
Judul Buku: The New York Times, Menulis Berita Tanpa Takut dan Memihak
Penulis: Ignatius Haryanto
Pengantar: Aristides Katoppo
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia (YOI), Jakarta
Cetakan I: 2006
Tebal Buku: vii-xxvi + 1-119 halaman
he New York Times (NYT) adalah satu di antara sekian banyak koran yang paling prestisius di Amerika Serikat. Koran yang berkantor pusat di New York ini tidak hanya terkenal di AS saja, tetapi juga di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Berita-berita atau liputan-liputan yang disajikan oleh NYT selalu menjadi rujukan dan referensi utama di seluruh dunia.
Sudah lebih satu abad NYT mengarungi bahtera jurnalisme di AS dan dunia. Hidup berdampingan dengan 20 presiden AS, mulai dari zaman Grove Cleveland (Presiden AS ke-24) hingga ke zaman George Walker Bush (Presiden AS ke-43). Menerima 90 buah penghargaan Pulitzer antara tahun 1918-2004. Sebuah pencapaian prestasi yang tidak bisa ditandingi oleh koran-koran lain di Amerika.
Integritas, kemampuan, reputasi dan vitalitas menjadi kata kunci di sini untuk menunjukkan bagaimana semangat dan kepedulian para wartawan NYT membawa mereka mengarungi zaman, disegani prestasi jurnalistiknya, bertahan hidup dari presiden satu ke presiden lainnya, membangun sistem kerja yang baik, dan pula menanamkan nilai penting kepada para wartawannya untuk menjadi yang terbaik.
Sejak didirikan pertama kali tahun 1851, dan kemudian diambil alih oleh Adolph Ochs tahan 1896, koran ini sudah mendeklarasikan kalimat yang menjadi acuan hingga sekarang, "to give the news impartially, without fear or favor" (menulis berita tanpa pandang bulu, tanpa takut, atau pemihakan). Untuk orang-orang di dalam koran NYT, kalimat Ochs itu sangat keramat, sama keramatnya dengan 10 perintah Allah yang diturunkan kepada Musa di Gunung Sinai (hlm. 43).
Sesuai Fakta
Reputasi NYT terletak pada tanpa takut dan ketidakberpihakan ini, begitu juga dengan reputasi profesional para staf dan wartawannya. Oleh karena itu, NYT dan anggota bagian pemberitaan, serta bagian editorial memiliki hasrat yang sama untuk menyajikan berita sesuai dengan fakta yang sebenarnya, tanpa harus menutup- nutupi jika itu memang layak diketahui oleh publik.
Prestasi paling fenomenal ketika NYT membongkar dokumen Pentagon Papers yang tebalnya mencapai 3.000 halaman. Dokumen yang berisi tentang skandal dan kebohongan AS dalam perang Vietnam itu didapat oleh wartawan NYT, Neil Sheen pada awal April 1971 dari Daneil Ellsberg, salah satu dari puluhan penulis Pentagon Papers.
Para petinggi di Departemen Pertahanan AS, seperti McGeorge Bundy dan Bob McNamara, menyatakan kepada Kongres bahwa AS telah memenangkan perang di Vietnam. Padahal, kenyataannya AS tidak pernah menang dalam perang Vietnam. Daneil Ellsberg merasa bahwa pemerintah AS dan Presiden Lyndon Johnson banyak melakukan kebohongan dalam laporan Pentagon Papers tersebut. Karena itu, ia merasa agar dokumen yang tertutup tersebut harus diketahui oleh publik
Pemerintah AS menuntut NYT untuk menghentikan lapor-annya dengan alasan "akan me-nyebabkan kerugian yang tak dapat diperbaiki bagi kepentingan keamanan AS". Namun NYT terus mempublikaskan.
Merasa tidak diindahkan, pemerintah AS melaporkan NYT ke pengadilan distrik New York untuk menghentikan publikasi itu. Atas nama kebebasan pers NYT boleh meneruskan laporannya. Peme- rintah AS tidak puas dan mengajukan banding. Di tingkat banding lagi-lagi NYT Mahkamah Agung memenangkan NYT.
Namun, tidak semua kisah NYT yang ditulis dalam buku ini adalah kisah sukses. Menurut Ignatius Haryanto, koran ini sempat mengalami kasus yang cukup memalukan dan meruntuhkan kredibilitasnya ketika wartawannya, Joyson Blair, menulis berita bohong tentang kisah Jessica D. Lynch yang ditawan tentara Irak. Belakang diketahui kalau laporan Blair yang dimuat di NYT pada April 2003 itu hasil jiplakan dari wartawan sebuah surat kabar di Texas.
Apa yang dilakukan NYT untuk memperbaiki kesalahannya ini patut dicontoh banyak media di dunia, termasuk Indonesia. Selain permintaan maaf secara terbuka, NYT memecat Blair per 1 Mei 2003, mengganti sejumlah redaktur dan juga membentuk Publik Edi-tor, lembaga yang menampung berbagai keluhan berkait dengan pemberitaan NYT.
Akhirnya, kita hanya berhara semoga kisah tentang koran NYT, dengan segala jautuh bangunnya itu, bisa memberikan inspirasi dan menggugah semangat bagi pers atau media di Indonesia untuk terus berprestasi dan berguna bagi kepentingan publik. Bukan semata-mata pada kepentingan bisnis, dan pemodal.
[Zamaahsari A Ramzah, mahasiswa Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta]