SUARA PEMBARUAN DAILY

Jadi Penulis Melalui Komunitas

Suasana di Perpustakaan Depdiknas, Jakarta. [Pembaruan/Ruht Semiono]

Anda gemar menulis dan membuat karangan ? Arswendo Atmowiloto pernah bilang "mengarang itu gampang". Tetapi ternyata sesudah tulisan itu selesai, banyak yang kebingungan. Masalahnya, tidak semudah itu mempublikasikan karangan tersebut. Bahkan banyak yang kurang percaya diri untuk itu. Kini, akses untuk mempublikasikan karangan atau tulisan mulai terbuka. Terutama bagi mereka yang hobi menulis dan memang berbakat. Yakni melalui komunitas.

Tahu tidak, kalau CS Lewis pengarang the Chronicles of Narnia dan JRR Tolkien pengarang The Lord of The Rings ternyata mematangkan karya mereka lewat komunitas yang mereka ikuti. Lewis misalnya membawa karyanya untuk dikritisi bahkan 'dibantai' oleh rekan-rekannya. Dari situlah ia belajar banyak hal untuk meningkatkan kua- litas menulisnya. Demi- kian juga dengan Tolkien yang mengikuti komunitas Inklinks.

Dia bahkan mengaku dari sana dia belajar meningkatkan kualitas menulisnya. Hal yang agak mirip bahkan juga bisa dilihat adalah pada sastrawan eksistensialis Jean Paul Sartre yang semasa hidupnya terkenal lebih sering menghabiskan waktunya di kafe untuk berdiskusi, guna mengasah pikirannya yang akhirnya dituangkan dalam berbagai tulisan.

Kini kondisi semacam itu tersedia di sini. Berbagai komunitas penulis telah tumbuh di Indonesia beberapa tahun belakangan ini. mulai dari Akademi Kebudayaan Yogyakarta dengan Komunitas Rumah Lebah di Yogyakarta, FS3LP (Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar) oleh W. Haryanto dan kawan-kawan di Surabaya, Masyarakat Sastra Jakarta dan Komunitas Sastra Indonesia di Jakarta, lalu ada juga Forum Lingkar Pena (FLP) oleh Helvy Tiana Rosa. Ada juga komunitas berbasis internet seperti Bunga Matahari, Komunitas Bambu, Komunitas Merapi, Bumi Manusia Komunitas ini umumnya lahir dari kesamaan minat dan hobi akan karya sastra.

Menurut Helvi dalam situs resmi FLP menyebutkan bahwa pembentukan komunitas itu lebih diawali oleh rasa ingin bersatu dengan rekan satu gagasan, ini terutama karena mereka berada di lingkungan yang kurang mendukung minat mereka dalam menulis atau bersastra. Dimotori oleh tiga penulis muda -- Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan Maimon Herawati -- FLP didirikan pada 22 Februari 1997 di kampus UI Depok.

Setahun berselang, berdiri cabang pertama di Bontang, Kalimantan Timur. Seiring perjalanan waktu, komunitas ini berkembang di lebih dari 125 kota di Indonesia dan mancanegara. Yang membedakan antara komunitas ini dengan kegiatan komunitas lain adalah adanya keinginan untuk menghasilkan suatu karya bersama yang masih berhubungan dengan dunia penulisan misalnya, membuat majalah, membuat buku antologi atau mengadakan lokakarya penulisan untuk masyarakat di daerahnya, dan sebagainya. Sebagian besar hubungan berlangsung di dunia maya.

Ternyata belakangan beberapa dari komunitas tersebut telah melahirkan pengarang-pengarang berbakat. Dan FLP yang bergulir selama 10 tahun termasuk yang paling banyak melahirkan penulis. "Tak kurang dari 500 di antaranya telah menjadi penu- lis dan menerbitkan lebih dari 500 judul buku," kata Ketua Umum FLP, M Irfan Hidayatullah.

