[PADANG] Gempa berkekuatan 5,8 skala richter (SR) yang mengguncang Sumatera Barat (Sumbar), Selasa (6/3) mengakibatkan 295 sekolah rusak parah dan ribuan siswa telantar. Ribuan siswa sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan Sekolah Menengah Umum (SMU) itu tersebar di tiga wilayah, yakni Bukittingi, Tanah Datar, dan Solok. Mereka terpaksa tidak mengikuti proses belajar mengajar.
Hal itu dikemukakan Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Departemen Pendidikan Nasional, Fasli Jalal ketika meninjau lokasi gempa di Nagari Sumanik, Kabupaten Solok dan Nagari Gunuang Rajo Kabupaten Tanah Datar, Kamis (8/3) siang.
Data Dinas Pendidikan Sumbar menyebutkan, sebanyak 295 gedung sekolah rusak akibat gempa, terdiri dari 196 gedung SD, 63 gedung SLTP dan 32 gedung SMU. Ini merupakan persoalan serius yang harus segera dicarikan solusinya karena ujian nasional (UN) dan ujian akhir sekolah (UAS) hanya tinggal dua bulan lagi. Kalau tidak ada solusi konkret dikhawatirkan hasil akhir ujian di tiga daerah tersebut akan hancur.
Jangan sampai siswa-siswa tersebut terlantar. Untuk itu pihaknya menawarkan tiga solusi agar siswa tetap terus belajar. Pertama, memindahkan siswa ke sekolah yang gedungnya tidak rusak dan memaksimalkan waktu belajar dengan dua shif. Shif kedua digunakan untuk siswa yang gedung sekolahnya rusak.
Kedua, kalau lokasi di sekolah tersebut masih memungkinkan maka didirikan sekolah darurat. Tapi kalau tidak memungkinkan untuk hal itu baru kemudian didirikan sekolah tenda di pengungsian. "Jangan biarkan siswa ini tidak belajar. Mungkin saat ini mereka masih trauma. Namun, kita harapkan tidak berlangsung lama. Proses belajar mengajar harus tetap berjalan," katanya.
Ketiga, minta pemerintah daerah untuk menyiapkan data rinci berapa jumlah sekolah yang rusak.
Kepala Dinas Pendidikan Sumbar, Rahmat Syahni mengatakan, pihaknya akan secepatnya mendata dengan rinci terhadap gedung sekolah yang rusak.
Bantuan
Sementara itu, ribuan warga Kabupaten Solok, sampai Kamis (8/3) malam masih tidur di tenda pengungsian. Mereka nyaris kelaparan setelah dua hari tidak mendapatkan bantuan pangan. Padahal bantuan dari berbagai kalangan terus mengalir. Sebagian pengungsi baru mendapatkan makanan, Rabu (3/7) malam. Itu pun hanya dua bungkus mi instan setiap keluarga. Bukan saja makanan, bantuan selimut dan tenda belum juga memadai.
Menanggapi lambannya distribusi bantuan makanan kepada para pengungsi, Sekretaris Kabupaten Solok Suarman mengatakan, pihaknya telah mendistribusikan bantuan sejak Rabu (7/3) ke delapan kecamatan yang terkena gempa.
Komandan Lanud Tabing Padang, Letkol Penerbang Sugiharto Prapto ketika dihubungi Jumat (9/3) pagi di Padang menyebutkan, TNI AU akan mempercepat penyaluran bantuan kepada korban bencana gempa, terutama mereka yang berada di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Sementara itu, Gubernur Riau, HM Rusli Zainal, Kamis (8/3) menyerahkan bantuan bagi korban gempa bumi di Sumbar. Bantuan yang diberikan antara lain obat-obatan, 10 tenaga medis, 1.200 kardus mi instan, 35 paket baju, dan 30 unit tempat tidur.
Pemprov Sumatra Selatan mengirimkan bantuan Tim Satkorlak Bencana untuk ikut membantu masyarakat yang kini sedang menderita. Gubernur Syahrial Oesman, Kamis (8/3) memberangkatkan tim tersebut ke Kabupaten Solok hingga 15 Maret. [BO/MUL/W-8/133]