SUARA PEMBARUAN DAILY

Sosok

Albert Papilaya dan Keberanian Menepis Badai

Albert Reinhard Papilaya [Pembaruan/Marthin Brahmanto]

Nama Albert Reinhard Papilaya (56) tidak pernah terdengar di blantika tinju Indonesia sejak tahun 1980-an hingga sekarang ini. Nama itu baru muncul pada Januari 2007, ketika manajemen Chrisjon sedang kebingungan mencari seorang promotor, lalu dapatlah promotor wajah baru, pria kelahiran Tawaka, Saparua 12 Juni 1951 itu.

Waktu itu, Albert bertemu dengan dr Tommy Halauwet, Sekjen KTPI (Komisi Tinju Profesional Indonesia). Lalu Tommy membawa Albert bertemu dengan Wakil Manajer Chrisjon, Tony Priyatnas. Tony menyatakan dia amat prihatin atas ancaman WBA (World Boxing Association) yang akan melelang pertandingan itu bila Chrisjon tidak bertanding wajib pada 3 Maret 2007. Apa kata Albert atas keprihatinan Tony Priyatna tersebut?

Albert kemudian menjadikan keprihatinan Tony menjadi keprihatinannya. Pengusaha di bidang properti dan pendidikan itu melihat bahwa ancaman gelar Chrisjon ini tidak mendapatkan tanggapan serius, baik dari pemerintah, maupun dari pengusaha untuk mensponsori pertandingan tersebut. Dengan demikian Indonesia masih tetap memiliki seorang juara tinju dunia.

"Saya tergerak oleh keprihatinan itu. Maka demi Chrisjon, demi orang yang dilahirkan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa di bidang tinju ini, saya kira tidak ada salah saya buang uang sedikit untuk dia," jelas Albert saat menceritakan awal perkenalannya dengan manajemen Chrisjon.

Waktu itu kata Albert, dia tidak tawar-tawar lagi permintaan Tony Priyatna. Tonny mengatakan bayaran untuk Chrisjon US$ 200.000, dan bayaran untuk Rojas US$ 45.000. Sedangkan biaya penyelenggaraan keseluruhan termasuk penyelenggaraan adalah Rp 4 miliar lebih. "Saya tidak tawar-tawar lagi, meskipun kemudian setelah saya lihat di website WBA harga untuk Chrisjon itu mulai dari US$ 80.000 hingga US$ 120.000. Perjanjiannya saya lakukan hari itu juga," tutur Albert.

Namun, setelah melihat proses pencairan dana yang belum memungkinkan pada tanggal 3 Maret 2007, Albert meminta tunda dua minggu. Namun Tony mengatakan tidak bisa, karena nanti WBA akan mencopot gelar Chrisjon. Ternyata setelah ditanya ke WBA, dari sana diperoleh keterangan, bahwa tidak ada masalah menunda. Yang penting sudah ada promotor. Bahkan menunda hingga dua bulan pun tidak jadi soal, kata Perwakilan WBA di Asia, Alan Kim. Itu artinya, Albert tertipu oleh ketidaktahuannya sendiri di bidang pertinjuan.

Apakah Anda merasa terpojok oleh berita miring atas keterlambatan pembayaran? "Oh sama sekali tidak. Saya sudah bilang, saya tidak kapok. Demi bangsa dan negara, saya tetap menjadi promotor Chrisjon. Saya tidak ingin ada orang asing yang bilang promotor Indonesia tidak punya uang. Saya buktikan bahwa promotor Indonesia bisa buang uang tanpa perlu mendapatkan uang dari tinju," jelas Albert. Kalau soal kekisruhan dengan manajemen Chrisjon, Albert mengatakan, "Itu cuma salah paham, dikira saya tak punya uang. Mungkin kekeliruannya di situ," tuturnya. [W-6]


Last modified: 9/3/07