[JAKARTA] Pabrik Gula (PG) di Indonesia memiliki potensi untuk memproduksi limbah menjadi pupuk organic (bio kompos) 1 juta ton/tahun. Sekarang ini baru PG di Jawa Timur saja yang mengolah limbah dari proses tebu menjadi gula dijadikan pupuk organik dengan produksi 300.000 ton/tahun. Sedangkan PG di luar Jawa Timur belum memroses limbahnya menjadi pupuk organik.
"Teknologi pembuatan pupuk ini sudah dipatenkan dengan nama Bio Starno dan sudah digunakan untuk memupuk 125.000 ha tanaman tebu di Jawa Timur. Terbukti Bio Starno ini mampu meningkatkan produksi gula serta menyuburkan tanah", kata Prof. Ir. Wahono Hadi Susanto, guru besar pada Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang kepada Pembaruan Kamis (8/3), di Jakarta.seusai menyaksikan penandatanganan pemasaran pupuk ini antara produsen PT Limbah Jagad Lestari dengan Kamar Dagang dan Industri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Kadin UMKM).
Prof. Wahono mengatakan, dari pengalaman pemupukan organik di PG Jawa Timur, pupuk ini mampu meningkatkan kandungan organik di tanah dan tidak merusak lingkungan. Dalam waktu 5 tahun, tanah yang semula kandungan organiknya hanya 0,8 - 1 persen bisa naik menjadi 3 persen.
Dalam waktu 10 tahun diperkirakan bisa menjadi 5 persen. Otomatis kadar keasaman tanah (Ph) juga naik sehingga lahan ini bisa ditanami apa saja dan subur. Untuk mencapai kandungan organik 5 persen itu, pupuk nonorganik masih diperlukan walaupun dosisnya terus menurun.
Mengutip hasil penelitian ahli tanah Prof. Dr. Ir. Bambang Suharto, kandungan organik di lahan perkebunan tebu, tidak sampai 5 persen atau rata-rata 1,5 persen. Untuk meningkatkan menjadi 5 persen diperlukan waktu 20 tahun.
Itu kalau terus-menerus menggunakan pupuk organik dan pupuk nonorganik tetap digunakan tetapi dosisnya secara bertahap harus turun.
Kondisi lahan pertanian di Indonesia di tahun 1970, menggunakan 2 kuintal pupuk nonorganik/ha/tahun. Sekarang ini sudah 1,5 ton. Tentu saja menurunkan kandungan organik pada tanah yang sangat mempengaruhi tingkat produktivitas. Inilah salah satu penyebab rendahnya produksi pertanian di Indonesia. [R-6]