SUARA PEMBARUAN DAILY

SAM, Manajer Baru "Software"

[Foto: AP]

Software atau peranti lunak adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan bisnis di era globalisasi sekarang ini. Hanya saja masih banyak pimpinan perusahaan tidak menilai perangkat yang satu ini sebagai aset mereka. Tak heran jika ditanya ada berapa banyak software dan aplikasi program yang mereka miliki dalam perusahaan mereka ? Mereka tidak bisa menjawab. Bahkan ada juga yang menilainya sama dengan jumlah komputer yang ada.

Padahal, dalam satu prosesor (PC), biasanya terdapat banyak software. Mereka juga sulit menilai efisiensi dari software yang ada. Pasalnya, dalam PC tedapat beberapa aplikasi yang memiliki fungsi yang sama. Kurangnya pengetahuan itu tentu saja meningkatkan biaya belanja software perusahaan, terutama dalam hal pembelian lisensi. Kini ada SAM. Dia adalah manajer bagi software Anda.

Dia mampu mengorganisasi semua software yang ada pada PC. Sam juga dapat mengidentifikasi apa yang telah pengguna dapat dari sebuah software, dan juga informasi tentang lisensi software itu, sehingga pengguna dapat mengetahui apakah software ini telah dimilikinya atau belum.

Siapa kah SAM ? SAM adalah Software Asset Management (SAM) sebuah tools yang disediakan untuk mengatur peranti lunak sebagai aset. "Software itu sistem yang ada tapi tidak terasa sehingga sering kali tidak dianggap sebagai aset. Padahal CEO perlu tahu keberadaan software yang ada untuk dapat mengambil keputusan dalam hal pembiayaan penggunaan teknologi, efisiensi kerja serta mengatasi masalah legalitas lisensi," ucap SMB & P Director Microsoft Indonesia, Irwan Tirtariyadi dalam perkenalan program ini pada media, Senin (5/3) di Jakarta.

Program SAM ini sebenarnya sudah ada sejak awal tahun 2000 dan telah dipergunakan oleh para pelaku bisnis di Amerika dan Eropa. Namun baru diperkenalkan di Indonesia dua tahun kemudian. Kini Microsoft bahkan menyediakan program SAM secara cuma-cuma.

Fungsi SAM yang lain yakni membantu mencegah terjadinya kerusakan dan hal-hal lain yang mungkin saja berkaitan dengan hukum. Karena SAM dapat memberikan pemahamam ada berapa banyak, tipe-tipe software dan lisensi software apa saja yang dibutuhkan.

Selain itu memberitahu secara akurat apa yang pengguna butuhkan dan berapa anggaran biaya yang harus dikeluarkan saat membeli lisensi software. Dia juga memberi pengetahuan tentang software terbaru sehingga pengguna akan dapat memutuskan apakah peranti itu cocok dan dibutuhkan oleh bisnis atau tidak. Hal ini tentunya secara tidak langsung terkait dengan kebutuhan akan hardware.

"Dengan konsep SAM konsep good corporate governance akan terwujud," jamin Irwan.

Kemampuan SAM sudah dibuktikan oleh Rusmin Ten, Production Manager PT Mitsubishi Belting Indonesia. Dia sudah menggunakan SAM selama enam bulan. "Dengan SAM saya dapat mengontrol penggunaan lisensi dari software dalam perusahaan. Kami juga dapat mencegah penggunaan program yang tidak sesuai dengan kebutuhan peru- sahaan dan membuat kar-yawan nyaman bekerja," katanya.

SAM ini juga merupakan bagian dari kampanye edukasi anti pembajakan peranti lunak. Dalam hal pembajakan peranti lunak, Indonesia masih merupakan salah satu negara dengan tingkat pembajakan peranti lunak tertinggi di dunia. Menurut studi pembajakan peranti lunak tahun 2005 yang dilakukan oleh International Data Corporation (IDC), tingkat pembajakan peranti lunak di Indonesia mencapai 87 persen di tahun 2004. Ini berarti 87 dari setiap 100 peranti lunak yang di-install di komputer baru di Indonesia pada tahun 2004 adalah bajakan atau tak berlisensi, menempatkan Indonesia sebagai negara nomor lima dengan tingkat pembajakan peranti lunak tertinggi di dunia, dan ketiga di Asia.

Lebih lanjut lagi, menurut studi Economoy Impact IDC tahun 2003, diestimasikan bahwa penurunan pembajakan peranti lunak di Indonesia sebesar 10 poin dalam waktu empat tahun bisa menambah USD 1,9 miliar untuk perekonomian Indonesia dan menciptakan lebih dari 4.000 pekerjaan berteknologi dan berpenghasilan tinggi, di samping tambahan pendapatan pajak sebesar USD 100 juta dalam kurun waktu empat tahun.

Selain oleh Microsoft program pengamanan industri peranti lunak komersial ini juga dilakukan oleh Adobe, Andal Software, Apple, Autodesk, Avid, Bentley Systems, Borland, Cadence Design Systems, Cisco Systems, CNC Software/Mastercam, Dell, Entrust, HP, IBM, Intel, Internet Security Systems, Macromedia, McAfee, Minitab, PTC, RSA Security, SAP, SolidWorks, Sybase, Symantec, The MathWorks, Trend Micro, UGS, dan VERITASSoftware. [W-10]


Last modified: 10/3/07