Mereka tersebar dari Aceh hingga Makassar, Padang hingga Bima, Mesir hingga Jepang, Amerika hingga Hong Kong. Uniknya, sebagian besar buku yang dihasilkan oleh para penulis FLP adalah buku cerita (fiksi), sehingga ada yang menjuluki FLP sebagai 'pabrik penulis cerita'

Bahkan belum lama ini mereka meluncurkan 10 buku diantaranya Pitaloka karya Tasaro (penerbit Syaamil Cipta Media, 2007), Beautiful Days karya Bella (DAR! Mizan, 2007), The Lost Prince karya Sinta Yudisia (Gema Insani Press, 2007), Iori: Terperangkap di Dunia Mimpi karya Lian Kagura (Lingkar Pena Publishing House, 2007), Dreams karya Leyla Imtichanah (Cinta Publishing, 2007), Perjalanan yang Bulan karya M Irfan Hidayatullah (Pustaka Latifa, 2007), The Way of Love karya Haekal Siregar (Zikrul Hakim, 2007), Modern Nggak Mesti Kayak Bule karya Jonru (Zabit Mobile Book, 2007).

Dana

Menurut Ekky Eimanjaya, anggota dari FLP dan komunitasnya masih memunculkan persoalan-persoalan yang faktanya masih banyak menghampiri para penulis pemula, misalnya masalah dana, karya yang masih belum banyak, komunikasi ke penerbit sampai dengan hubungan kepada selera pembaca.

Ini semua akan bisa diatasi bersama-sama. Tak hanya itu, komunitas ini menjadikan sastra sebagai media aksi sosial-budaya, misalnya untuk menghimpun dana kemanusiaan, mendanai kampanye membaca dan menulis, dan pendirian Rumah Cahaya (Rumah Baca dan Hasilkan Karya) di berbagai daerah.

"Sastra haruslah memiliki manfaat maksimal ba- gi pengembangan budaya bangsa dan penegak moral bangsa," kata Helvy.

Sementara itu penulis Maman S Mahayana menyebut gerakan komunitas semacam ini laksana menjawab harapan sejumlah besar kaum remaja Indonesia akan kebutuhan belajar menulis dan mengarang. Dia menyebut gerakan dari FLP bersinergi dengan gerakan komunitas sastra lainnya yang bermunculan di berbagai daerah di Indonesia yakni massalisasi kegiatan bersastra di seluruh Indonesia. Apalagi ratusan buku telah diterbitkan dan sejum- lah penulis potensial telah dilahirkan.

Kini dari Yogyakarta ada nama Puthut E.A., Raudal Tanjung Banua, Saut Situmorang, Eka Kurniawan, Katrin Bandel dan T.S. Pinang. Di Surabaya, tercatat nama W. Hary-anto, Indra Cahyadi, Imam Muhtahrom dan Ribut Wiyoto. Di Jakarta, ada nama Nanang Suryadi, Widodo Arumdono, Donny Anggoro, Ahmad Sekhu, Rukmi Wisnu Wardani. Di Bandung, ada nama Firman Venayaksa, Wida Sireum Hideung, Matdon dan lainnya.

Selain menjadi ajang pertemuan para penulis, komunitas juga menjadi terapi bagi penulis yang berhadapan dengan writer's block, atau mati angin' karena inspirasi dan gairah menulis tiba-tiba hilang. Komunitas menjadi support group bahkan terapi untuk melahirkan kembali inspirasi. Seperti yang diterapkan situs kemudian.com. Anggota situs bisa saling berbagi cerita dan meneruskan kisah yang dituliskan oleh anggota lainnya.

Uniknya, situs ini menerapkan sistem poin sehingga kesan permainannya semakin kental. Anggota baru akan memiliki poin 0 (kosong) sedangkan untuk memulai atau melanjutkan sebuah cerita ia harus 'membayar' dengan 20 poin. Untuk mendapatkan poin, anggota bisa mengirim komentar atau mengundang temannya untuk menjadi anggota situs tersebut. Karya yang dituliskannya juga bisa mendapatkan poin dari anggota lain. Jadi tinggal pilih komunitas mana yang cocok untuk dunia mengarang Anda. [W-10]


Last modified: 23/3/07