Marwoto Komar, pilot pesawat Garuda Boeing 737-400 yang terbakar di Bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta, Rabu lalu, yakin dapat mendarat dengan aman. Dia memilih mendarat dengan visual bukan dengan bantuan instrumen pendaratan.
[JAKARTA] Sirip di sayap kiri pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 200 yang membantu pengereman diduga tidak berfungsi. Hal itulah yang diduga menyebabkan kecepatan pesawat tersebut sulit diturunkan. Demikian informasi yang dihimpun Pembaruan, Jumat (9/3), terkait dengan kecelakaan pesawat itu, Rabu (7/3) lalu.
Presiden Asosiasi Pilot Garuda (APG) Capt Stevanus kepada Pembaruan, Jumat pagi, mengakui hal itu. Berdasarkan pembicaraan dengan pilot dan kopilot memang ada masalah ketika pesawat mengalami down draft (ambles di udara) seperti yang diberitakan harian ini, Kamis (8/3). Menurut dia, pengereman menjadi tidak efektif.
"Ada masalah di flaps (sirip) sayap pesawat. Flaps tidak bisa mengembang dan bekerja normal. Sementara pesawat melaju deras, menghantam landasan dan memantul. Sementara mesin pesawat menghantam landasan," kata Stevanus.
Keterangan lain menyebutkan, ada dua kemungkinan, pilot lupa membuka flaps atau memang sudah dibuka pilot, tetapi flaps itu tidak bekerja. Ketika mengalami down draft, kecepatan otomatis bertambah. Pesawat menghujam dengan posisi roda depan lebih awal menghantam landasan, hampir bersamaan dengan roda belakang. Dari hantaman roda depan yang patah dan gesekan logam itulah timbul percikan yang menyebabkan pesawat terbakar.
Dengan Visual
Sementara itu, Marwoto Komar, pilot pesawat Boeing 737-400 GA-200 yang terbakar di Bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta, Rabu lalu, yakin dapat mendarat dengan aman. Dia memilih mendarat dengan visual bukan dengan bantuan instrumen pendaratan.
Hal itu terungkap dari pembicaraan Marwoto dengan petugas pemandu lalu lintas udara (Air Traffic Controller/ATC). "Penerbangan normal, cuaca bersahabat, sama sekali tidak ada masalah ketika lepas landas dari Soekarno-Hatta ke Adi Sutjipto. Semuanya good morning (lancar)," ujar Sekjen Asosiasi Pemandu Lalu Lintas Udara Indonesia (Indonesia Air Traffic Controller Association/ IATCA), Kristanto kepada Pembaruan di Jakarta, Jumat.
Kebetulan Kristanto yang memandu pesawat itu lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta. Usai lepas landas, pemanduan diserahkan ke unit approach (APP). Perbincangan petugas APP dengan pilot juga normal. Saat ketinggian 9.000 kaki, Marwoto menyatakan dapat melihat daratan secara jernih.
Di ketinggian itu, Marwoto kembali menyatakan mampu melihat daratan dengan jernih. Begitu juga ketika berada di posisi 2.500 kaki. "Dia bilang clear. Jadi, pilot gunakan pendaratan visual tetapi tetap compare dengan instrumen pendaratan. Jadi bukan pendaratan full instrument. Makanya pesawat diarahkan untuk intercept long tunnel atau diarahkan luruh ke landasan 09 dalam posisi tujuh nautical mile dari landasan," ujar Kristanto.
Setelah itu, komunikasi dari APP dialihkan ke petugas ATC di menara kontrol Bandara Adi Sutjipto.
Kotak Hitam
Di Australia, Biro Keselamatan Transportasi Australia (ATSB) memastikan akan dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menganalisis sepenuhnya catatan penerbangan dalam kotak hitam.
Cockpit voice recorder dan flight data recorder telah diterbangkan ke Canberra hari ini dan akan dianalisis oleh pakar-pakar di ATSB.
Juru Bicara ATSB, Joe Hattley, menuturkan, kotak hitam pesawat Garuda itu tiba di Canberra pada Jumat siang ini, setelah diterbangkan dengan pesawat yang disewa Kepolisian Federal Australia dari Darwin.
Menurunkan data informasi dari kotak hitam itu membutuhkan waktu beberapa hari, kemudian informasi awal akan diserahkan kepada tim investigasi Indonesia.
"Sementara analisis lengkap baru selesai dalam beberapa bulan," ungkap Hattley, seperti dikutip Sydney Morning Herald.
Identifikasi Korban
Sebanyak 20 korban tewas akibat kecelakaan pesawat Garuda sudah berhasil diidentitikasi. Tinggal satu lagi korban berjenis kelamin perempuan yang masih diidenfisikasi.
Tim Forensik RS Sardjito dan Tim Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri memastikan dari ke-20 korban itu empat berasal dari ras Austronesia atau bangsa Eropa berjenis kelamin laki-laki. Sedang Juru Bicara Duta Besar Australia untuk Indonesia, Elizabet Oneil, yang terdaftar dalam manifes pesawat, tidak termasuk di antara yang sudah diindentifikasi.
Ketua Tim Forensik RS Sardjito dr Ida Bagus Surya Putra Pidada SpF, Kamis siang, mengatakan, dilihat dari morfologi tengkorak, gigi, bentuk rahang dan tulang, keempat korban berasal dari ras Eropa dan dipastikan dari Australia. Keempat korban, Mark Scott, Henry Morgan Saxon Mellis (tidak terdaftar dalam manifes), Allison Sudrajat (Presiden Ausaid), dan Brice Steel (wartawan).
"Henry Morgan memang tidak tercantum daftar penumpang. Tetapi, kami berhasil menemukan identintas atas nama Henry Morgan. Namun, untuk kepastiannya, kami tetap menunggu data dari Australia," ucap Ida Bagus. [Y-4/AP/Y-2/152]