SUARA PEMBARUAN DAILY

Luka yang Indah

Siang teduh, ketika langit Kamang ditutup awan. Man bergegas keluar dari sawah. Membiarkan cangkul tergolek berlumur lumpur. Dia berlari membiarkan kerjanya yang terbengkalai. Terburu-buru lelaki separuh baya itu berlari di sepanjang pematang sawah, mendekati Mina yang berteriak-teriak di pinggir bandar.

"Da Man... Da Man....Timah mengamuk lagi...dia bertelanjang keluar rumah sambil marah-marah."

Man mencuci tangan pada genangan air, membersihkan badan dari lumpur yang memberati tubuhnya.

"Di mana dia sekarang?"

"Di lapangan, melempari kaca jendela sekolah."

Awan beranjak, matahari merekah, sampai di kepala Man. Panas, panas juga hati Man menghadapi perangai Timah, tetapi waktu ternyata telah menyabarkan Man selama sepuluh tahun bebih. Selama itu dia mampu hidup dengan Timah, serumah. Memandikan, memberi makan, kadang harus mengikat istrinya itu pada tiang utama Rumah Gadang. Sepulun tahun, bukan waktu yang singkat untuk bertahan dalam kengiluan mengobati Timah dengan segala daya dan upaya. Berobat ke dukun, mengantarkan ke rumah sakit jiwa, sebentar, tetapi cukup menguras biaya. Akhirnya Man pasrah. Mengalah dengan keterbatasan. Jangankan untuk mengobati Timah, untuk kebutuhan hidup sehari-hari saja susah. Padi kadang menjadi. Tapi lebih sering dapat lelahnya saja. Dimakan tikus, wereng, atau dilanyau1 babi.

"Kalian bakar rumahku, anjing...kalian bakar anakku, babi..."

Di lapangan, Timah mengeluarkan kata-kata yang telah hafal dimulutnya. Entah sadar atau tidak, yang pasti hanya kata-kata itu yang menjadi kosakata yang dimilikinya. Kata-kata makian yang telah hafal di telinga orang-orang di sekitarnya. Kata-kata yang selalu keluar dari mulutnya ketika sakitnya bangkit seperti itu. Kalau dia sedang baik dia hanya diam saja bermenung-menung seorang diri, menangis,dan tertawa sendiri di rumah.

"Timah...pulang."

Man masih punya malu, dibukanya kain sarung yang menjadi ikat kepalanya. Dipasangkan untuk menutupi tubuh Timah yang hanya memakai celana dalam saja. Timah menurut saja ketika tangannya diseret Man. Hanya Man satu-satunya manusia yang dikenalnya. Pulang. Kembali ke rumah sederhana yang dibangun kembali di atas bekas reruntuhan rumah mereka yang lama. Di rumah itu juga anak mereka satu-satunya berpulang, ketika mereka sedang ke sawah. Saat itu mereka tinggalkan si buah hati yang sedang tertidur pulas. Tapi nasib menentukan nyawanya sampai hari itu. Siang hari yang panas, rumah kayu mereka terbakar, membakar anak mereka di dalamnya. Timah marah, tidak bisa menerima kenyataan hingga hilang ingatan.

"Sudah sering kukatakan Timah, jangan lagi membuat ulah."

Timah diam saja, mempermainkan ujung kain sarung yang menutup tubuhnya. Sebelum pergi, Man mengambilkan nasi dan sedikit panggang ikan ditambah lado mudo patai untuk istrinya. Perempuan itu diam saja, mungkin dia merasa bersalah karena telah membuat Man marah.

"Makanlah....sudah hampir zuhur."

Man mengambilkan air untuk mencuci tangan Timah, saat dia sodorkan kepada perempuan itu, dia tetap diam. Man meraih tangan Timah, dengan kasih dia cuci tangan perempuannya itu. Man menyuapi Timah sesuap nasi. Setelah itu baru Timah tersenyum sambil mencuri-curi pandang pada Man.

"Makanlah...aku tidak marah padamu."

Timah baru berani makan setelah mendengar kata-kata itu.

"Tapi jangan kau ulangi lagi perbuatan seperti itu."

Timah seperti tidak mendengar lagi kata-kata Man, dia sangat menikmati makannya. Sebelum benar-benar pergi, Man menyeka peluh yang berurai di kening istrinya. Setelah itu baru dia melangkah pergi, sambil mengunci pintu dari luar. Kembali ke sawah. Seribu pikiran muncul dalam benaknya di sepanjang jalan menuju sawah. Sepuluh tahun, ternyata menguras kesabarannya.

"Nanti malam aku akan datang ke rumah Mak Sutan." Membatin Man meyakinkan dirinya, mengumpulkan segenap keberanian yang dimilikinya. Sesampai di sawah, Man tidak melanjutkan pekerjaannya. Dia mengambil cangkul yang terbenam ke dalam lumpur, mencuci tangan pada genangan air sawah, lalu pulang ke rumah.

Sepanjang jalan, angin pegunungan terus mengusik ingatannya akan Timah yang kalah. Dulu, untuk menikah mereka sangatlah susah. Orangtua Timah tidak mau bermenantu orang miskin yang hanya pandai memegang cangkul dan tali kerbau saja. Tapi cinta telah mempertemukan mereka. Seperti anak-anak muda seumurnya, mereka pun bersumpah setia. Di mana tumbuh disiangi, di mana melintang dihadapi. Apapun yang terjadi mereka akan sehidup semati.

