SUARA PEMBARUAN DAILY

Lolos dari Maut setelah Berjuang 1,5 Jam

Memang kalau Tuhan sudah berkehendak, tidak ada suatu kekuatan apa pun yang bisa menentang atau menghalanginya. Karena Tuhan dapat berbuat sekehendak-Nya pada manusia. Inilah yang dinamakan takdir yang tidak bisa diubah oleh siapa pun. Namun, kalau bicara nasib, pasti saja dapat diubah bagi yang mau melakukan perubahan melalui perjuangan.

Inilah yang dialami Yarni. Wanita paruh baya ini, akhirnya berhasil merubah keadaan atau nasibnya. Melalui perjuangan panjang, dia berhasil lolos dari lubang maut.

Di tengah goncangan gempa yang menggetarkan Bukittinggi dan meruntuhkan ribuan kubik pasir tebing Ngarai Sianok, Selasa (6/3), Yarni (40) berjuang hidup hingga akhirnya berhasil selamat ditengah sayup-sayup suara adzan.

Ditemui di tenda penampungan di tengah lapangan hijau stadion sepak bola Ateh Ngarai, Yarni terlihat duduk dikerumuni suami dan ketiga anak lelakinya. Walaupun luka didahinya masih basah, Yarni masih sanggup menyunggingkan senyum menyambut mereka yang hendak menemuinya untuk sekedar berbagi cerita.

Sang suami, Anton Eka Putra (44) bersama anak laki-lakinya, Arif (13), Rahmat (8) dan Dimas (5) seakan tidak berhenti memandangi wajah istri dan ibu tiga anak ini.

Mereka seperti tidak percaya mukjizat atas bencana yang baru saja mereka lalui. Setelah mereka berempat melihat langsung dengan mata kepala sendiri, Yarni "luruh" ditelan longsoran ribuan kubik tanah tebing Ngarai Sianok. "Saya sangka istri saya sudah meninggal, karena rumah kami terban ke ngarai (jurang) Sianok. Namun kenyataannya beda. Istri saya masih hidup. Terima kasih Tuhan," kata Anton.

Bercerita perjuangannya 1,5 jam melawan maut, Yarni tidak hentinya merinding. Saat gempa ketiga yang cukup dahsyat, kisahnya, ia sedang berada di dapur untuk memasak makan siang bagi suami dan anak-anaknya. Tak ada perasaan curiga sedikitpun ketika itu, walau pintu dapur telah dibuka untuk antisipasi lari bila gempa kembali datang. Namun ketika gemuruh besar diiringi bergetarnya bumi, Yarni yang terkejut langsung menghambur ke arah pintu.

Tapi apa daya, belum sempat mencapai pintu, tanah tempat ia berpijak langsung amblas bersama ribuan kubik tanah ke dasar ngarai. Tidak ada satu pun benda yang bisa dipergunakan untuk menggapai, karena semuanya seakan meluncur begitu saja mengikuti arus longsoran.

Bisikan

"Ketika itu hanya gelap gulita yang terasa. Beberapa kali saya timbul tenggelam ditelan tanah dan tertimpa tembok dan kayu rumah. Namun saat tanah tidak lagi bergerak, ternyata saya tertimbun tanah hingga pinggang dan beberapa bagian rumah di sekitar kepala saya," kata Yarni dengan meneteskan air mata.

Hanya beberapa detik, Yarni kemudian mendengar suara adzan Dzuhur. Seketika itu juga muncul sebuah bisikan sugesti dalam dirinya saat mengingat suami dan anak-anak, bahwa ia harus selamat dan mesti berjuang dapat keluar dari kepungan ribuan meter kubik tanah tadi. Mulai detik tersebut, apa pun yang dapat diraih sebagai pegangan ia pergunakan.

"Terkadang saya terpaksa memeluk batang dadok yang berduri untuk sampai ke bibir jurang. Bahkan beberapa kali saya terjatuh dan kembali digulung longsoran tanah, tapi tidak sedikit pun menyurutkan keberanian dan niat untuk selamat. Saya yakin, Tuhan tidak menggariskan saya mati di sini," ungkap Yarni.

Selang 1,5 jam kemudian, sejumlah warga menemukan Yarni sedang menggapai keluar dari jurang, dan langsung menyelamatkan dan mengantarnya ke RSAM Bukittinggi guna mendapat perawatan.

Saat ini yang tersisa dari harta benda mereka sekeluarga adalah satu unit sepeda motor dan pakaian yang melekat di badan. Rumah mereka yang berukuran 6 x 9 m tidak ada lagi bentuknya, dan sekarang tidak tahu akan pindah ke mana.

"Kita harus berani memperjuangkan hidup kita bagi orang-orang yang kita cintai," katanya. [Pembaruan/Boy Surya Hamta]


Last modified: 9/3/07