SUARA PEMBARUAN DAILY

Cinta Berselimut Tipu Daya

[Foto-foto: Element Films]

Film: The Last Time

Pemain: Michael Keaton, Brendan Fraser, Amber Valletta

Sutradara: Michael Caleo

Produser: Malcolm Petal, Adam Rosenfelt, Peter Samuelson

Produksi: Element Films

Dalam lagu Sabda Alam, Ismail Marzuki bertutur tentang kodrat perempuan di dunia patriarki. Lemah, terkekang, tanpa daya. Namun, di bait terakhir, justru laki-lakilah yang terperdaya oleh wanita, meski secara kasat mata, mereka lebih berkuasa.

Kisah seperti itulah yang coba dihadirkan dalam The Last Time. Seorang pria dengan karir gemilang bisa jatuh terpuruk akibat cinta dan bujuk rayu yang ditawarkan seorang wanita.

Ted (Michael Keaton) adalah seorang salesman paling sukses di perusahaannya. Sekitar 70 persen penjualan yang berhasil didapatkan perusahaan merupakan kontribusinya. Namun, ia dikenal sebagai pribadi yang sinis, berlidah tajam dan tanpa basa-basi. Semuanya disebabkan pengalaman masa lalunya yang kelam di dunia cinta.

Suatu hari, seorang salesman baru, Jamie (Brendan Fraser) masuk menjadi junior Ted. Di kampung halamannya, Ohio, Jamie merupakan seorang bintang. Namun di New York, ia justru menjadi pecundang. Dengan Ted yang sinis, Jamie terus menerus gagal mendapatkan klien.

Depresinya kian bertambah karena ia berencana untuk menikah dalam waktu dekat dengan tunangannya, Belisa (Amber Valletta). Ted pun dikenalkan kepada Belisa. Sejak awal, ketertarikan antara keduanya sudah tampak secara intens. Perselingkuhan pun terjadi.

Namun itu semua menjadi bumerang bagi Ted. Rasa bersalahnya kepada Jamie membuatnya mencoba menolong Jamie untuk terus dipertahankan di perusahaan. Pekerjaan pun jadi terbengkalai karena Ted lebih menomorsatukan Belisa. Berbagai deal yang harus diselesaikan ditinggalkan begitu saja jika Belisa meminta untuk bertemu. Kondisi kian parah kala Jamie benar-benar dipecat dan gejala-gejalanya sebagai penderita depresi berat muncul. Ted kian lalai bekerja karena terus mengkhawatirkan keselamatan sang kekasih dan juga dirinya. Padahal, segala cinta dan perhatian Belisa ternyata hanyalah tipu daya belaka.

Sebagai sebuah tontonan, The Last Time bukanlah jenis film komedi romantis yang ringan dan mudah dinikmati sambil mengunyah sekantong popcorn. Aura film ini gelap. Humor-humornya pun penuh dengan satir, mengundang tawa namun terasa pahit.

Tokoh Ted yang getir dan berlidah setajam silet sangat tepat dimainkan oleh Keaton. Penampilannya yang cuek dan slengekan justru menjadi daya tarik sendiri. Padahal, sebagai seorang aktor, Keaton sudah tergolong tua, berusia 55 tahun. Secara fisik pun, ia kalah menarik jika dibandingkan lawan mainnya, Brendan Fraser. Namun, penokohan yang kuat dan kesinisan yang tampak di wajahnya justru membuatnya tampil memikat. Tokoh yang dimainkan Keaton memang terlihat menyebalkan namun seiring film berjalan, justru menawan dan meluluhkan hati.

Apalagi, latar belakang Ted digambarkan sebagai pribadi yang penyendiri tanpa teman. Di apartemennya pun, nuansa suram tampak jelas. Satu-satunya binatang piaraan hanya seekor ikan mas koki. Ikan selalu menjadi simbolisasi sifat dingin, cuek dan kesepian karena tidak bisa berinteraksi dengan sang pemilik layaknya kucing atau anjing.

Untuk tokoh Jamie yang penggugup, terlalu banyak omong dan penderita depresi, Brendan Fraser lumayan bagus memainkannya. Ia memainkan emosi penonton lewat peran ini. Di awal film, ia tampak memikat sebagai seorang pemula di dunia penjualan, dengan optimisme dan keramahan tinggi. Lama kelamaan, sosok tersebut hilang, berganti sosok depresi, cengeng dan pecundang. Di akhir cerita, sosok itu kembali berganti. Emosi penonton ikut terbawa, dari tertarik, sebal hingga muak.

Sementara Amber Valletta yang memainkan Belisa tampil biasa-biasa saja. Di sini, mantan supermodel dunia ini harus mau sedikit dieksploitasi secara fisik lewat adegan-adegan ranjang bersama Keaton. Namun kalau melihat akting, penampilannya tergolong standar. Ombang-ambing emosi yang harusnya dilalui Belisa tidak terlalu terlihat jelas. Hanya sosok penggoda yang selalu merasa bersalah yang tampil ke permukaan.

Secara keseluruhan, The Last Time cukup membingungkan jika Anda berharap akan menemukan film romantis dengan sentuhan komedi. Hadirnya Keaton dan Fraser yang cukup dikenal sebagai bintang komedi memang sangat menipu. Percayalah, ini bukan Beetlejuice atau George of the Jungle yang konyol.

Film ini butuh pemikiran, tidak mudah dicerna begitu saja. Kata-kata yang digunakan dalam dialog pun terkesan terburu-buru. Apalagi, bahasa yang digunakan didominasi kata-kata makian yang kasar, yang umumnya dilontarkan oleh Ted, si tajam lidah.

Apapun, sebagai referensi, The Last Time lumayan menarik untuk disaksikan. Lewat film ini, akting prima Keaton bisa dinikmati setelah penampilannya yang hanya sepintas lalu dalam film-film remaja macam First Daughter dan Herbie: Fully Loaded. Sungguh sayang jika dilewatkan, terutama jika Anda penggemar beratnya.

[Pembaruan/Irawati Diah Astuti]


Last modified: 10/3/07