masih kukenang
rambut berkepang
bertamu saat petang
halaman masih lengang
aku menari
menyambut tibanya
dan kukabarkan padamu
"aku telah jatuh cinta
saat usiaku masih belia."
lalu hari terus berlari
laksana kuda
sangatlah kencang
dan dari kaki-kakinya
menebarkan debu
mataku matamu
terasa pekat
hingga lupa
jalan pergi jalan kembali
bertahun-tahun cinta diperam
lupa pada rambut berkepang
yang bertamu saat petang
rambutku rambutmu
akhirnya memutih
pipimu pipiku
makin pipih
di kepalaku kini
terbit matahari senja
dipenuhi cahaya:
Putih....
kau tahu
berapa hitungan
usia telah kuperam?
sekejap akan matang
tinggal semenit pulang
5 Juni 2006/Awal 2007
Jika laut tak pasang
kenapa banjir datang?
Di kotaku selalu
ada air yang datang,
seperti pelanggan
belanja atau menagih utang
memasuki rumah-rumah
bawa pergi barang berharga
laksana perahu
rumah-rumah melarung
"di genting kami merenung,
siapa salah? dosa siapa?"
di halaman rumah,
kami menanti
kiriman makanan
dan obat-obatan. Tapi,
katamu: "bantuan
sudah habis oleh
bencana tak habis-habis!
sedang presiden
datang mengulum permen
para menteri senyum-senyum
menjenguk dengan rombongan
sementara kami kelaparan,
banyak yang sakit-sakitan."
Di kotaku, setiap
air datang
tak kulihat wakil rakyat
berakit-rakit
menuju permukiman
yang tenggelam...
Jika laut tak pasang
jika rupakota rumpang
tunggulah air
jadi langganan
genangi permukiman
tahun setiap tahun
kami berakit
berburu penyakit
ataupun sekarat
2002/2004
Mungkin Kota Kita Beda
empati buat Saut Poltak Tambunan
aku dibangunkan
oleh sapaan
katamu: "ada yang
tak sempat kuceritakan
dari jalan-jalan
macet kotaku. tentang
hari-hariku jenuh..."*)
di kotaku yang cahaya,
jalan-jalan lengang,
di pusat-pusat perbelanjaan
yang selalu telanjang
ingin kuceritakan
tak pernah lagi datang
nuh bawakan sampan
maka aku jadi kelu
sekadar mengabar senyum
apalagi mengirim bingkisan
- juga jabat tangan -
mungkin kota kita beda
tapi apakah hati pun berpisah?
di pelupuk rembang
aku ingin pelukmu, abang...
2007
*) baris-baris ini merupakan pesan pendek Poltak Tambunan (06/02/07) saat mengabarkan banjir di Jakarta
Sajak Dua Bagian
(bagian ke satu)
ya, aku dapati senyummu
datang dan berkelebat
seperti langit yang kadang
benderang atau pekat
tapi di pipimu yang siang
kulabuhkan bibirku yang dahaga
aku tak bisa lepas darimu
aku meapat,
makin mengetat
di siang bermatahari
aku mau mengajakmu mandi
di sungai
atau di pantai
di payau yang landai?
(bagian ke dua)
dan kesepian melekat
kekal?
di jalan-jalan menuju
kesaton dan tanah lot
jejak kita masih membekas
mendekap seperti saling cecap
kau - kekasih - yang mengusik
asyik. aku mau kau selalu
merapal kata-kata
sampai aku terlena
aku ingin kau bacakan puisi
agar aku lelap dalam jagamu,
bisikmu
aku pun ....
30-31 Januari 2007