SUARA PEMBARUAN DAILY

Koesnadi, Profesor yang Demokratis

[YOGYAKARTA] "Papa bukan hanya milik kami, tetapi sudah milik bangsa bahkan milik dunia internasioal. Karena itu, yang berbangga kepada papa bukan hanya keluarganya," kata putri pertama almarhum Prof Dr Koesnadi Hardjasumantri, drg Indira Laksmi (48) saat menunggui jenazah ayahnya di Balairung Universitas Gadjah Mada (UGM), di Yogyakarta, Kamis (8/3) pagi.

Koesnadi yang lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat pada 9 Desember 1926 sampai akhir hayatnya tetap mengabdikan diri pada dunia pendidikan dan menjadi guru besar hukum lingkungan Falkutas Hukum UGM.

Indira mengakui ayahnya adalah sosok yang demokratis."Waktu saya kecil, papa tidak melarang saya ikut pesta-pesta, tetapi dia membeberkan efek buruk dan baiknya, dan saya dibebaskan untuk menelaah," katanya mengenang.

Putra pertama dari lima saudara pasangan RG Hardjasoemantri dengan RHE Basriah itu memulai pendidikannya di HIS Bandung.

Ketika Prof Dr Fuad Hasan menjabat Mendikbud, Koesnadi ditunjuk sebagai rektor UGM. Dia menciptakan transparansi, keterbukaan, kesamaan dan kemitraan.

Sewaktu Koesnadi mengakhiri masa jabatannya sebagai rektor, mahasiswa enggan melepaskannya.

Menerima pedagang kaki lima di lingkungan kampus, barangkali adalah hal yang biasa. Tetapi menjadi sangat tidak biasa jika penerimaan itu dilandasi dengan surat keputusan (SK) Rektor, dan setiap pedagang memperoleh legitimasi penuh serta areal yang layak.

Terima Kritik

Koesnadi banyak dikenang oleh kalangan civitas akademika UGM sebagai pendidik sejati. Dia tampil sebagai sosok yang terbuka dan mau menerima kritik dari bawahannya, termasuk para mahasiswa.

Mantan aktivis mahasiswa Bonar Tigor Naipospos mengenang Koesnadi sebagai sosok yang demokratis dan kebapakan. "Ia banyak memberi angin kepada teman-teman mahasiswa dan sering mengajak mahasiswa berdialog," tuturnya.

Koesnadi berpendapat, kampus harus menjadi tempat yang dinamis dan punya pandangan bahwa mahasiswa tidak boleh buta politik. "Memang mahasiswa jangan berpolitik praktis di kampus tetapi bagi Pak Koes mahasiswa harus memahami kondisi politik negerinya," tuturnya.

Koesnadi memegang jabatan rektor UGM di saat aksi-aksi mahasiswa marak mengkritisi kondisi sosial, politik di masa pemerintahan Soeharto pada era 1980-an. Di tengah sistem politik yang represif, Koesnadi tidak ikut-ikutan menekan mahasiswa. Dia justru menyikapi dengan bijaksana demonstrasi-demonstrasi yang juga diikuti banyak mahasiswanya. Malah terkesan banyak memberi angin bagi ruang-ruang demokrasi di kampus.

Tewasnya Koesnadi, juga membuat kalangan pramuka berduka cita. Bukan hanya pramuka di Indonesia, tetapi juga kalangan kepanduan Asia-Pasifik. Kak Koesnadi, panggilannya di kalangan pramuka, memang merupakan salah satu tokoh senior dalam Gerakan Pramuka.

Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Azrul Azwar kepada Pembaruan di Jakarta, Kamis (8/3) pagi, mengatakan, dunia kepramukaan Indonesia sangat kehilangan salah satu tokoh besarnya.

"Almarhum Kak Koesnadi sudah berpuluh-puluh tahun mengabdi secara sukarela di Gerakan Pramuka," kata Azrul. [152/Y-2/B-8]


Last modified: 8/3/07