![[Foto: Istimewa]](11proton.gif)
erambah pasar otomotif di Indonesia memang bukan perkara mudah. Hambatan yang pertama kali dihadapi tentu soal merek dagang. Pada masalah ini sudah tentu berlaku prinsip siapa yang pertama akan mendapat tempat terbesar di hati konsumen otomotif?
Selain itu, para pendahulu tentu lebih mudah mendapat kesempatan mengembangkan jaringan pemasarannya di Tanah Air. Hal ini juga terkait dengan perilaku dan keinginan calon konsumen di setiap daerah tertentu.
Tren pasar otomotif di Indonesia saat ini lebih mudah menyerap kendaraan jenis Sport Utility Vehicle (SUV) dan Multi Purpose Vehicle (MPV). Kedua jenis ini tentu tidak lahir begitu saja. Setidaknya, ada sejumlah dana dan waktu yang diinvestasikan guna memenuhi tuntutan riset tekno- logi mesin dan keinginan pasar kendaraan tersebut.
Seperti Perusahaan Otomotif Nasional (Proton) asal negara Malaysia yang akan segera meluncurkan dua jenis kendaraan unggulannya di Indonesia.
Dua jenis kendaraan itu yakni Satria Neo dan Gen-2. Proton optimistis, dua kendaraan ini akan menjadi pelopor masuknya produk-produk lain yang juga sudah dipersiapkan guna menggempur pasar otomotif Indonesia.
Seperti diungkapkan Managing Director Proton Holdings Berhad, Syed Zainal Abidin Mohamed Tahir kepada wartawan beberapa waktu lalu di Malaysia. Menurut, Syed Zainal, pihaknya akan masuk dengan cara yang lebih elegan yaitu memanfaatkan segmen yang masih kosong.
Contohnya, Satria Neo yang merupakan kendaraan perkotaan (city car) hatchback yang terdiri dari dua kapasitas mesin 1,3L dan 1,6L. Keunggulannya, kendaraan ini merupakan sedan tiga pintu yang diproduksi dengan dua jenis sistem transmisi, yakni manual dan otomatis.
Kendaraan ini, menurut Zainal, dirancang memiliki efisiensi yang tinggi dalam memanfaatkan bahan bakar. "Kami belum menetapkan secara pasti, namun kami perkirakan konsumsi minyak bakar diperoleh satu liter untuk 23 kilo meter," jelas Zainal mencoba memenuhi rasa ingin tahu para wartawan yang diundang mengunjungi
pusat penelitian dan pengembangan (Center of Excellence, COE) Proton di Syah Alam, Malaysia.
Kendaraan dimaksud menggunakan mesin DOHC tipe CamPro 4 silinder dengan 16 katup. Tipe mesin 1,3L mampu meletupkan daya dorong sebesar 94 tenaga kuda pada kinerja mesin 6.000 rpm. Sementara torsi maksimal 120 Nm sudah dapat dicapai pada 4.000 rpm.
Pada tipe mesin 1,6L memiliki dapur pacu yang mampu menyemburkan daya dorong sebesar 110 tenaga kuda pada putaran mesin yang sama yakni 6.000 rpm. Dengan kapasitas dan tenaga yang lebih besar tersebut, tentu tipe mesin ini akan memiliki torsi mesin maksimal yang lebih besar yakni 148 Nm.
Kendaraan ini juga mempunyai sistem power steering yang menggunakan sistem hidrolik. Perlengkapan kenyamanan mengemudi ini juga disempurnakan dengan pemanfaatan MacPherson strut dengan stabilizer bar pada sistem suspensi roda depan. Sementara, roda belakang menggunakan multi link yang juga dilengkapi dengan stabilizer bar.
Produk unggulan ini memiliki dimensi panjang 3,905 meter, lebar 1,710 meter, dan tinggi 1,425 me- ter. Berat kendaraan ini sebenarnya bervariasi pada setiap jenis transmisi. Kendaraan terberat untuk jenis manual 1,6L dengan bobot 1.184 kg. Sementara yang paling ringan yakni manual lima transmisi (5 MT) 1,3L dengan bobot 1.146 kg.
Sebenarnya, ada banyak catatan tentang kendaraan ini yang didapat pada saat Pembaruan ikut menguji Satria pada lintasan Test Track milik Proton Holding Bhd, di Kuala Lumpur beberapa waktu lalu. Salah satu yang paling menarik adalah tentang Automated Manual Transmision (AMT).
Transmisi
Berbeda dengan pabrikan kendaraan pengguna sistem transmisi otomatis lainnya, Secara keseluruhan, Satria hanya dirancang sebagai kendaraan pengguna sistem transmisi manual. Setelah terbentuk satu kendaraan, barulah sistem transmisi kendaraan kendaraan tersebut dikembangkan dengan menambahkan perangkat Hydraulic Accumulator dan beberapa peralatan sensor canggih sehingga dihasilkan Satria dengan sistem transmisi otomatis.
Dengan demikian, sistem transmisi otomatis tersebut akan lebih handal dan lembut saat digunakan. Terutama jika kendaraan mogok atau kehabisan bahan bakar, mobil dapat segera ditarik hanya dengan memindahkan tuas transmisi ke posisi netral.
Atau, jika mogok mesin, sementara tangki bensin masih terisi bahan bakar, maka mobil dapat dihidupkan dengan cara didorong dengan terlebih dahulu memposisikan tuas transmisi pada posisi netral. Kemudian, tuas transmisi otomatis dipindahkan ke posisi gigi satu pada saat mobil yang didorong sudah berjalan.
Selama ini, konsumen kendaraan roda empat di Indonesia sudah mengenal kendaraan tiga pintu, misalnya Civic Wonder. Namun, segmen kendaraan tersebut saat ini sedang kosong. Celah inilah yang kemudian dimanfaatkan pihak Proton dalam rangka membuka celah pasar kendaraan pribadi di tanah air.
Bila ada yang penasaran, debut kendaraan ini di Indonesia akan dilangsungkan pada tanggal 16 Maret tahun 2007 ini di Jakarta. Namun, pihak Proton sendiri belum bisa memastikan harga yang akan ditawarkan kepada konsumen di Indonesia. Begitu pula dengan nama Satria yang dinilai tidak cocok untuk pasar otomotif Indonesia karena sudah digunakan sebuah produk kendaraan roda dua. Di Malaysia, kendaraan ini dipasarkan seharga RM 43 ribu atau sekitar Rp 111,8 juta. [Y-5]