SUARA PEMBARUAN DAILY

Menanti Jalan Keluar Irak

Ribuan orang turun ke jalan untuk memperingati empat tahun berlangsungnya Perang Irak di Washington, DC, Sabtu (17/3). Para pengunjuk rasa mempertanyakan penyelesaian masalah Irak dan penarikan pasukan AS dari sana. [AP/J David Ake]

Empat tahun perang mengakibatkan kehancuran di mana-mana. Seorang ibu dan anaknya menapaki reruntuhan bekas barak tentara di zaman Saddam Hussein. Pendudukan AS menyebabkan ribuan penduduk sipil tewas, dua juta mengungsi ke Suriah dan Yordania dan 1,8 juta mengungsi di Irak. [AP/Samir Mizban]

** missed drop char **Beberapa hari setelah pasukan koalisi di bawah pimpinan Amerika Serikat (AS) memasuki Irak, negara yang menyimpan cadangan minyak terbesar kedua di dunia itu, suasana berubah tampak di mana-mana.

Di Kirkuk, orang menari di jalan-jalan, melambaikan lembaran kain bertuliskan "Terima Kasih Mr Bush." Air mata haru sekaligus kegembiraan mengembang di pelupuk mata mereka yang menari. Di Hilla, selatan Kota Baghdad, kerumunan orang berusaha menggali tanah untuk memeriksa kandungan di bawah permukaan tanah yang mereka yakini sebagai kuburan massal pembangkang-pembangkang Saddam. Sebuah reuni yang menyedihkan, pertemuan dengan tulang-belulang orang-orang yang mereka kasihi. Namun, di sisi lain mereka bersuka cita karena penguasa yang mereka takuti sudah digulingkan.

Setelah Saddam diturunkan, warga di sepanjang Sungai Tigris bisa menyaksikan istana yang di zaman Saddam dilarang dimasuki. Rakyat Irak seakan tak percaya ini mimpi atau kenyataan, istana megah kini bisa dinikmati rakyat jelata.

Di Tikrit, kampung halaman Saddam Hussein, sekelompok pemuda berteriak-teriak dengan rasa marah. "Saddam masih pemimpin kami." Mereka geram karena pemimpinnya digulingkan oleh kekuatan asing.

Memang setiap orang Irak menyimpan kisah tersendiri terhadap peristiwa 20 Maret 2003. Ada yang gembira, ada yang marah. Tetapi sebagian besar memiliki harapan yang nyata, sebuah masa depan yang lebih baik akan terbentang. Rakyat merasa itulah akhir dari segala penderitaan dan peperangan yang acapkali mengusik kehidupan mereka.

Tapi empat tahun sudah berjalan, semua harapan cerah itu sirna. Senyuman riang tak lagi menghiasi wajah orang-orang yang tadinya meluapkan kegembiraan selepas cengkeraman Saddam.

Salah seorang warga Irak, Ayub Nuri, menuturkan, apa yang didambakannya tak kunjung diraih. Secara perlahan satu per satu impian pun sirna. Bukan hidup damai dan sejahtera yang mereka dapati melainkan hari penuh mimpi buruk yang mereka jalani. Kekerasan jadi santapan sehari-hari, rasa aman menjadi barang mahal. Kelompok milisi bergentayangan di jalanan, penculikan bukan barang baru, bom meledak di mana-mana.

Di kota-kota pendukung Saddam, rakyat yang marah terus mengepalkan tangan berjanji untuk melancarkan pembangkangan. Perang mempersatukan rakyat Irak dalam kekecewaan. "Mereka yang menari di jalan- jalan Kota Kirkuk kecewa dan skeptis dengan masa depan Irak," kesan pahit Ayub dalam tulisannya di Washington Post.

Makin Ditentang

Pada awal perang, banyak yang percaya langkah AS dan sekutunya ke Irak sebagai perjuangan merebut kebebasan dan membangun demokrasi untuk rakyat Irak yang bertahun-tahun ditekan oleh rezim Saddam. Kini, semua hanya mimpi belaka.

Situasi di Irak bikin sakit kepala bukan saja bagi rakyat Irak, tetapi juga Timur Tengah dan AS sendiri. Bagi rakyat Irak, tiap hari adalah kekerasan. Selama empat tahun perang, ratusan ribu nyawa warga Irak melayang, dua juta lainnya mengungsi kebanyakan ke Suriah dan Yordania. Di sisi AS, sudah 3.197 tentara yang mati. Kerugian total diperkirakan melebihi US$ 450 miliar.

Ketakutan

Bukan keamanan dan ketenangan yang menghampiri rakyat Irak melainkan kekerasan dan ketakutan. Tiap hari situasi makin memburuk dan tidak menentu. Pada November dan Desember 2006, menurut PBB, sebanyak 5.000 warga sipil terbunuh, ada yang disiksa sampai mati, terkena bom dan pertikaian berdarah sesama warga Irak.

Dukungan masyarakat internasional pun berubah. Separo lebih penduduk Inggris, misalnya, tidak lagi percaya bila pemerintah memakai alasan bahwa perang dibutuhkan untuk menopang keamanan nasional. Sebuah survei yang dilakukan BBC menemukan, hampir 60 persen rakyat Inggris yakin AS dan Inggris telah menempuh keputusan yang keliru. Sebanyak 29 persen yakin perang itu tidak bisa dibenarkan. Mereka berpendapat, pengiriman militer ke mancanegara baru bisa disetujui bila untuk membantu negara yang tertimpa bencana. "Inilah perang yang berlangsung di tempat yang salah, pada waktu yang salah dan alasan yang salah," komentar di Inggris.

