SUARA PEMBARUAN DAILY

Menyadari Keagungan Tuhan melalui ESQ

Dalam ruang gelap sebuah hotel, sekelompok orang diam terpekur. Dua layar lebar di depan mereka menampilkan gambaran bumi, planet dan matahari. Sejenak gambar itu berganti menampilkan bahwa matahari yang kita anggap sangat besar ternyata merupakan satu titik dari jutaan bintang yang tersebar di galaksi.

Isak tangis menggema ketika sang pelatih mengingatkan betapa dunia begitu luas. Manusia yang kecil tidak ada artinya, tetapi berani melakukan hal yang menentang Maha Pencipta. Merasa sebagai penguasa, manusia berani merusak alam dan melanggar ajaran-Nya. Padahal dibandingkan sang Khalik, manusia tidak ada artinya.

"Saya tidak dapat menahan emosi saat teringat apa yang sudah saya lakukan dulu. padahal kita begitu kecil. Ternyata ilmu yang kita sudah tahu sejak dulu ada kaitan dengan agama," kata Ira, salah seorang karyawan perusahaan jasa yang ikut dalam training Emotional Spiritual Quotient (ESQ) akhir pekan lalu.

Dengan alunan musik yang kadang lembut kadang menghentak, intonasi suara pelatih yang tepat, peserta dibawa kembali mengingat perbuatan- perbuatan yang telah mereka lakukan. Isak tangis pun kerap mewarnai ruangan tersebut.

Menampilkan gambar-gambar bintang dan galaksi di luar angkasa, sang pelatih mencoba menjelaskan bahwa Tuhan itu benar ada. Juga mengingatkan bahwa jauh sebelum muncul teleskop Hubble, Tuhan telah menunjukkan bagaimana bentuk nebula yang kemudian ditangkap teleskop itu.

Mungkin akan lebih dramatis bila sang pelatih juga menjelaskan fenomena alam berdasarkan penelitian Jhon C Mather dan George F Smoot yang menemukan cahaya purba yang menegaskan kembali teori Big Bang (ledakan besar).

Mendekatkan Diri

Melalui metode pendekatan spiritual, training ini sebenarnya mencoba mencari pendekatan lain dalam memaksimalkan kemampuan seseorang dengan mendekatkan diri pada Tuhan. Meningkatkan kinerja seseorang dengan meningkatkan sisi intlektualitasnya, hanya mampu mendongkrak maksimal hingga 20 persen.

Hasil cemerlang akan diraih bila seseorang mampu meningkatkan kemampuan emosional dan spiritualnya dalam bekerja. Dengan konsep apabila seseorang sudah mencapai titik ke- Tuhan-an atau suara hati yang sebenarnya sudah ada dalam diri, orang itu akan melakukan tugas dengan baik, sesuai jalur dan bisa meraih kesuksesan.

"Seseorang akan mencapai kepuasan dalam bekerja jika motivasinya bukan uang, jabatan. Kalau hanya itu motivasinya, kinerja akan turun setelah mendapatkan apa yang diinginkan," kata Syuhada yang saat itu bertugas menjadi pelatih.

Untuk itu katanya, kecerdasan emosional dan spiritual penting dalam meletakkan tujuan-tujuan hidup manusia bahwa bekerja sebenarnya bukan hanya sekedar materi. Meski ESQ selalu identik dengan sang penggagas, Ary Ginanjar Agustian, tetapi perkembangan training ESQ yang membludak membuat Ari tak selalu hadir di semua training.

Dijelaskan Syuhada, ada perasaan universal yang dimiliki setiap orang. "Suara hati yang universal itulah yang ada dalam titik ke-Tuhan-an," katanya. Tetapi tidak semua orang menyadari titik ke-Tuhan-an yang ada dalam diri karena ada belenggu hati yang membuat manusia menjadi buta. Belenggu itu adalah prasangka, prinsip hidup, pengalaman, kepentingan, sudut pandang, pembanding dan literatur.

Langkah pertama, yang harus dilakukan untuk mencapai titik ketuhanan adalah menghilangkan prasangka buruk. Prasangka buruk ini telah menjadikan manusia berpikir dengan tidak benar, dan prinsip-prinsip yang salah telah mendorong manusia untuk melawan suara hatinya.

Titik kedua yang harus dilakukan adalah berprinsip pada tuhan yang maha abadi. Ketiga, berpikirklah merdeka, bebaskan diri dari pengalaman yang membelengggu pikiran, dan berfikir dengan merdeka.

Keempat adalah kepentingan, bisa dilihat di mana orang yang berprinsip pada politik akan memikirkan sesuatu yang bisa langsung memberikan keuntungan secara politik.

Kelima adalah sudut pandang, dimana harus melihat sudut pandang secara bijaksana berdasarkan semua suara hati yang berasal dari sifat tuhan. Keenam, pembanding. Periksa pikiran terlebih dahulu sebelum menilai segala sesuatu jangan sampai melihat karena pikiran, bukan sesuatu apa adanya. Dan yang ketujuh jangan terbelenggu dengan literatur. Apabila tujuh hal itu sudah disingkap, titik ke-Tuhan-an telah dicapai dan Anda akan menyadari keagunga-Nya. [A-22]


Last modified: 9/3/07