[PONTIANAK] Pabrik gula mini yang berada di Kabupaten Sambas masih kesulitan modal untuk mengembangkan usahanya. Jika tidak ada suntikan dana, tidak menutup kemungkinan pabrik gula tebu yang berkapasitas kecil milik Pemprov Kalbar itu akan sulit berkembang. Hal itu dikatakan H Masud Sulaiman, Ketua Koperasi Sari Nira sebagai pengelola pabrik gula putih mini kepada Pembaruan, di Pontianak, Minggu (25/2).
Pada awalnya pabrik gula putih dengan kapasitas mini dibangun dengan dana dari bantuan presiden (Banpres) 1979. Setelah dibangun, pernah ditutup pada 1987 dengan alasan yang tidak diketahui masyarakat. Padahal pabrik itu sudah menghasilkan gula putih. Walaupun sudah ditutup pemerintah, masyarakat tetap menjalankan aktivitas pabrik, tetapi dengan permodalan yang sangat kecil dan terbatas, katanya.
Dikatakan, untuk meningkatkan kapasitas dan produksi gula, pihaknya sedang merencanakan untuk melakukan perluasan kebun tebu. Sebab, saat ini kebun tebu yang sudah ditanam mencapai 128 hektare (ha) dan ditargetkan lahan mencapai 600 ha. Saat ini yang perlu dilakukan adalah menambah mesin. Sebab, peningkatan produksi dapat dilakukan jika mesin diganti atau ditambah.
Hal itu sangat perlu karena, selain untuk peningkatan produksi gula, masyarakat Sambas juga berharap agar pabrik gula tidak tutup. Sebab, pabrik gula banyak memerlukan tenaga kerja. Oleh sebab itu, uluran tangan atau perhatian pemerintah dan swasta terhadap pengembangan pabrik tebu mini ini sangat diharapkan sehingga berkembang dan menghasilkan tebu yang dapat dijadikan produk unggulan Kabupaten Sambas. [146]