SUARA PEMBARUAN DAILY

Tokoh Minggu Ini

Tetap di Tengah

Anna Lo [Foto: AP]

Anna Lo menjadi orang yang "aneh" bagi panggung politik di Irlandia Utara. Dia bukan berasal dari kalangan Katolik atau Protestan yang menjadi kelompok mayoritas di negara itu. Bahasa lokal yang biasa digunakan Lo pun masih dipengaruhi logat Canton.

Keluarga Lo yang berasal dari Hong Kong telah bertahun-tahun tinggal di Irlandia Utara. Lebih dari 32 tahun. Pada Jumat (9/3), wanita itu berhasil menang dalam pemilihan anggota legislatif. Dia menjadi orang dari kelompok etnis minoritas pertama yang terpilih menjadi anggota parlemen. Beberapa media massa Tiongkok menulis, Lo adalah warga keturunan Tiongkok pertama yang terpilih menjadi anggota parlemen di daratan Eropa.

Lo adalah satu di antara tujuh orang dari Partai Aliansi yang terpilih menjadi anggota Majelis Irlandia Utara. Jumlah anggota parlemen itu seluruhnya adalah 108 orang.

"Saya seorang penganut Tao, bukan Nasrani. Dan saya tidak ingin berubah menjadi oranye atau hijau. Saya tetap akan berada di tengah-tengah," kata Lo. Oranye adalah warna yang sering dipakai oleh kelompok Protestan Inggris dan hijau oleh Katolik Irlandia.

Menurut dia, partai yang saat ini menjadi tempat dia bernaung dalam panggung politik telah menawarkan alternatif bagi masyarakat Irlandia Utara. Partai Aliansi, kata dia, memberikan alternatif bagi politik tradisional di negara itu. "Dan, rakyat ternyata mulai melirik alternatif itu," kata dia.

Sebelum terpilih, Lo yang berusia 56 tahun menjabat sebagai pemimpin di Asosiasi Kesejahteraan Warga Tiongkok di Belfast. Menurut dia, saat ini ada sekitar 10.000 warga keturunan Tiongkok di Irlandia Utara.

Mereka telah hidup di negeri itu selama lebih dari tiga dekade. Selama masa itu, baru Lo yang bisa terpilih sebagai wakil rakyat dari warga keturunan Tiongkok.

Pada masa kampanye yang berlangsung selama enam pekan, Lo banyak keliling di kawasan Belfast Selatan. Kawasan itu merupakan wilayah para mahasiswa dari Queen's University. Kawasan yang banyak dihuni oleh kaum cendekia.

Tapi, di kawasan itu pula kerap terjadi aksi serangan bersifat rasis terhadap kaum migran. Kebanyakan kaum migran bekerja di rumah sakit, terutama yang berasal dari Afrika dan Filipina. Aksi kekerasan terhadap para pendatang itu sudah sering terjadi selama beberapa tahun.

"Saya sungguh tak ingin menjadi wakil rakyat dari kelompok minoritas. Tapi, saya ingin mengubah konflik yang muncul akibat perbedaan budaya di sini, mempromosikan integrasi sekolah-sekolah, dan membudayakan sikap saling menghormati di antara para warga," kata dia. [berbagai sumber/O-1]


Last modified: 24/3/07