SUARA PEMBARUAN DAILY
Harga Beras Mahal

Masyarakat Pandeglang Konsumsi Umbi-umbian

[SERANG] Ratusan warga di Desa Citeluk, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Pandeglang, Banten, kini hanya mampu makan umbi-umbian karena kehabisan stok pangan dan mahalnya harga beras di pasaran. Warga hanya mampu makan sekali dalam sehari guna menghemat persediaan pangan yang ada.

Habisnya stok pangan ini berawal dari bencana kekeringan yang terjadi September-Desember 2006. Selain itu, kondisi warga diperparah dengan melonjaknya harga beras di pasar.

Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Provinsi Banten, Sriyatno Haris Dharmoko, di Serang, Minggu (25/2) menjelaskan, kesulitan bahan pangan yang dialami warga Pandeglang itu sudah berlangsung selama dua bulan terakhir ini. Namun, ironisnya, hingga kini warga belum mendapat bantuan dari pemerintah maupun pihak lainnya, termasuk jatah beras untuk rakyat miskin (raskin) yang sudah digratiskan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang.

"Jatah raskin 20 kilogram (kg) per bulan juga belum mereka terima. Padahal, mereka sangat membutuhkannya. Sebab, untuk membeli beras dengan harga operasi pasar ternyata mereka tidak mampu," ujarnya.

Melihat kondisi masyarakat yang sangat memprihatinkan itu, Partai Demokrat Banten dan Pandeglang, Sabtu (24/2), memberikan bantuan berupa 600 paket sembako yang terdiri dari beras, mi instan, minyak goreng, sarden, gula dan lainnya.

"Bantuan sebanyak itu hanya bersifat sesaat dan tidak bisa membantu mereka dalam jangka panjang. Namun, karena saat ini sembako yang mereka butuhkan, kita beri mereka sembako," ujar Koordinator Pelaksana Bakti Sosial Partai Demokrat Banten ini.

Ia berharap, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten maupun Pemkab Pandeglang turut membantu bahan pangan. Selain itu memberikan bekal pendidikan pertanian dan bantuan bibit tanaman, mengingat sebagian besar masyarakat Desa Citeluk terdiri dari petani dengan lahan yang cukup subur dan luas, sehingga warga tidak kekurangan makanan lagi. [149]


Last modified: 26/2/07