Kini menjadi persoalan besar bagaimana mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan di Irak serta ke luar dari Irak. Berkemas dan pulang pada saat ini memang bukanlah pilihan yang bijaksana karena akan menjerumuskan Irak ke dalam perang saudara yang berkepanjangan.

Partai Demokrat yang menguasai Kongres AS mengusulkan tenggat waktu tahun 2008 sebagai jadwal penarikan pasukan AS dari Irak. Setidaknya sebelum kampanye pemilu dimulai, sebagian besar pasukan AS sudah ditarik. Upaya-upaya ke arah itu terus diupayakan di Kongres.

Kubu Demokrat di DPR semakin yakin bisa meloloskan legislasi yang dirancang untuk menekan diakhirinya perang di Irak. DPR AS bersiap mengadakan pemungutan suara mengenai anggaran US$ 124 miliar guna mendanai perang di Irak dan Afghanistan, tetapi di dalamnya mencantumkan tuntutan agar pasukan tempur pulang sebelum September 2008.

RUU itu akan menjadi langkah besar bagi diakhirinya perang. Kalau RUU itu lolos maka akan menjadi resolusi mengikat pertama sejak perang dikobarkan empat tahun silam.

Langkah ini belum tentu berjalan mulus. Di Senat, beberapa senator Demokrat tidak setuju dengan jadwal ketat penarikan pasukan sementara Presiden George W Bush bertekad untuk memveto habis-habisan.

Legislasi serupa juga diupayakan di Senat. Namun, kubu Republik berkomitmen untuk mencopot provisi soal penarikan itu dalam pertemuan Senat pekan depan.

Artinya, di dalam AS, dalam jangka pendek belum ada kepastian jadwal bagi Irak.

Jenazah tentara AS yang tewas di Irak, Sersan Michael Peek, hendak dimakamkan di Pemakaman Nasional Arlington, Selasa (20/3), bertepatan dengan empat tahun Perang Irak. Sudah 3.000 tentara AS yang mati di Irak. [AP/Evan Vucci]

Negara Tetangga

Keikutsertaan negara-negara di kawasan Timur Tengah sangat menentukan bagi penyelesaian masalah Irak. Dalam hal ini menjadi kebutuhan AS untuk menggalang bantuan regional. Kalau dulu AS yakin bisa memenangi perang, kenyataan kali ini menunjukkan bukti berbeda. Mewujudkan perdamaian di Irak dan menarik pasukan pulang bukan hal gampang. Dua hal itu bisa diraih bila ada solusi di kawasan yang melibatkan Suriah, Iran dan Arab Saudi.

Langkah itu sebetulnya telah dimulai dengan konferensi keamanan di Baghdad pada 10 Maret yang mengundang enam negara tetangga Irak antara lain Suriah dan Iran, lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan sejumlah wakil negara-negara Arab.

Konferensi satu hari untuk menyusun langkah bagi masa depan Irak itu akan dilanjutkan dengan pertemuan tingkat menteri, kemungkinan April entah di Kairo atau Istanbul. Tetangga-tetangga Irak, seperti Iran dan Suriah, juga akan dilibatkan lagi.

Dengan melibatkan Suriah dan Iran maka keduanya bisa berpartisipasi mewujudkan perdamaian Irak. Tanpa menyebut negara, Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki meminta agar negara asing tidak mendukung kelompok-kelompok tertentu di dalam negeri. "Irak, tidak mau kalau negerinya dijadikan ajang konflik bagi negara-negara di kawasan maupun internasional," pintanya.

Maliki beralasan, bila kekerasan di Irak tak kunjung padam, dampaknya akan melebar ke kawasan lain. Beban yang harus ditanggung Irak pun menjadi beban negara lainnya.

Sebaliknya ia mengimbau para tetangga memberikan kontribusi positif guna menyukseskan proses politik dan terwujudnya keamanan di Irak. "Kami menyerukan kepada saudara dan teman untuk menyatukan langkah menuju masyarakat Irak tanpa garis sektarian atau perbedaan etnis," imbau al-Maliki.

Permintaan itu direspons ketua delegasi Iran Abbas Araghchi. Ia berjanji untuk berbuat lebih banyak guna mendukung pemerintahan Irak yang dipimpin perdana menteri beraliran Syiah. Dengan pernyataan itu, Iran mengisyaratkan mau bekerja sama dengan pemerintahan Irak yang didukung AS. Pada akhir konferensi disepakati untuk membangun tiga komite teknis pada masalah kerja sama keamanan, pengungsi Irak dan energi.

Pergeseran

Melibatkan Iran dan Suriah mencerminkan pergeseran pendekatan AS. Terlihat AS sudah kewalahan dan tidak mampu mengatasi situasi Irak. Sebelum ini, Bush menolak tegas seruan dari Kongres AS dan Kelompok Studi Irak (ISG) untuk melibatkan Iran dan Suriah dalam pembicaraan-pembicaraan tentang Irak. Suriah dituding mengizinkan aktivis-aktivis asing dan kaum perlawanan Sunni memasuki Irak melalui perbatasannya. Sementara Iran dituduh berada di balik pengiriman senjata ke milisi Syiah.

Di sela-sela konferensi terjadi kontak antara petinggi Iran dan AS. Kesempatan itu berharga bagi keduanya. Kontak dengan AS dapat membantu Iran menempatkan kepentingannya di Irak termasuk menekan kelompok Sunni. Sebaliknya, AS membutuhkan dukungan politik Iran untuk menekan milisi Syiah yang masih beredar di Irak.

Keterlibatan tetangga-tetangga Irak ini bisa mendongkrak dukungan yang lebih besar untuk mewujudkan perdamaian dan kemakmuran Irak.

Oleh Wartawan "Pembaruan" Yohanna Ririhena


Last modified: 24/3/07