![Jerry Aurum [Pembaruan/Dwi Argo Santosa]](26persoj.gif)
ertemu Jerry Aurum yang pertama terlintas di benak adalah wajahnya yang mirip bintang Indonesian Idol, Delon. Ia kelahiran Medan, 26 Mei 1976. Berarti 31 tahun. Di usia yang tergolong muda, bungsu dari tiga bersaudara itu sudah mandiri dalam arti membuka usaha sendiri.
Dua perusahaan atas namanya yakni Jerry Aurum Photography dan Jerry Aurum Design. Maklum, lulusan Komunikasi Visual Desain Grafis ITB 1999 itu selain piawai soal grafis juga seorang fotografer, kontributor foto untuk beberapa media, serta pembicara di berbagai seminar.
Lahir dari keluarga mampu tak membuatnya hidup serbamudah. Orangtuanya telah mendidik mandiri sejak kecil. Setelah menamatkan bangku S-1 dengan prestasi cum laude ia hengkang ke Jakarta mencari kerja. "Uang saku dari orangtua berhenti saat saya lulus, karena itu saya harus kerja," ujarnya saat ditemui di studionya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Sempat bekerja di perusahaan desain grafis sekitar empat bulan, keinginannya untuk menjadi bos bagi diri sendiri mengantarnya merintis usaha hingga perusahaannya sebesar sekarang ini.
Di antara kesibukan kerjanya, sebuah proyek idealis masih sempat ia gagas. Itulah awal hingga muncul Femalography, sebuah kumpulan karya yang menjadi sebuah buku dan kemudian karya itu dipamerkan.
Femalography, gabungan female dan photography, merupakan foto-foto mengenai perempuan. Perempuan menjadi tema utama karena tema itu abadi, tak usang oleh waktu. Jerry yang memegang kamera sejak usia dua tahun itu mengaku sangat dekat dan mengagumi sang ibu. Karena itu dalam bukunya, ditulis for the most inspiring female: mother. "Saya lebih banyak ngobrol dengan ibu mengenai berbagai hal dan ia banyak menanamkan nilai-nilai kehidupan hingga membuat saya seperti sekarang," katanya.
Dari sang ibu, ia mengerti kesetaraan gender. Perempuan dalam proses penciptaan karya seni bagi Jerry adalah subjek, bukan objek. Pemuda lajang itu begitu menghargai perempuan sehingga tertarik untuk menggalinya lebih dalam melalui karya fotografi.
"Potret perempuan cenderung tidak punya integritas dan kurang dihargai. Semacam objek yang dieksploitasi. Saya melihatnya dari sisi yang berbeda, yaitu sebagai subjek yang aktif," ujarnya.
Anak pasangan Walter Wirianta dan Rosina Ghozali itu memilih berkolaborasi dengan visi, ide, dan semangat perempuan-perempuan yang dipotretnya. Ia memberi contoh pemotretan pebalet kembar, Adella dan Aletta. Tarian seperti apa yang akan muncul dalam foto? Kedua ballerina itu pun bercerita mengenai balet. Hasilnya, penari dan fotografer itu sepakat ingin membuat sebuah gambar balet yang semarak, tidak syahdu. Maka, jadilah Summer, dua balerina tengah beraksi di antara taburan daun hijau.
Pameran di Singapura
Pada sejumlah karya Jerry tentu saja muncul kesan sensual yang di negeri ini bisa-bisa diterjemahkan sebagai pornografi. Mengenai hal itu, ia berpendapat bahwa sebuah karya seni yang baik mampu membuka ruang dialog atau diskusi. Dari sana akan muncul apresiasi sehingga sebuah karya tidak berhenti hanya untuk dinikmati tetapi juga mendidik penikmatnya (baca: masyarakat) dalam berkesenian.
Meski demikian, ia tetap bijak dengan tidak serta-merta menggelar semua karyanya. Ia memilih karya mana yang patut dipajang, tamu yang diundang serta tempat pameran yang tepat.
