
Petugas memeriksa bangkai mesin pesawat Garuda Indonesia GA-200 di ujung landasan pacu Bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta, Kamis (8/3). Sementara di latar belakang tampak pesawat Adam Air melakukan pengereman di ujung landasan setelah mendarat. [AFP/Bay Ismoyo]
"Kami stres jika mendarat di Bandara Adi Sutjipto," ucap seorang pilot mewakili rekan-rekannya yang sering terbang ke Bandara Internasional Adi Sutjipto, Yogyakarta. Bagi mereka, Adi Sutjipto bukan bandara yang nyaman disinggahi. Bahkan sebenarnya tidak layak lagi sebagai bandara internasional.
"Jika ingin mendarat di R-09 (landasan 09), kami pasti mulai stres. Bandara itu banyak obstacle (penghalang) berupa bukit-bukit. Permukaan bumi di daerah itu juga tidak rata, terutama di mulut landasan yang seringkali ada down draft (lembah di udara) yang tiba-tiba bisa membuat pesawat amblas. Belum lagi panjang landasan yang pendek cuma 2.200 meter dan bergelombang," ungkap pilot senior yang berpesan tidak dicantumkan namanya itu kepada Pembaruan ,di Jakarta, Kamis (8/3).
Pilot lainnya yang bekerja di maskapai penerbangan asing menambahkan, selain panjang landasan yang pendek, juga permukaan landasan tidak rata, dan sempitnya apron. Belum lagi seringnya pesawat komersial terganggu untuk mendarat karena menunggu selesainya aktivitas pesawat latih TNI AU yang mengisi ruang udara.
Memang, walau dikelola PT Angkasa Pura (AP) I, bandara ini masih milik TNI AU. Sehingga aktivitas latihan militer kerap terlihat di sana.
Hampir semua pilot yang dimintai komentar menyebutkan, dari sejumlah ketidaknyamanan itu, soal down draft, pendeknya landasan, dan landasan bergelombang, menjadi bagian dari sekian banyak dugaan penyebab kecelakaan pesawat Boeing 737-400 milik Garuda Indonesia nomor penerbangan GA-200 di Bandara Adi Sutjipto, Rabu (7/3). Tentunya faktor human error (kesalahan manusia) sang pilot juga dominan.
Persoalannya, walau tidak nyaman, para pilot mau tidak mau harus sering terbang ke Adi Sutjipto. Soalnya, bandara ini merupakan salah satu bandara tersibuk dari 13 bandara yang dikelola PT AP I. Tentunya setelah Ngurah Rai (Bali) dan Juanda (Surabaya).
Panjang landasan bandara itu 2.200 meter, hampir mirip dengan bandara kelas II-A Selaparang (Lombok) yang memiliki panjang 2.100 meter. Padahal untuk kelas bandara internasional, seperti Ngurah Rai dan Juanda memiliki panjang landasan 3.000 m, atau Adi Sumarmo (Solo) dengan panjang landasan 2.600 m.
Layak Dipindahkan
Menurut R Gultom, pilot senior di sebuah maskapai penerbangan nasional, Bandara Adi Sutjipto yang berjarak sembilan kilometer dari pusat kota layak dipindahkan. Bandara itu sulit diperluas karena kondisi alamnya tidak mendukung, seperti sembunyi di balik bukit.
"Bandara ini memang dibangun oleh Belanda pada masa penjajahan, dan memang sengaja dibangun tersembunyi di balik gunung," tuturnya, Jadi, menurut dia, memang menyulitkan bagi pilot untuk mendarat di sana.
Wakil Kepala Cabang Bandara Adi Sutjipto, Aryadi mengakui, posisi bandara yang dihimpit bukit dan juga adanya gunung di sisi timur. Tetapi kalau soal panjang landasan, dia mengakui, tidak menjadi masalah. "Panjang landasan sudah cukup, jadi keluhan utama bukan soal panjang. Melainkan landasan yang bergelombang. Makanya prioritas utama kami adalah melakukan perbaikan permukaan landasan," jelasnya. [Y-4]