"Menikahlah kalian, tapi ingat Timah, jangan pernah lagi kau injakkan kaki ke rumah ini lagi, biarlah...kuanggap kau telah mati."

Akhirnya orangtua Timah mengalah, membiarkan anaknya menuruti jiwa mudanya. Maka Man membawa Timah ke kampungnya, menempati rumah keluarga yang telah ditinggalkan pemiliknya. Man tidak mempunyai saudara perempuan. Tiga orang kakak laki-lakinya telah meninggalkan rumah dan tinggal di rumah istri masing-masing. Man lah yang mengurus segala- galanya, setelah kematian orangtua mereka.

Dua tahun berkeluarga, belum juga ada tanda-tanda bahwa Timah akan mendapatkan anak. Maka beredarlah desas-desus yang menyakitkan telinganya.

"Kualat, dikutuk orangtuanya."

"Rahimnya dingin."

"Mandul"

"Si Man yang tidak pandai."

"Ah...tidak pandai bagaimana pula, tinggal begitu saja."

"Si Timah yang mandul."

"Kedua-duanya yang tidak pandai..."

Banyak lagi kata-kata orang tentang belum beranaknya Timah. Tapi memasuki tahun ketiga kata-kata itu telah terhenti begitu saja setelah Timah hamil. Timah menuruti petuah orang di kampungnya, setiap hari makan sayur, taoge, dan bubur kacang hijau. Man dan Timah bahagia ketika menanti kelahiran anak mereka. Genap sembilan bulan lahirlah anak perempuan dari rahim Timah. Melihat bayi mungil itu, bertambah lengkaplah kebahagiaan mereka berdua.

"Biarlah hanya satu ini, sudah cukup untuk melanjutkan keturunan kita." Kata Man di suatu hari.

Anak itu tumbuh sebagaimana anak desa lainnya. Ketika berumur satu tahun, anak itu sudah ditinggal ibunya yang mengantar nasi ke sawah untuk ayahnya. Seperti itu juga dihari yang naas itu. Timah meninggalkan anaknya yang sedang tertidur di rumah. Dia pergi ke sawah mengantar nasi untuk suaminya. Saat sedang makan. Ada asap hitam dari kampung. Mengepul, membubung, merisaukan hati siapa saja yang memandangnya, Kerisauan itu semakin menjadi ketika angin membawa suara sayup-sayup orang-orang berteriak dari kampung.

"Kebakaran...!"

"Rumah Si Man terbakar..."

Dengan terburu, Man membawa istrinya pulang. Tapi mereka hanya menjumpai rumah yang tinggal puing-puing saja. Dengan mata kepala mereka, sepasang suami istri itu melihat seorang laki-laki mengeluarkan tubuh anak mereka yang telah gosong terbakar. Timah pingsan. Man tidak malu lagi menangis. Man dan Timah ditumpangkan di balai desa. Seminggu setelah itu, penduduk bergotong royong membuatkan rumah pada bekas rumah Man yang terbakar itu. Timah menurutkan sedih hatinya. Bermenung sepanjang hari, menangis berhiba hati. Dan... Timah gila.

Sudah sepuluh tahun seperti itu. Man dengan kesabaran penuh melayaninya, memandikan, memakaikan baju seperti anak-anak, memasakkan nasi, menyuapi selama sepuluh tahun lebih. Dan kesabaran Man terkikis habis. Makanya malam ini dia akan menemui Mak Sutan.

"Mak...apa pun yang terjadi aku telah siap menanggungnya, dunia dan akhirat. Aku sudah sangat lelah Mak, lelah jiwa raga. Aku kasihan padanya, daripada dia menanggung derita seperti ini, biarlah akhiri saja hidupnya, mungkin akan lebih baik dari pada dia tersiksa di dunia ini."

Man meminta tuba, untuk obat istrinya. Obat di atas segala obat untuk mengakhiri penderitaan di dunia.

"Berat..., berat risikonya Man...hidupmu tidak akan tenang, matimu tergantung di awang-awang, di akhirat di kerak-kerak neraka tempatmu."

"Semua telah kupikirkan Mak, tapi aku tak kuasa melihat dia menderita, biarlah Mak, semuanya akan kutanggungkan."

"Aku hanya menolongmu Man, maka jangan salahkan aku suatu saat kelak, datanglah kau tiga hari lagi, sementara aku mencarikan obatnya."

Man pergi meninggalkan pondok keramat Mak Sutan. Tiga hari dia bimbang, terombang-ambing akan pilihan yang telah dijatuhkannya. Di hari ketiga, pada hari yang telah dijanjikan Mak Sutan, dia ikuti saja langkah kakinya. Pergi ke rumah Mak Sutan meminta tuba.

"Campurkan dengan minumannya."

"Baik Mak."

Man pulang membawa resah. Bimbang dan takut belum juga pergi dari pikirannya. Tapi bisikan angin mengingatkannya pada waktu sepuluh tahun menemani Timah meneguhkan hatinya. Melepaskan Timah dari penderitaan dunia.

Seperti biasa, Man menyuapi istrinya. Memberi minum, dan kini memberi campuran tuba. Menjelang pagi, Timah mengejang, menggelepar, lalu pergi untuk selama-lamanya. Man menangis mengiringi kepergian istrinya. Walau bagaimanapun, Timah perempuan yang dicintainya.

Bukittinggi-Padang, 2005-2006

Ket:

1. Diinjak-injak (Bahasa Minang)


Last modified: 23/3/07