Karena itu pameran pertama sekaligus peluncuran bukunya dilakukan di Singapura. Negeri Singa itu dipilih karena memang perizinan gampang. Tiga jam setelah mengajukan proposal, ia mendapat jawaban. Berbeda dengan pengalamannya saat hendak menggelar pameran di Galeri Nasional, Jakarta. Enam bulan setelah ia mengajukan proposal, jawaban tak kunjung tiba.
Negeri tetangga itu juga sebagai tolok ukur, seperti apa apresiasi pencinta seni terhadap karyanya. "Kalau saya diterima di sana, otomatis di sini mestinya terima juga. Sebaliknya, bila di sana sambutannya kurang maka akan lebih gampang mengevaluasinya untuk ditampilkan di Indonesia. Di sana juga banyak orang bertemu dari berbagai belahan dunia," ujar pengidola fotografer kondang Nick Knight dan David LaChapelle itu.
Apakah Singapura dipilih juga karena di sana lebih bebas berekspresi? "Di Singapura jangan dikira bebas begitu saja. Di sana juga ketat tapi aturan dan koridornya jelas. Bila memang sebuah karya seni dan di ajang pameran, tak masalah. Bayangkan, waktu itu saya berpameran di gedung Ministry of Information, Communications and Arts (MICA) Singapura," katanya.
Sebanyak 42 karyanya dipajang di MICA pada September 2006. Pameran dan peluncuran buku itu mendulang sukses. Komunitas seni, selebriti, pelaku bisnis papan atas dan para sosialita menghadiri pembukaannya. Femalography juga mendapatkan ulasan menarik dari berbagai media di sana seperti Arts Central Channel, Photo Video Magazine dan Today Newspaper. Borders Bookstore menobatkan bukunya sebagai 2nd Best Recommended di bulan Desember 2006.
Menurut rencana, pameran di Jakarta akan digelar di Senayan City pada 23 Februari ini. Tak berhenti sampai di sini, Jerry berencana akan memamerkan karyanya di Sydney, London, serta New York.
"Saya ingin ini menjadi pameran tunggal dalam bidang foto yang terbesar yang pernah diadakan selama ini," ungkapnya antusias. Bila sudah begitu, tentu tak hanya nama Jerry semata yang dipandang dunia.
Kocek Sendiri
Apa yang kini ia lakukan sekali lagi adalah proyek idealis yang tak hanya mencari keuntungan materi semata. Ia merogoh kocek sendiri untuk mempersiapkan segalanya. Karena itu tak mengherankan bila karyanya itu terkumpul setelah lima tahun. "Maklum untuk sebuah misi idealis seperti ini biaya sendiri sehingga persiapan tergantung kondisi kantong," ujarnya tertawa.
Ia juga bersyukur banyak orang yang membantu sehingga apa yang ia angankan menjadi kenyataan. Perempuan-perempuan yang diabadikannya bersedia berpose di depan kameranya tanpa bayar. Mengapa?
"Saya tahu bahwa mereka yang bergelut di dunia entertainment dan seni, rata-rata mempunyai apresiasi positif apalagi bila mereka ikut serta di dalam penciptaan sebuah karya seni," katanya.
Selama lima tahun pembuatannya, Femalography mendapatkan kontribusi dari lebih 100 orang yang mempunyai talenta berbeda-beda, mulai dari artis, model, penata rias dan rambut, desainer pakaian dan sebagainya. Mereka itu antara lain Rachel Maryam, Aline, Dian Sastro, Dinna Olivia, Endhita, Adella-Aletta, VJ Cathy, Indah Kalalo, dan Sausan.
Alhasil, foto-foto Jerry merupakan karya cipta fotografi konseptual yang teraspirasi dari keindahan wanita. Eksplorasi Jerry dalam proyek ini telah memberi bentuk dan nilai baru dalam anatomi fotografinya, sekaligus dalam caranya menghargai keberadaan wanita.
Lalu ia berharap, "Saya tidak pernah berani mengatakan bahwa karya saya lebih baik dari yang lain, tetapi kita harus berani membuktikan bahwa kita mampu mewujudkan impian dan memberikan inspirasi dan semangat bagi komunitas di sekeliling, walaupun usia kita masih muda." [Pembaruan/Dwi Argo Santosa]