SUARA PEMBARUAN DAILY

Saatnya Menangkal Situs Porno

Ahlul Paradish [Pembaruan/Fuska Sani Evani]

Internet sekarang ini adalah bentuk kemudahan mendapatkan informasi. Bentuk informasi itu bisa berupa berita, gambar dan suara. Semua bentuk informasi tersebut bisa diperoleh tanpa batas melalui internet, dari penjuru mana pun di dunia.

Kemudahan teknologi ini pada akhirnya bisa dilakukan oleh siapa pun, termasuk anak kecil. Masalah pun kemudian muncul dari kemudahan itu, apalagi kalau bukan tentang situs-situs web yang belum pantas mereka akses seperti misalnya, situs-situs web yang memuat tentang pornografi.

Untuk itu butuh penangkalnya agar situs-situs tak pantas itu tak terakses. Menangkal situs porno dibutuhkan teknologi yang terus ter-up-grade dan terus di-up-date, juga dibutuhkan keikhlasan dari banyak pihak untuk menghentikan situs-situs berbau pornografi tersebut.

Baru-baru ini, Ahlul Paradish seorang pelajar di Yogyakarta, berkreasi membuat penangkal situs porno (Pembaruan, Selasa 27/2). Penangkal ini berupa web filtering. Ahlul memang bukan orang pertama yang menciptakan web filtering, namun yang dilakukannya, menunjukkan kepekaannya sebagai pemuda.

Menurut Roy Suryo pengamat multimedia, selain para pembuat web filtering, di internet, sekarang sudah disediakan program blocking saat melakukan browser. Dia mengingatkan, kata kunci untuk mengakses situs-situs porno itu pun, tidak lagi menggunakan kata-kata seperti seks, nude atau bugil. Banyak yang menggunakan nama samaran yang sekilas isinya jauh dari pornografi.

Sementara itu, Product Manager untuk Windows Client PT Microsoft Indonesia, Hermawan Sutanto baru-baru ini mengatakan, pornografi menjadi perhatian khusus Microsoft sehingga perusahaan pembuat peranti lunak itu, dalam Windows Vista terbaru, membuat fitur Parental Control.

"Melalui Parental Control ini, para orangtua bisa men-setting komputer untuk tidak bisa diakses anak-anak, pada jam tertentu, situs web tertentu dan semua riwayat situs-situs web yang pernah dibuka maupun dicoba buka. Dengan fitur ini, hal-hal yang tidak diinginkan seperti pornografi dan kekejaman, bisa dicegah dibuka oleh anak-anak," paparnya.

Dia menambahkan, web filtering untuk mem-blocking situs-situs web yang tidak semestinya dibuka, memang terus diciptakan. "Menggunakan web filtering tidak salah, namun, memang harus terus di-up-date dan di-up-grade," katanya.

Semua bentuk informasi termasuk hal yang berbau pornografi bisa diperoleh tanpa batas melalui internet, dari penjuru mana pun di dunia. [Foto: Dok Pembaruan]

Terpulang Pribadi

Sementara itu, pengamat pendidikan Dr Ki Supriyoko mengomentari bahwa era keterbukaan seperti sekarang dan kemudahan yang didapat dari teknologi memang banyak efek sampingnya. Namun seberapa besar pengaruh itu, terpulang kepada pribadi si anak. "Orangtua di rumah bisa saja mem-protect komputernya atau selalu menggeledah kamar si anak. Tapi siapa yang tahu apa yang dilakukan anak di luar rumah? Nah itu jadi PR kita bersama, bahwasanya bagaimana menciptakan generasi yang imannya tebal, itulah yang susah. Kalau mau ngerusak gampang, tapi membuat baik itu susah," katanya.

Lalu jika ada remaja bahkan anak yang gandrung terhadap situs porno lantas orangtua yang salah? Ki Supriyoko tidak bisa membenarkan pendapat ini, karena keterbatasan dan zaman yang sudah berbeda. Si anak atau remaja saat ini, sangat berbeda dengan remaja zaman dulu.

"Sekarang tinggal klik di warnet, hanya Rp 3.000 per jam atau main di rental play station, dengan Rp 2.000 per jam, si anak akan bergumul dengan dunia maya. Mau tidak mau, apa yang diserap dalam dunia maya itu, terekam dalam otak dan akan muncul sebagai sikap," katanya.

Bagaimana dengan orangtua menyikapi hal itu? Ida Yani, seorang jurnalis di Ibu Kota memaparkan bahwa dua anak lelakinya yang kini sudah duduk di bangku kuliah, semasa SMA-nya pun sempat mengalami berbagai permasalahan. "Cuma kita sebagai orangtua, harus bisa memosisikan diri sebagai sahabat yang siap menjadi tempat sampah bagi anak," katanya.

Sesuatu yang ditabukan, atau ditutup-tutupi, justru semakin harum bagi anak, karena itu, Ida lebih memilih blak-blakan pada anak sesuai dengan umurnya.

"Anak SMA bahkan, SMP punya hasrat yang begitu mendalam terhadap seks dan lawan jenisnya. Kalau tidak segera dikenalkan dengan anatomi tubuh lawan jenisnya, mereka akan mencari-cari sendiri. Saya tidak setuju dengan orangtua yang menganggap seks adalah tabu. Tidak ada yang tabu jika dikemukakan dengan benar, khususnya antara orangtua dan anak," ujarnya.

Ida yakin, yang tabu bukanlah gambar atau pengetahuan soal seks itu, tetapi apa yang muncul sesudahnya atau perbuatannya. "Kita tahu bahwa anak yang sehat, pasti punya fantasi dan imajinasi yang luar biasa, karena itu perlu kita arahkan. Melarang, sama sekali bukan jalan keluar, tetapi pendekatan dari hati ke hati," ujarnya.

Ida juga mengungkapkan, kedua anaknya memang mengakui pernah membuka situs porno di warnet, tetapi mereka mengaku sekadar penasaran.

"Nah, kita harus menyatakan, bahwa berhubungan seks itu memang pasti ada karena memang hanya ada dua jenis kelamin. Tetapi yang perlu diingat, seks yang indah adalah yang berasal dari Tuhan atau bersama seseorang yang dicintai dan resmi di hadapan Tuhan," tegasnya. [Pembaruan/Fuska Sani Evani]


Last modified: 2/3/07