. Selama ini kelonggaran adalah masalah komplikasi utama pada penggunaan sendi buatan itu.

Abrasi pada sebuah sendi buatan ditimbulkan oleh pergerakan di permukaan sendi. Untuk mengatasi hal itu, Yoshio Takatori, Toru Moro, dan beberapa peneliti lainnya di Universitas Tokyo, menggunakan bahan molekul tingkat tinggi bernama MPC yang sulit menimbulkan gesekan. Mereka membuat sendi buatan dengan memproses akhir permukaan sendi yang berupa polietilen dengan MPC.

MPC mempunyai struktur yang sama dengan komponen membran sel manusia sehingga banyak digunakan pula pada proses akhir, pelapisan kontak lens atau jantung buatan. Jika menimbulkan gesekan sekalipun, oleh badan akan sulit dikenali oleh tubuh makhluk hidup sebagai bahan material asing sehingga dikenal pula sebagai bahan yang sulit menimbulkan reaksi imun.

Grup penelitian ini telah melakukan pengujian abrasi atau ketahanan terhadap gesekan dengan meletakkan sendi buatan pada alat yang menjadi model untuk gerakan sendi pinggul atau selangkangan, kemudian mengadakan uji terhadap pergerakan yang setara dengan 20 juta langkah kaki. Hal ini setara dengan langkah kaki yang digunakan manusia dalam aktivitas keseharian selama 25-30 tahun.

Sendi buatan umumnya pada tes uji abrasi yang dilakukan terhadap 10 juta langkah dapat menimbulkan abrasi sebanyak 30 miligram. Sedangkan pada uji ketahanan abrasi yang dilakukan pada sendi buatan yang dilapisi dengan MPC ini telah dipastikan bahwa dengan beban mencapai 20 juta langkah pun tidak ditemukan abrasi sama sekali.

Bubuk polietilen, bahan utama sendi buatan, yang timbul dari abrasi akan dikenali oleh tubuh sebagai bahan material asing sehingga akan menimbulkan reaksi imun. Oleh sebab itu, tulang pinggul, tulang paha atau tulang lain di sekitar sendi yang menjadi dasar peletakan sendi buatan akan menjadi rusak dan akhirnya menimbulkan kelonggaran pada sendi.

Pada umumnya sendi buatan akan mengalami kelonggaran dalam jangka 10-15 tahun. Jika hal ini terjadi maka diperlukan operasi kembali untuk pemasangan ulang sendi buatan, sehingga menimbulkan beban fisik yang cukup besar pada pasien. Dengan penggunaan sendi buatan temuan baru itu, diharapkan beban seperti ini akan dapat dikurangi.

Saat ini sedang diteliti apakah akan timbul abrasi pada sendi buatan ini terhadap beban yang setara dengan 40 juta langkah. Sedangkan Japan Medical Materials Corporation saat ini sedang mengadakan persiapan untuk melaksanakan tes klinisnya. [berita iptek.com/N-5]

Teknologi Foto Kopi 3 Dimensi dari Tangerang

Dunia industri energi, perminyakan dan kimia di Amerika digemparkan dengan rilis teknologi terapan anyar yang dikeluarkan oleh Ohio State University. Teknologi dimaksud adalah electrical capacitance volume tomography (ECVT). Sebuah teknologi yang menggunakan sensor medan listrik statis yang bisa menampilkan gambar tiga dimensi dari tingkah laku gas dan partikel di dalam reaktor tertutup. Teknologi ini mengadopsi cara fotokopi yang bisa melihat secara real time dan tiga dimensi gerak gas dan partikel di dalam boiler maupun reaktor industri. ECVT ini memiliki akurasi yang tinggi dan menjadi cikal bakal teknologi berbasis clean energy.

Siapa menyangka teknologi dimaksud lahir di research center yang tidak lebih dari sebuah ruangan kecil di sebuah warnet di Tangerang dan penemunya adalah Dr Warsito, seorang Indonesia. Para industriawan dan ilmuwan teknologi terapan bisa menggunakan ECVT ini untuk observasi komposisi bahan di dalam reaktor kimia di industri, minyak di pengilangan, kepekatan gas di reaktor untuk instalasi tenaga listrik, gas di dalam reaktor nuklir dan banyak reaktor terapan lainnya yang bertekanan tinggi dan suhu tinggi.

Teknologi yang sama bisa diterapkan pula ke dalam berbagai bidang dari kedokteran, pertambangan, proses kimia hingga body scan untuk keperluan security. Sebagaimana rumah sakit yang memakai USG maupun MRI untuk mengetahui gejala penyakit di dalam tubuh, maka kalangan industri pun memerlukan teknologi yang sama yaitu menggunakan tomography untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam boiler, tangki reaktor maupun reaktor tekanan tinggi secara akurat dan real time. Demikian ditekankan oleh Dr. Warsito, yang menjadi penemu sekaligus pemilik paten teknologi ECVT ini.

Sistem ini bisa melihat tembus secara 4 dimensi dengan rinciann 3 dimensi hasil rekonstruksi dan online/realtime. Sistem ECVT ini terdiri dari sistem sensor, sistem data akuisisi dan perangkat komputer untuk kontrol, rekonstruksi data dan display.

Teknologi yang sama bisa digunakan untuk melakukan pencitraan terhadap aktivitas di dalam gunung berapi atau semburan lumpur dari kebocoran sumur gas miliki Lapindo seperti yang terjadi di Sidoarjo.

Dr Warsito meraih gelar doktor dari Universitas Shizuoka Jepang tahun 1997. Dia memulai research tomography ini sejak tahun 1991 ketika masih menjadi mahasiswa S1. Ketika itu dia mengembangkan Ultrasound Tomography untuk tujuan yang sama yaitu mendeteksi kepekatan gas dan partikel di dalam reaktor multi fase. Teknologi tomography ini kemudian dibawa ke Amerika bekerja sama dengan Profesor L. S. Fan dari OSU dengan merintis teknologi tomography baru berbasis medan listrik statis.

Profesor Fan semula tidak percaya dan bahkan tidak memahami temuan canggih ini. Tetapi setelah Dr Warsito mendapat pengakuan dari asosiasi teknik kimia di Amerika dan juga asosiasi industri minyak di sana, baru Profesor Fan tertarik. Profesor Fan kini menjadi terkenal karena ECVT, meskipun telah dipatenkan oleh Dr. Warsito. [berita iptek.com/N-5]


Last modified: 24/3/07