SUARA PEMBARUAN DAILY

Sajak Isbedy Stiawan ZS

Upacara 48

masih kukenang

rambut berkepang

bertamu saat petang

halaman masih lengang

aku menari

menyambut tibanya

dan kukabarkan padamu

"aku telah jatuh cinta

saat usiaku masih belia."

lalu hari terus berlari

laksana kuda

sangatlah kencang

dan dari kaki-kakinya

menebarkan debu

mataku matamu

terasa pekat

hingga lupa

jalan pergi jalan kembali

bertahun-tahun cinta diperam

lupa pada rambut berkepang

yang bertamu saat petang

rambutku rambutmu

akhirnya memutih

pipimu pipiku

makin pipih

di kepalaku kini

terbit matahari senja

dipenuhi cahaya:

Putih....

kau tahu

berapa hitungan

usia telah kuperam?

sekejap akan matang

tinggal semenit pulang

5 Juni 2006/Awal 2007

Kami Berakit

Jika laut tak pasang

kenapa banjir datang?

Di kotaku selalu

ada air yang datang,

seperti pelanggan

belanja atau menagih utang

memasuki rumah-rumah

bawa pergi barang berharga

laksana perahu

rumah-rumah melarung

"di genting kami merenung,

siapa salah? dosa siapa?"

di halaman rumah,

kami menanti

kiriman makanan

dan obat-obatan. Tapi,

katamu: "bantuan

sudah habis oleh

bencana tak habis-habis!

sedang presiden

datang mengulum permen

para menteri senyum-senyum

menjenguk dengan rombongan

sementara kami kelaparan,

banyak yang sakit-sakitan."

Di kotaku, setiap

air datang

tak kulihat wakil rakyat

berakit-rakit

menuju permukiman

yang tenggelam...

Jika laut tak pasang

jika rupakota rumpang

tunggulah air

jadi langganan

genangi permukiman

tahun setiap tahun

kami berakit

berburu penyakit

ataupun sekarat

2002/2004

Mungkin Kota Kita Beda

empati buat Saut Poltak Tambunan

aku dibangunkan

oleh sapaan

katamu: "ada yang

tak sempat kuceritakan

dari jalan-jalan

macet kotaku. tentang

hari-hariku jenuh..."*)

di kotaku yang cahaya,

jalan-jalan lengang,

di pusat-pusat perbelanjaan

yang selalu telanjang

ingin kuceritakan

tak pernah lagi datang

nuh bawakan sampan

maka aku jadi kelu

sekadar mengabar senyum

apalagi mengirim bingkisan

- juga jabat tangan -

mungkin kota kita beda

tapi apakah hati pun berpisah?

di pelupuk rembang

aku ingin pelukmu, abang...

2007

*) baris-baris ini merupakan pesan pendek Poltak Tambunan (06/02/07) saat mengabarkan banjir di Jakarta

Sajak Dua Bagian

(bagian ke satu)

ya, aku dapati senyummu

datang dan berkelebat

seperti langit yang kadang

benderang atau pekat

tapi di pipimu yang siang

kulabuhkan bibirku yang dahaga

aku tak bisa lepas darimu

aku meapat,

makin mengetat

di siang bermatahari

aku mau mengajakmu mandi

di sungai

atau di pantai

di payau yang landai?

(bagian ke dua)

dan kesepian melekat

kekal?

di jalan-jalan menuju

kesaton dan tanah lot

jejak kita masih membekas

mendekap seperti saling cecap

kau - kekasih - yang mengusik

asyik. aku mau kau selalu

merapal kata-kata

sampai aku terlena

aku ingin kau bacakan puisi

agar aku lelap dalam jagamu,

bisikmu

aku pun ....

30-31 Januari 2007


Last modified: 23/3/07